Semangat Kembali
Manusia
adalah makhluk sosial, tidak baik jika manusia itu hidup seorang diri, ia akan
membutuhkan manusia lainnya untuk hidup. Berdampingan dan bersama-sama untuk
menjadi lebih kuat. Begitu kutipan akhir buku sosiologiku di masa sekolah yang
sempat kubuka-buka saat sedang membersihkan gudang di rumahku. Hal ini begitu
terasa di dalam hatiku ketika membaca
paragraf ini. Aku terbiasa melakukan segala sesuatu sendirian. Dengan
melakukan sendiri semuanya akan terasa efektif dan cepat. Namun aku juga tidak
bisa memungkiri jika aku akan membutuhkan bantuan orang lain dalam
menyelesaikan segala perkara yang aku miliki. Aku tidak mengerti tentang
kelistrikan, aku harus memanggil dan membayar tukang untuk membereskan hal
tersebut. Aku juga tidak mengerti betul tentang mesin mobil, sehingga aku
membutuhkan yang lebih ahli untuk mengerjakannya. Terkadang aku malas untuk
masak makananku sendiri. Sehingga aku harus membeli makanan diluar untuk
memenuhi kebutuhan harianku. Betul sekali kalimat itu. Sudah lima tahun sejak
aku merantau dari kampung halaman, aku bekerja sebagai karyawan. Aku terlarut
dan sibuk fokus dengan karir pekerjaanku. Lima tahun sebagai karyawan membuatku
berhasil mendapatkan jabatan strategis yang membuat penghasilanku lumayan untuk
hidup. Namun tetap saja terasa kurang karena aku harus membantu melunasi
cicilan hutang keluarga yang dahulu sempat dipakai untuk permodalan usaha
ayahku. Namun usaha tersebut tidak berjalan lancar dikarenakan kesalahan
manajerial oleh ayahku dalam usahanya. Sehingga tidak mendatangkan keuntungan
yang berarti. Hutang tersebut bisa dikatakan memakan 60% dari total penghasilan
yang kuterima tiap bulan. Sempat juga aku mengambil sampingan dengan menjadi
reseller produk, namun aku gagal dalam memanage karyawan, aku sempat ditipu dan
uang usaha dibawa kabur, sehingga aku langsung kapok memulai kembali usaha. Aku
terlarut dalam pekerjaanku. Bahkan sampai saat ini pun aku tetap fokus bekerja
– bekerja , menyicil, sambil menabung sebagian, berharap hutang tersebut mampu
kulunasi di awal sehingga aku dapat bebas menggunakan gajiku.
Tahun demi tahun berlalu, cukup lama juga aku
berjuang di jalan ini. Aku bisa saja mengambil usaha sampingan sembari bekerja
sebagai karyawan. Namun aku belum mampu komitmen di waktu. Pekerjaan ku saat
ini dari jam 7 pagi sampai 5 sore, belum termasuk lembur yang ‘wajib’ kami
lakukan untuk memenuhi target harian. Sehingga aku belum mampu melakuakn dua
pekerjaan sekaligus saat ini. Syukurnya performaku di perusahaan sangat bagus.
Manajer senang dengan kinerjaku yang sangat berarti untuk perusahaan. Bahkan aku
mampu membuat tim yang ku supervisi menjadi lebih efektif bekerja sesuai dengan
bimbingan dan arahanku. Sungguh luar biasa bangga ketika menjadi lebih berguna
di tempat kerja. Rekanku sempat bertanya kepadaku saat aku yang sudah menginjak
usia 30 tahun, kenapa sampai sekarang belum menikah? Posisi dan jabatanku saat
ini sudah sangat mumpuni untuk berkeluarga, kenapa sampai sekarang belum?. Aku
tersenyum dan mengatakan masih banyak prioritas dan tanggungan ku yang belum
selesai.
Pulang dari kantor, aku sempat merenungkan
pertanyaan rekanku tersebut. Jika dipikir pikir, sudah begitu lama diriku belum
pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Terakhir saat aku masih di bangku
SMA, itu pun hanya pacaran karena tidak ingin ketinggalan dengan teman-teman
lain yang sudah memiliki pasangan, dan coba tebak, berakhir dengan cepat hanya
dalam waktu empat bulan saja. Berpasangan sangat menyita waktu menurutku.
Uangku habis hanya untuk memenuhi budget pacaran, sehingga aku memutuskan untuk
fokus di diriku terlebih dahulu. Laki-laki itu tidak akan berharga jika tidak mampu
menghidupi diri dan keluarganya kelak. Aku berprinsip seperti itu. Ditambah
dengan tanggungan cicilan di awal ini yang membuat aku seolah-olah start dari
minus. Aku merasa tidak memiliki muka jika aku memulai kehidupan berpasangan
jika aku sendiri masih tidak mampu menghidupi keluarga dengan “berkecukupan.”
Jika kuhitung dari usiaku sekarang, empat tahun lagi cicilan ini aku lunas jika
aku lunasi di awal, dan saat itu usiaku sudah 34 tahun. Memikirkan hal itu
cukup membuatku pusing dan putus asa. Aku ketinggalan jauh dibandingkan teman
seangkatan dan adik-adik kelasku yang sudah terlebih dahulu mencapai tujuan hidup
mereka, berkeluarga, punya rumah dan bahagia. Aku melihat semuanya di sosial
media. Namun aku tidak ingin membanding-bandingkan diriku, sehingga aku tidak
aktif lagi bersosial media saat ini.
Segala prinsip dan perjuangan hidup yang kutempuh
sendiri tersebut itu tanpa kusadari menarik perhatian setiap lawan jenis yang
kutemui. Di kantor, di komunitas, di kampus. Bahkan mereka terlebih dahulu yang
memulai komunikasi. Aku yang saat itu terlalu sibuk untuk hal seperti itu tidak
merespon balik usaha mereka. Sehingga mereka pun tidak pernah lagi
berkomunikasi denganku. Aku sempat negatif thinking, sepertinya mereka
mendekatiku karena aku sudah memiliki pekerjaan dan jabatan. Atau mungkin
mereka hanya ingin bermain-main saja dengan ku. Tidak kugubris satupun dari
mereka, Sampai-sampai rekan kerja ku meledekku dengan kata ‘bujang lapuk’. Aku
hanya bisa ikut tertawa mendengar istilah itu, karena kutahu mereka sedang
bercanda denganku, syukurnya mereka paham dan sudah pernah kuceritakan
kondisiku.
Suatu
hari aku bertemu dengan rekan kerjaku, Ruben. Ia bukanlah rekan yang dekat dan
terlalu aku kenal di perusahaan. Malahan Ruben ini setahuku tidak memiliki
rekan yang cukup dekat dengan dirinya. Orangnya cukup aneh dan selera humornya
berbeda dengan yang lain. Ia seperti orang ‘freak’ dengan tatapan matanya yang
terlalu melotot. Ruben lebih senior di atasku, namun memegang posisi manajer,
mirip denganku, sehingga ia tidak bisa dianggap remeh karena ia pasti cerdas
dan memiliki leadership tinggi. Tak kusangka Ruben mau diajak bercerita. Aku
menceritakan kisah keuanganku yang sedang kacau-kacaunya. Ruben pun
menceritakan kisah keluarganya yang sangat harmonis. Ia sangat mencintai istri
dan anak-anaknya. Ruben menanggapi masalah keuanganku dan memberikan solusi
mengenai negosiasi ke pihak bank melalui restrukturisasi pinjaman. Cara paling
ampuh adalah dengan melunasi sebagian dan menawarkan pihak bank untuk
mengurangi bunga pinjaman, agar cicilan menjadi ringan. Sungguh ini adalah hal
yang tidak pernah terpikirkan olehku. Hal yang bertahun-tahun menjadi momok menakutkan
bagiku dijawab solusinya oleh orang yang tak pernah kuanggap sama sekali.
Sejak
saat itu aku tidak pernah meremehkan orang di sekitarku lagi. Aku akan menghargai
keberadaan mereka dan mencoba saling berbagi informasi yang ada. Tak kusangka
aku yang sudah berada di titik ini pun masih banyak hal yang tidak kuketahui di
dunia ini. Aku masih harus terus belajar, bekerja keras untuk menghadapi kerasnya
kehidupan ini. Saran dari Ruben sungguh luar biasa, ia ternyata memiliki
pengalaman yang sama denganku melalui orangtuanya. Aku bersyukur diberi
kesempatan bercerita dengan dirinya. Berbekal informasi dari dirinya membuatku
semangat kembali untuk menabung dan menebus semua kesalahan ku di masa lalu.