iklan 1

Semangat Kembali



Semangat Kembali

                                                                -caritas-

 

       Manusia adalah makhluk sosial, tidak baik jika manusia itu hidup seorang diri, ia akan membutuhkan manusia lainnya untuk hidup. Berdampingan dan bersama-sama untuk menjadi lebih kuat. Begitu kutipan akhir buku sosiologiku di masa sekolah yang sempat kubuka-buka saat sedang membersihkan gudang di rumahku. Hal ini begitu terasa di dalam hatiku ketika membaca  paragraf ini. Aku terbiasa melakukan segala sesuatu sendirian. Dengan melakukan sendiri semuanya akan terasa efektif dan cepat. Namun aku juga tidak bisa memungkiri jika aku akan membutuhkan bantuan orang lain dalam menyelesaikan segala perkara yang aku miliki. Aku tidak mengerti tentang kelistrikan, aku harus memanggil dan membayar tukang untuk membereskan hal tersebut. Aku juga tidak mengerti betul tentang mesin mobil, sehingga aku membutuhkan yang lebih ahli untuk mengerjakannya. Terkadang aku malas untuk masak makananku sendiri. Sehingga aku harus membeli makanan diluar untuk memenuhi kebutuhan harianku. Betul sekali kalimat itu. Sudah lima tahun sejak aku merantau dari kampung halaman, aku bekerja sebagai karyawan. Aku terlarut dan sibuk fokus dengan karir pekerjaanku. Lima tahun sebagai karyawan membuatku berhasil mendapatkan jabatan strategis yang membuat penghasilanku lumayan untuk hidup. Namun tetap saja terasa kurang karena aku harus membantu melunasi cicilan hutang keluarga yang dahulu sempat dipakai untuk permodalan usaha ayahku. Namun usaha tersebut tidak berjalan lancar dikarenakan kesalahan manajerial oleh ayahku dalam usahanya. Sehingga tidak mendatangkan keuntungan yang berarti. Hutang tersebut bisa dikatakan memakan 60% dari total penghasilan yang kuterima tiap bulan. Sempat juga aku mengambil sampingan dengan menjadi reseller produk, namun aku gagal dalam memanage karyawan, aku sempat ditipu dan uang usaha dibawa kabur, sehingga aku langsung kapok memulai kembali usaha. Aku terlarut dalam pekerjaanku. Bahkan sampai saat ini pun aku tetap fokus bekerja – bekerja , menyicil, sambil menabung sebagian, berharap hutang tersebut mampu kulunasi di awal sehingga aku dapat bebas menggunakan gajiku.

Tahun demi tahun berlalu, cukup lama juga aku berjuang di jalan ini. Aku bisa saja mengambil usaha sampingan sembari bekerja sebagai karyawan. Namun aku belum mampu komitmen di waktu. Pekerjaan ku saat ini dari jam 7 pagi sampai 5 sore, belum termasuk lembur yang ‘wajib’ kami lakukan untuk memenuhi target harian. Sehingga aku belum mampu melakuakn dua pekerjaan sekaligus saat ini. Syukurnya performaku di perusahaan sangat bagus. Manajer senang dengan kinerjaku yang sangat berarti untuk perusahaan. Bahkan aku mampu membuat tim yang ku supervisi menjadi lebih efektif bekerja sesuai dengan bimbingan dan arahanku. Sungguh luar biasa bangga ketika menjadi lebih berguna di tempat kerja. Rekanku sempat bertanya kepadaku saat aku yang sudah menginjak usia 30 tahun, kenapa sampai sekarang belum menikah? Posisi dan jabatanku saat ini sudah sangat mumpuni untuk berkeluarga, kenapa sampai sekarang belum?. Aku tersenyum dan mengatakan masih banyak prioritas dan tanggungan ku yang belum selesai.

Pulang dari kantor, aku sempat merenungkan pertanyaan rekanku tersebut. Jika dipikir pikir, sudah begitu lama diriku belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Terakhir saat aku masih di bangku SMA, itu pun hanya pacaran karena tidak ingin ketinggalan dengan teman-teman lain yang sudah memiliki pasangan, dan coba tebak, berakhir dengan cepat hanya dalam waktu empat bulan saja. Berpasangan sangat menyita waktu menurutku. Uangku habis hanya untuk memenuhi budget pacaran, sehingga aku memutuskan untuk fokus di diriku terlebih dahulu. Laki-laki itu tidak akan berharga jika tidak mampu menghidupi diri dan keluarganya kelak. Aku berprinsip seperti itu. Ditambah dengan tanggungan cicilan di awal ini yang membuat aku seolah-olah start dari minus. Aku merasa tidak memiliki muka jika aku memulai kehidupan berpasangan jika aku sendiri masih tidak mampu menghidupi keluarga dengan “berkecukupan.” Jika kuhitung dari usiaku sekarang, empat tahun lagi cicilan ini aku lunas jika aku lunasi di awal, dan saat itu usiaku sudah 34 tahun. Memikirkan hal itu cukup membuatku pusing dan putus asa. Aku ketinggalan jauh dibandingkan teman seangkatan dan adik-adik kelasku yang sudah terlebih dahulu mencapai tujuan hidup mereka, berkeluarga, punya rumah dan bahagia. Aku melihat semuanya di sosial media. Namun aku tidak ingin membanding-bandingkan diriku, sehingga aku tidak aktif lagi bersosial media saat ini.

Segala prinsip dan perjuangan hidup yang kutempuh sendiri tersebut itu tanpa kusadari menarik perhatian setiap lawan jenis yang kutemui. Di kantor, di komunitas, di kampus. Bahkan mereka terlebih dahulu yang memulai komunikasi. Aku yang saat itu terlalu sibuk untuk hal seperti itu tidak merespon balik usaha mereka. Sehingga mereka pun tidak pernah lagi berkomunikasi denganku. Aku sempat negatif thinking, sepertinya mereka mendekatiku karena aku sudah memiliki pekerjaan dan jabatan. Atau mungkin mereka hanya ingin bermain-main saja dengan ku. Tidak kugubris satupun dari mereka, Sampai-sampai rekan kerja ku meledekku dengan kata ‘bujang lapuk’. Aku hanya bisa ikut tertawa mendengar istilah itu, karena kutahu mereka sedang bercanda denganku, syukurnya mereka paham dan sudah pernah kuceritakan kondisiku.

       Suatu hari aku bertemu dengan rekan kerjaku, Ruben. Ia bukanlah rekan yang dekat dan terlalu aku kenal di perusahaan. Malahan Ruben ini setahuku tidak memiliki rekan yang cukup dekat dengan dirinya. Orangnya cukup aneh dan selera humornya berbeda dengan yang lain. Ia seperti orang ‘freak’ dengan tatapan matanya yang terlalu melotot. Ruben lebih senior di atasku, namun memegang posisi manajer, mirip denganku, sehingga ia tidak bisa dianggap remeh karena ia pasti cerdas dan memiliki leadership tinggi. Tak kusangka Ruben mau diajak bercerita. Aku menceritakan kisah keuanganku yang sedang kacau-kacaunya. Ruben pun menceritakan kisah keluarganya yang sangat harmonis. Ia sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Ruben menanggapi masalah keuanganku dan memberikan solusi mengenai negosiasi ke pihak bank melalui restrukturisasi pinjaman. Cara paling ampuh adalah dengan melunasi sebagian dan menawarkan pihak bank untuk mengurangi bunga pinjaman, agar cicilan menjadi ringan. Sungguh ini adalah hal yang tidak pernah terpikirkan olehku. Hal yang bertahun-tahun menjadi momok menakutkan bagiku dijawab solusinya oleh orang yang tak pernah kuanggap sama sekali.

       Sejak saat itu aku tidak pernah meremehkan orang di sekitarku lagi. Aku akan menghargai keberadaan mereka dan mencoba saling berbagi informasi yang ada. Tak kusangka aku yang sudah berada di titik ini pun masih banyak hal yang tidak kuketahui di dunia ini. Aku masih harus terus belajar, bekerja keras untuk menghadapi kerasnya kehidupan ini. Saran dari Ruben sungguh luar biasa, ia ternyata memiliki pengalaman yang sama denganku melalui orangtuanya. Aku bersyukur diberi kesempatan bercerita dengan dirinya. Berbekal informasi dari dirinya membuatku semangat kembali untuk menabung dan menebus semua kesalahan ku di masa lalu.


LihatTutupKomentar
Cancel

iklan 3