iklan 1

Keluarga Pinus

 


Keluarga Pinus

-caritas-

          Bagaimana rasanya memiliki banyak anggota keluarga? Begitu Bahagia? Begitu senang? Begitu ramai? Ini adalah cerita keluarga ku, keluarga pinus yang terdiri dari ayah ibu dan empat orang anaknya. Kenapa bernama keluarga pinus? Saingan keluarga cemara ya? Tidak juga, ini berawal ketika pertemuan pertama ayah dan ibuku saat masa-masa kuliah pertama kali di universitas di Surabaya. Ayah ku bernama Januar, bertemu dengan Ibuku, Tania di kantin sekolah tepat di bawah pohon pinus pertama kalinya. Saat itu tidak sengaja ibuku salah ambil pesanan bakso miliknya yang seharusnya adalah milik ayahku. Mengapa itu milik ayahku? karena Bakso itu dipesan khusus, “yang banyak ya  jeruk nipisnya bude dan pedes banget” Itu adalah spesial order bakso kesukaan ayahku. Rasa yang pedas dan sedikut kecut karena asamnya jeruk nipis akan membuat terasa aneh di lidah orang – orang normal pada umumnya, namun tidak bagi ayahku sang pecinta bakso pedas kecut. Sontak ibuku memuntahkan isi bakso yang baru saja ia makan setelah merasakan rasanya. Ayahku terheran-heran, dan Bude penjaga kantin meminta maaf karena salah memberikan pesanan bakso ke pada ibuku. Begitulah awal perkenalan mereka, dengan Ibuku yang menyukai bakso normal seperti pada umumnya dan ayahku dengan bakso pedas kecutnya, sungguh pertemuan yang tidak terduga.

          Hasil pernikahan kedua orangtuaku itu melahirkan diriku, Joko sebagai anak pertama. Aku memiliki wajah ayahku, persis sekali mulai dari jenis rambut lurus dan sedikit jarang, badan tidak terlalu tinggi, kulit sawo matang, kurus dan banyak makan. Aku memiliki sifat pendiam yang sama persis dengan ayahku, namun kalau sudah mengenal diriku aku lumayan supel orangnya. Cukup perkenalan diriku, diurutan nomor dua dalah adik laki – laki ku bernama Firman, ia memiliki bentuk fisik sama persis dengan ibuku. Orangnya rame dan asik banget. Konon katanya ia dilahirkan karena ayahku kasihan sekali dengan diriku seorang yang sudah pendiam, tidak punya teman bermain lagi. Maklum saat itu kami masih tinggal di kontrakan yang cukup jauh dari keramaian kota sebelum akhirnya ayahku bisa membeli rumah baru meskipun dengan cara dicicil. Untungnya Firman lahir dengan tubuh yang sedikit chubby sehingga setiap orang yang bertemu dengannnya sangat ingin memeluk dan mencubit pipinya Firman. Firman kecil tumbuh menjadi besar dan ternyata dia adalah salah satu adik yang paling bandel dan sulit diatur. Posturnya yang besar membuatnya menjadi lawan yang tangguh bagiku ketika kami berantem karena berebut  mainan atau jajanan. Firman sendiri punya kebiasaan minum susu yang sangat banyak, berbeda dengan diriku yang sangat tidak suka susu, apalagi susu sapi. Tentunya saja ini membuat Firman semakin makmur badannya dibandingkan dengan aku sang kakak.

          Diurutan ke tiga lahirlah Sinta, adik perempuan pertamaku. Kami sekeluarga sangat bahagia karena ini pertama kalinya ayah dan ibuku bisa memiliki seorang anak perempuan. Ibu ku tentu saja sangat bahagia karena akhirnya ia memiliki teman wanita di rumah. Sehingga sekarang predikat paling cantik tidak harus disematkan kepada Ibuku lagi. Sinta sangat mirip dengan diriku, ia memiliki bentuk wajah mirip dengan ayah kami. Namun mata, bibir dan hidungnya sama persis dengan Ibuku yang cantik. Bulu mata lentik, bibir yang merah dan hidung yang tidak terlalu mancung. Aku sangat senang memiliki adik perempuan. Kami saat kelahiran Sinta sudah berandai-andai, nanti Sinta akan menjadi wanita yang rajin membantu ibu memasak di dapur, mencuci pakaian, mencuci piring, menjadi seperti seorang perempuan yang dapat diandalkan di rumah. Besarnya nanti akan menjadi seorang dokter wanita atau polisi wanita. Begitu impian di kepala ayah dan ibuku saat itu. Nah, coba tebak sekarang bagaimana? Realitanya Sinta tumbuh menjadi wanita yang pintar dan tangguh. Namun ternyata ia sangat jutek dan keras kepala, persis seperti ibunya. Malas mencuci piring, malas mencuci pakaian. Kalau disuruh ibu, dia akan memberontak dan menunda-nunda. Namun jika tidak disuruh, dan saat lagi rajin-rajinnya ia sangat baik dan seluruh rumah dia mampu bersih kan dengan level kebersihan yang setara dengan ibuku. Jadi khusus casenya Sinta kami harus pandai pandai membujuk dirinya karena karakter keras kepada dari Ibu seratus persen menurun ke dirinya. Tentunya Sinta menjadi lawan debat Ibu di rumah. Aku tidak habis berpikir rumah kami bakal seramai ini.

          Lanjut di urutan ke empat, ada Rika. Adik perempuan keduaku, sekaligus anak paling bungsu di keluarga. Sebenarnya kelahiran Rika tidak diharapkan sama Ibu dan Ayah kami, Karena sudah kapok memiliki dua anak laki-laki dan satu anak perempuan yang luar biasa juteknya. Seharusnya malam itu Ibuku sudah memakai pil KB untuk mencegah kehamilan, namun Tuhan berkehendak lain, tiba-tiba sudah 3 bulan saja ibuku sudah hamil anak ke empat. Ayahku saat itu sampai geleng-geleng kepala. Bukan karena memikirkan biaya lahirannya. Namun karena setelah di USG, anak itu adalah perempuan. Di kepala ayahku terbayang lagi bertambah satu lagi wanita yang sama persis ibunya, sama persis keras kepalanya, meramaikan keluarga ini. Benar saja, Rika lahir, ia sudah menjadi primadona ketiga di rumah setelah ibu, dan Sinta. Rika memiliki wajah persis dengan Ibuku. Namun dengan postur tinggi semampai. Kulit putih dan kecantikannya boleh diadu dengan Ibu dan Sinta. Syukurnya pipi adik bungsu ku ini sanggat tembem sehingga kami sangat gemes sekali ketika Rika masih kecil. Apakah Rika menjadi wanita yang rajib bersih- bersih, memasak dan mencuci? Tentu tidak, dia menjadi penerus selanjutnya setelah adikku Sinta. Dua-dua nya sama-sama keras kepala dan emosi. Terkadang harus aku dan Firman yang mengalah untuk membantu membersihkan rumah atau memasak di tengah-tengah pertengkaran kaum Hawa ini. “Aku sudah ngepel ya” kata Sinta. “Aku juga sudah masak nasi” jawab Rika. “Kalo gitu jangan kamu injak lantai ya” jawab Sinta tidak mau kalah. “Gak usah kakak makan nasi” jawab Rika tanpa mau mengalah sedikitpun.  Aku geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua perempuan di rumah ini. Untung perempuan ya. Kalo laki-laki udah tak jewer itu telinganya.

          Semakin bertambah usia dan semakin dewasa, Sinta mulai mengurangi sifat keras kepala dan egoisnya, ia sadar punya adik yang harus ia tuntun. Perlahan ia tumbuh menjadi kakak yang baik hati dan dewasa. Bahkan cara berpikirnya sangat matang dibandingkan dengan Firman. Firman juga sudah bekerja saat ini, masih sering berkomunikasi dengan ku yang juga sudah jauh merantau bekerja. Sebagomananya seorang adik Firman juga terkadang ada juga cengengnya, namun dia sudah lebih dewasa dibanding sebelumnya. Sekarang ayah dan ibuku sudah lama berpisah dengan kami beberapa. Aku merantau bekerja, firman merantau bekerja, Sinta merantau kuliah, dan Rika yang masih SMA menemani ayah dan ibuku. Jika kambali mengingat masa lalu kami di rumah kontrakan yang sempit itu. Aku tersenyum senyum kecil. Syukurlah kedua orangtua kami benar-benar mendidik kami menjadi manusia yang berguna dan mengajarkan kami norma dan nilai-nilai kehidupan dalam kesederhanaan. Aku rindu ingin kembali ke masa-masa itu. Kuingat tahun depan ada libur panjang, aku mengajak Firman dan Sinta menabung untuk bisa mudik kembali berkumpul lengkap bersama keluarga pinus yang bahagia.

 


LihatTutupKomentar
Cancel

iklan 3