iklan 1

Terlalu Baik



Terlalu baik

-caritas-

Sepuluh hari telah berlalu, tanpa informasi, tanpa kejelasan, tanpa pertemuan atau kabar. Itu yang terjadi padaku setelah sejenak mengungkapkan perasaanku kepada Alia. Wanita pujaan hatiku yang telah lama kuidamkan. Ia tidak mengatakan sepatah dua patah kata pun malam itu. Hal yang kuingat adalah dia terdiam dengan tatapan seolah kaget dan merenung sejenak. Ia menerima bunga mawar pemberianku di malam itu. Aku dengan mantap menganggap tatapan dan diamnya saat itu sebagai jawaban “tunggu, beri aku kesempatan untuk menjawab.” Malam itu juga aku melangkahkan kaki ku meninggalkan dirinya. Melewati gelapnya malam. Bayang-bayang akibat halangan pepohonan di sekitar kosan Alia menemani langkahku menuju sepeda motorku. Aku pulang sembari bahagia menunggu jawaban darinya.

Setahun yang lalu, adalah awal pertemuanku dengan Alia. Saat itu aku melihatnya di kepanitiaan orientasi mahasiswa. Ia dari divisi humas dan dokumentasi, sementara aku dari divisi perlengkapan dan logistik. Aku terpana melihat indah parasnya. Tidak terlalu tinggi, berkulit putih, rambut panjang dengan ujung bergelombang. Gadis dengan bentuk badan tidak terlalu gemuk, namun juga tidak terlalu kurus. Pipinya tirus yang mana itu kesukaanku. Ku berusaha mendekatinya dan berusaha melihat name tagnya. Berharap dapat membaca sekilas nama gadis cantik ini. Kirana Yulia, begitu ejaan namanya. Langsung saja aku stalking dirinya melalui Instagram dan facebook yang saat itu kumiliki. Aku terpana dengan isi postingannya. Banyaknya foto dirinya dengan berbagai angle dan gaya. Ia seperti model pada iklan-iklan di televisi. Sempat bebrapa kali dirinya berfoto memakai pakaian sedikit terbuka, dan aku menyukai foto itu. “Astaga, folowernya lima rebu, ini mah udah selebgram.” Ucapku begitu kerasnya sehingga Tono teman divisiku mendengarku.  “Apaan tuh bos?  Ohh  elu stalking Alia yak!  Primadona Gue banget tuh boskuh,  sayangnya udah ada Gilang cowoknya” kata Tono. “Oalah Gilang ketua BEM  yak, pupus sudah harapan Gue”  ucapku pada Tono. “Kalo Gilang mah, enggak ada lawan boskuh, udah ganteng, ketua BEM, anak pejabat disini lagi, elu mah bisa kalah telak boskuh.” “Ya elah bokap gue juga pejabat kali, bedanya dia di kampung, bukan di sini, kecil mah itu.” Kuberanikan diri saat itu berkenalan dengan Alia, sebagai rekan satu kepanitiaan tentunya, sembari meninggalkan jejak bahwa aku pernah mengenal dia.

Selang beberapa lama setelah perkenalan pertamaku dengan Alia, aku mendengar kabar Alia putus dengan Gilang. Hatiku terkejut mendengar kabar itu, bukan karena kasihan Alia menjadi putus dengan Gilang, namun karena ini menjadi kesempatan emas bagiku untuk masuk ke dalam ruang kehidupan Alia sebagai seorang pacar. Kutahu Alia gemar nongkrong di mall kota kasalablanka Bersama beberapa teman-teman perempuannya. Kuberanikan diri datang ke mall itu sembari windows shopping bersama beberapa rekan – rekan andalanku yang siap membantuku kapan saja. Aku membawa rekanku supaya terkesan tidak curiga. Saat itu di food court, aku Bersama temanku sengaja makan di tempat yang sama dengan Alia Bersama teman-temannya. Seolah terjadi secara alami, Alia yang melihat kehadiran kami langsung saja menghamoiri dan menyapaku, “Bobi ya?”  sapa Alia. “Eh, Alia, makan di sini juga?” jawabku seolah seperti baru saja menemuinya. Percakapan pun berlangsung intens, Alia mengajak teman-temannya bergabung bersama di meja makan kami. Sehingga saat itu meja kami menjadi sangat ramai oleh tawa dan candaan kami. Seolah-olah ruangan itu milik kami para anak muda yang masih labil ini.

Beruntungnya diriku memiliki karakter yang humoris dan easy going. Tanpa membutuhkan waktu lama, aku menjadi akrab dengan teman-temannya Alia. Aku pun menjadi lebih instens bertemu dengan Alia semenjak kejadian itu. Kami menjadi lebih sering jalan berdua. Aku sering menawarkan jemputan kepada Alia, dan ia pun menyetujuinya. Hampir setiap minggu Alia sering menghubungiku untuk meminta tolong kepada ku. Mengantar belanja, menemani membeli makan, menjemput saat pulang kuliah, mengantar ke salon, dan banyak hal. Malam itu kami baru pulang dari kafe Mekarsari, tempat kami biasanya nongkrong dan makan. Aku mengantar Alia sampai ke kos nya. Ia menawarkan untuk sementara menunggu di kos nya sembari menunggu gerimis reda. Memang saat itu lagi mendung-mendungnya. Tanpa kusadari Alia akhirnya mau terbuka tentang perasaannya kepadaku. Ia sangat menyesal telah membuang waktu nya yang berharga bersama Gilang, mantannya itu. Ia merasa diselingkuhi setelah mengetahui ternyata Gilang adalah seorang ‘playboy,’ di mana orang ketiga itu adalah seorang gadis SMA di salah satu sekolah di daerah Jakarta. Aku mendengarkan dengan saksama. Dalam hatiku, “Yes, ini waktu yang tepat.” Aku mendengarkan ceritanya sembari memberikan respon yang mendukung perasaannya itu. “Jahat bener ya Gilang itu, tega banget dia menduakan gadis secantik dirimu.” Alia mengeluarkan air matanya. “Kok bisa ada ya laki-laki seperti dirinya.?” Ujarku lagi. Alia yang awal nya menangis, tiba - tiba menjadi emosi sejadi jadinya. Aku tahu ini waktu yang tepat mendukung emosinya.  Aku ikut menjadi emosi dan mengikuti amarahnya. Malam itu kami meng gibah Gilang sang mantan Alia. Aku yakin dengan hal ini akan semakin membuat Alia membenci Gilang dan aku bisa mendapatkan hatinya.

Seminggu setelah kejadian itu, aku memberanikan diri mengajak Alia jalan-jalan. Melalui chat line aku mengirimkan pesan “Alia, jalan bareng yuk sabtu nanti, kamu senggang kan?”  Aku menunggu kurang lebih sepuluh menit hingga Alia membalas chat ku, padahal status dia saat itu sedang online. “Hai Bob, hayukk.. tapi aku bawa temen gapapa yah.” Rencana ku saat itu yang ingin mengajak dirinya staycation di puncak berdua menjadi buyar. Aku membalas “Oh temen yang kemarin yak, boleh dong.”  Jawabku kepada Alia dan tentunya tidak ingin kehilangan kesempatan jalan bersama dia meskipun ada teman-temannya juga saat itu. Saat itu aku merental sebuah mobil dan mengajak Alia Bersama tiga orang temannya touring Bersama ke puncak. Biaya rental, bensin, dan penginapan seluruhnya aku yang tanggung. Tak ingin membuat Alia kesusahan, aku juga menanggung biaya makan mereka semua. Alia sangat senang sekali waktu itu, bisa rekreasi bersama. Aku juga tidak melupakan hari ulang tahun Alia,  kubelikan dia hadiah sepatu branded yang aku rasa cocok untuk dirinya, tak tanggung-tanggung aku belikan tiga pasang. Aku juga beberapa kali menemani dia membeli skincare kesukaannya. Cukup mahal juga, namun tidak apa-apa karena aku masih bisa meminta sokongan dana dari ayahku yang sangat royal untuk memberikanku uang saku. Bulan ke sepuluh perkenalan kami, aku memberikan Alia hadiah perhiasan emas berupa kalung. Kubeli dengan menggunakan kartu kredit ayahku. Alia sangat senang menerimanya, aku menjadi sangat Bahagia. Alia berbisik kepadaku, “Bob, mau dong dibeliin ini juga, sembari menunjukkan lima keranjang onlinenya di aplikasi belanja online. Tanpa pikir Panjang aku mengiyakan dengan syarat sebuah ciuman di pipi. Tentu saja Alia mau melakukannya.

Hari yang indah berjalan dan tanpa terasa hampir setahun pertemuan kami. Rumor dan gosip kami jalan berdua sudah menyebar di seantero kampus. Aku bangga bisa disandingkan seorang primadona kampus Bernama Alia. Di hari valentine saat itu kuungkapkan perasaanku, aku membawa bunga mawar dan memberikan kepadanya. Itulah saat terakhirku bertemu dan berbicara dengan Alia. Sejak saat itu hingga kini hari ke dua belas, aku tak pernah lagi bertemu dirinya. Chat ku tidak dibalas, telepon tidak diangkat. Bahkan saat aku berkunjung ke kos nya , kosnya kosong dan bapak kos mengatakan Alia sudah pindah dua minggu yang lalu. Aku menjadi bingung dan sedih. Tak kusangka tiba-tiba nomor tak dikenal menghubungiku. Lalu aku mengangkatnya, ternyata itu Alia. Alia meminta maaf sudah lama tidak mengabariku tanpa alasan. Saat itu ia menjawab perasaanku. “Kita berteman aja ya Bob, makasih udah menyatakan perasaanmu, Aku mau fokus kuliah dulu.”  Aku yang tidak percaya menjawab, “Lho, kenapa Al,  kan kita bisa kuliah bareng? Lagian kamu kan tidak terlalu sibuk.?”   “Kamu terlalu baik buatku, maaf ya” jawab Alia lalu mematikan telepon.  Aku saat itu menjadi sedih dan kecewa. Tak kusangka segala effortku kepada dirinya ditolak semudah itu. Sejak saat itu aku tidak mau bertemu siapapun. Tak kusangka Alia bisa setega itu. Banyak hal yang tidak kuketahui tentang cinta ini, namun ini kali pertamanya aku menjadi sangat kecewa karena ditolak.

  


LihatTutupKomentar
Cancel

iklan 3