Terlalu baik
-caritas-
Sepuluh hari telah berlalu,
tanpa informasi, tanpa kejelasan, tanpa pertemuan atau kabar. Itu yang terjadi
padaku setelah sejenak mengungkapkan perasaanku kepada Alia. Wanita pujaan
hatiku yang telah lama kuidamkan. Ia tidak mengatakan sepatah dua patah kata
pun malam itu. Hal yang kuingat adalah dia terdiam dengan tatapan seolah kaget
dan merenung sejenak. Ia menerima bunga mawar pemberianku di malam itu. Aku
dengan mantap menganggap tatapan dan diamnya saat itu sebagai jawaban “tunggu,
beri aku kesempatan untuk menjawab.” Malam itu juga aku melangkahkan kaki ku
meninggalkan dirinya. Melewati gelapnya malam. Bayang-bayang akibat halangan
pepohonan di sekitar kosan Alia menemani langkahku menuju sepeda motorku. Aku
pulang sembari bahagia menunggu jawaban darinya.
Setahun yang lalu, adalah awal
pertemuanku dengan Alia. Saat itu aku melihatnya di kepanitiaan orientasi
mahasiswa. Ia dari divisi humas dan dokumentasi, sementara aku dari divisi
perlengkapan dan logistik. Aku terpana melihat indah parasnya. Tidak terlalu
tinggi, berkulit putih, rambut panjang dengan ujung bergelombang. Gadis dengan
bentuk badan tidak terlalu gemuk, namun juga tidak terlalu kurus. Pipinya tirus
yang mana itu kesukaanku. Ku berusaha mendekatinya dan berusaha melihat name
tagnya. Berharap dapat membaca sekilas nama gadis cantik ini. Kirana Yulia,
begitu ejaan namanya. Langsung saja aku stalking dirinya melalui Instagram
dan facebook yang saat itu kumiliki. Aku terpana dengan isi
postingannya. Banyaknya foto dirinya dengan berbagai angle dan gaya. Ia
seperti model pada iklan-iklan di televisi. Sempat bebrapa kali dirinya berfoto
memakai pakaian sedikit terbuka, dan aku menyukai foto itu. “Astaga, folowernya
lima rebu, ini mah udah selebgram.” Ucapku begitu kerasnya sehingga Tono
teman divisiku mendengarku. “Apaan tuh
bos? Ohh
elu stalking Alia yak!
Primadona Gue banget tuh boskuh,
sayangnya udah ada Gilang cowoknya” kata Tono. “Oalah Gilang ketua BEM yak, pupus sudah harapan Gue” ucapku pada Tono. “Kalo Gilang mah, enggak
ada lawan boskuh, udah ganteng, ketua BEM, anak pejabat disini lagi, elu mah
bisa kalah telak boskuh.” “Ya elah bokap gue juga pejabat kali, bedanya dia di
kampung, bukan di sini, kecil mah itu.” Kuberanikan diri saat itu berkenalan
dengan Alia, sebagai rekan satu kepanitiaan tentunya, sembari meninggalkan
jejak bahwa aku pernah mengenal dia.
Selang beberapa lama setelah
perkenalan pertamaku dengan Alia, aku mendengar kabar Alia putus dengan Gilang.
Hatiku terkejut mendengar kabar itu, bukan karena kasihan Alia menjadi putus
dengan Gilang, namun karena ini menjadi kesempatan emas bagiku untuk masuk ke
dalam ruang kehidupan Alia sebagai seorang pacar. Kutahu Alia gemar nongkrong
di mall kota kasalablanka Bersama beberapa teman-teman perempuannya.
Kuberanikan diri datang ke mall itu sembari windows shopping
bersama beberapa rekan – rekan andalanku yang siap membantuku kapan saja. Aku
membawa rekanku supaya terkesan tidak curiga. Saat itu di food court,
aku Bersama temanku sengaja makan di tempat yang sama dengan Alia Bersama
teman-temannya. Seolah terjadi secara alami, Alia yang melihat kehadiran kami
langsung saja menghamoiri dan menyapaku, “Bobi ya?” sapa Alia. “Eh, Alia, makan di sini juga?”
jawabku seolah seperti baru saja menemuinya. Percakapan pun berlangsung intens,
Alia mengajak teman-temannya bergabung bersama di meja makan kami. Sehingga
saat itu meja kami menjadi sangat ramai oleh tawa dan candaan kami. Seolah-olah
ruangan itu milik kami para anak muda yang masih labil ini.
Beruntungnya diriku memiliki
karakter yang humoris dan easy going. Tanpa membutuhkan waktu lama, aku
menjadi akrab dengan teman-temannya Alia. Aku pun menjadi lebih instens
bertemu dengan Alia semenjak kejadian itu. Kami menjadi lebih sering jalan
berdua. Aku sering menawarkan jemputan kepada Alia, dan ia pun menyetujuinya.
Hampir setiap minggu Alia sering menghubungiku untuk meminta tolong kepada ku.
Mengantar belanja, menemani membeli makan, menjemput saat pulang kuliah,
mengantar ke salon, dan banyak hal. Malam itu kami baru pulang dari kafe
Mekarsari, tempat kami biasanya nongkrong dan makan. Aku mengantar Alia sampai
ke kos nya. Ia menawarkan untuk sementara menunggu di kos nya sembari menunggu
gerimis reda. Memang saat itu lagi mendung-mendungnya. Tanpa kusadari Alia
akhirnya mau terbuka tentang perasaannya kepadaku. Ia sangat menyesal telah
membuang waktu nya yang berharga bersama Gilang, mantannya itu. Ia merasa
diselingkuhi setelah mengetahui ternyata Gilang adalah seorang ‘playboy,’
di mana orang ketiga itu adalah seorang gadis SMA di salah satu sekolah di
daerah Jakarta. Aku mendengarkan dengan saksama. Dalam hatiku, “Yes, ini waktu
yang tepat.” Aku mendengarkan ceritanya sembari memberikan respon yang mendukung
perasaannya itu. “Jahat bener ya Gilang itu, tega banget dia menduakan gadis
secantik dirimu.” Alia mengeluarkan air matanya. “Kok bisa ada ya laki-laki
seperti dirinya.?” Ujarku lagi. Alia yang awal nya menangis, tiba - tiba menjadi
emosi sejadi jadinya. Aku tahu ini waktu yang tepat mendukung emosinya. Aku ikut menjadi emosi dan mengikuti
amarahnya. Malam itu kami meng gibah Gilang sang mantan Alia. Aku yakin dengan
hal ini akan semakin membuat Alia membenci Gilang dan aku bisa mendapatkan
hatinya.
Seminggu setelah kejadian itu,
aku memberanikan diri mengajak Alia jalan-jalan. Melalui chat line
aku mengirimkan pesan “Alia, jalan bareng yuk sabtu nanti, kamu senggang
kan?” Aku menunggu kurang lebih sepuluh
menit hingga Alia membalas chat ku, padahal status dia saat itu sedang online.
“Hai Bob, hayukk.. tapi aku bawa temen gapapa yah.” Rencana ku saat itu yang
ingin mengajak dirinya staycation di puncak berdua menjadi buyar. Aku
membalas “Oh temen yang kemarin yak, boleh dong.” Jawabku kepada Alia dan tentunya tidak ingin
kehilangan kesempatan jalan bersama dia meskipun ada teman-temannya juga saat
itu. Saat itu aku merental sebuah mobil dan mengajak Alia Bersama tiga orang
temannya touring Bersama ke puncak. Biaya rental, bensin, dan penginapan
seluruhnya aku yang tanggung. Tak ingin membuat Alia kesusahan, aku juga
menanggung biaya makan mereka semua. Alia sangat senang sekali waktu itu, bisa
rekreasi bersama. Aku juga tidak melupakan hari ulang tahun Alia, kubelikan dia hadiah sepatu branded yang aku
rasa cocok untuk dirinya, tak tanggung-tanggung aku belikan tiga pasang. Aku
juga beberapa kali menemani dia membeli skincare kesukaannya. Cukup
mahal juga, namun tidak apa-apa karena aku masih bisa meminta sokongan dana
dari ayahku yang sangat royal untuk memberikanku uang saku. Bulan ke sepuluh
perkenalan kami, aku memberikan Alia hadiah perhiasan emas berupa kalung.
Kubeli dengan menggunakan kartu kredit ayahku. Alia sangat senang menerimanya,
aku menjadi sangat Bahagia. Alia berbisik kepadaku, “Bob, mau dong dibeliin ini
juga, sembari menunjukkan lima keranjang onlinenya di aplikasi belanja online.
Tanpa pikir Panjang aku mengiyakan dengan syarat sebuah ciuman di pipi. Tentu
saja Alia mau melakukannya.
Hari yang indah berjalan dan
tanpa terasa hampir setahun pertemuan kami. Rumor dan gosip kami jalan berdua
sudah menyebar di seantero kampus. Aku bangga bisa disandingkan seorang
primadona kampus Bernama Alia. Di hari valentine saat itu kuungkapkan
perasaanku, aku membawa bunga mawar dan memberikan kepadanya. Itulah saat
terakhirku bertemu dan berbicara dengan Alia. Sejak saat itu hingga kini hari
ke dua belas, aku tak pernah lagi bertemu dirinya. Chat ku tidak
dibalas, telepon tidak diangkat. Bahkan saat aku berkunjung ke kos nya , kosnya
kosong dan bapak kos mengatakan Alia sudah pindah dua minggu yang lalu. Aku
menjadi bingung dan sedih. Tak kusangka tiba-tiba nomor tak dikenal
menghubungiku. Lalu aku mengangkatnya, ternyata itu Alia. Alia meminta maaf
sudah lama tidak mengabariku tanpa alasan. Saat itu ia menjawab perasaanku.
“Kita berteman aja ya Bob, makasih udah menyatakan perasaanmu, Aku mau fokus
kuliah dulu.” Aku yang tidak percaya
menjawab, “Lho, kenapa Al, kan kita bisa
kuliah bareng? Lagian kamu kan tidak terlalu sibuk.?” “Kamu terlalu baik buatku, maaf ya” jawab
Alia lalu mematikan telepon. Aku saat
itu menjadi sedih dan kecewa. Tak kusangka segala effortku kepada
dirinya ditolak semudah itu. Sejak saat itu aku tidak mau bertemu siapapun. Tak
kusangka Alia bisa setega itu. Banyak hal yang tidak kuketahui tentang cinta
ini, namun ini kali pertamanya aku menjadi sangat kecewa karena ditolak.