“Ada Aja Ya..”
-caritas-
Aku baru saja pulang dari sekolah,
menyeka keringat yang basah di sekujur pipiku. Lelah karena aku mengayuh
sepedaku sangat cepat. Bergegas ingin pulang segera. Kulempar tas sekolahku ke
atas kasur sambil menghela nafas, “Fiiuuhhh…, cape juga ya sekolah ternyata,
aku pengen segera kerja.” Bukan karena banyaknya mata pelajaran saat itu. Bukan
juga karena banyaknya PR yang diberikan guru-guru. Bukan juga karena banyak nya
ulangan harian atau ujian sekolah yang akan datang. Bukan juga karena guru
fisika yang killer. Aku membenci
salah seorang murid di sekolah ku. Aku baru saja berkelahi dengan teman ku. Ya
perkelahian antar anak lelaki. Pemicu awalnya sederhana. Hanya salah paham. Aku
sengaja mendorong teman ku itu hingga dia hampir terjatuh. Maksudnya hanya
bercanda saja. Namun ternyata temanku menganggap itu bukan bercanda. Itu adalah
tantangan untuk berkelahi. Aku yang tidak mengerti maksud temanku itu langsung
saja kucoba mengajak damai. Namun karena kata-kata dari bibir nya yang cukup
provokatif dan menyayat hati, kuterima tantangannya duel di lapangan belakang sekolahku. Jujur ini kali pertamaku duel
di lapangan sekolah. Aku yang tidak mengerti cara berkelahi dan duel, dengan modal nekat menerima tantangan
itu, dan hasilnya, tentu saja aku kalah. Aku langsung diserang oleh temanku
dengan melayangkan tinju tepat di mata kiriku. Sontak kepalaku pusing dan tidak
bisa menjaga keseimbangan. Aku hampir
terjatuh disusul dengan pukulan dan tendangan berikutnya dari temanku itu. Aku
yang tidak sempat lagi melawan akhirnya dilerai oleh teman-teman yang ikut
menonton duel kami di lapangan. Aku
menerima kekalahan itu, namun aku tidak menerima dengan bahasa dan kata-kata
temanku yang sangat provokatif. “Pengecut, banci loe!.” Itu dilayangkan setiap hari setelah kejadian
itu. Membuatku tertekan selama di sekolah.
Kekalahan seperti ini bukan kali
pertama bagiku. Saat duduk di bangku sekolah dasar. Keluarga ku pindah ke rumah
baru, di daerah perbatasan antar kabupaten dan kota. Kami sungguh senang karena
akhirnya memiliki rumah baru, setelah sekian lama mengontrak. Ayahku hanyalah
karyawan biasa di salah satu perusahaan kertas di daerah itu. Selama tinggal di
sana, kami harus merelakan tenaga kami untuk pulang pergi dari perbatasan ke
pusat kota untuk bersekolah. Karena ibuku lebih percaya kualitas pendidikan di
daerah ibukota di banding daerah perbatasan saat itu yang masih tertinggal.
Alhasil aku tidak memiliki teman dekat selama tinggal di rumah baru tersebut.
Aku hanya bermain dengan adikku Rio yang saat itu tidak jauh berbeda umurnya
denganku hanya terpaut dua tahun saja. Terkadang kami bermain dengan anak dari
sahabat ibuku yang tinggal tak jauh dari perumahan kami. Hal tersebut ternyata tidak disukai oleh geng anak-anak perumahan di sana. Ya di
sana ada kumpulan geng anak-anak
perumahan yang sering berkumpul dan bermain bersama. Hanya saja perkumpulan
mereka menurut ibuku saat itu kurang sehat. Perkumpulan itu tak jauh dari
pergaulan bebas, kebiasaan merokok, mabuk, dan lain sebagainya. Suatu hari aku
dan adikku bermain petasan ke lapangan perumahan. Kehadiran kami ternyata di
lihat oleh anak-anak komplek perumahan. Salah satu dari mereka yang kemungkinan
seumuran denganku menghampiri dan mengucapkan kata-kata provokatif. Mereka
menyinggung suku dan ras kami. Memang saat itu kami terlihat berbeda dari warna
kulit, aku dan adikku putih cerah, sementara mereka berwarna sawo matang gelap.
Adikku Rio terpancing, dan membalas kata-kata mereka. Namun karena mereka banyak,
adikku tak kuasa menahan tangis lalu aku menyuruhnya pulang. Saat itu aku yang
hanya seorang anak kelas 5 SD sendirian menghadapi mereka yang banyak dan
berbadan besar , mungkin sebagian dari mereka ada yang sudah SMP dan SMA.
Kuhampiri anak yang memprovokasi kami tadi. Ku lemparkan satu kotak petasan
korek yang belum kunyalakan ke kepalanya.
Kami pun berkelahi. Tak kusangka teman-temannya yang lain ikut membantu.
Akhirnya aku kalah dengan wajah bonyok dan bibir yang berdarah. Untung saat itu
perkelahian yang berujung pengeroyokan itu dihentikan oleh warga setempat. Aku
menangis karena kalah dan sampai detik ini, saat ku di bangku SMP, aku masih
mengingat kekalahan itu dan menyimpan dendam yang teramat sangat besar.
Aku menyadari, mau bagaimana pun tipe-tipe
manusia seperti itu akan selalu ada di sepanjang masa. Mereka yang suka
merundung, membully, merendahkan, menghina, dan mengintimidasi pasti akan ada
dalam berbagai bentuk dan masa. Di SMA, aku menemukan orang yang persis
kutemukan di SD dan SMP, beda nya kami berkompetisi dengan elegan. Melalui
karya seni musik saat itu. Teman ku saat itu didukung dengan peralatan yang
lengkap dan ber merk dari orang tua
nya. Sementara aku hanya bermodal alat musik yang kupinjam dari saudaraku untuk
keperluan ujian sekolah. Aku yang serba terbatas saat itu berupaya
memaksimalkan sumber daya yang ada. Aku membeli buku-buku tutorial yang murah
di toko buku langganan. Aku membeli modem kuota internet dan menonton tutorial
di Youtube. Aku berlatih hampir
setiap hari untuk sebuah lagu yang sama terus menerus. Namun ternyata upayaku
tersebut tidak menjadi motivasi bagi orang lain, termasuk temanku yang satu
ini. Ia mengkritik cara bermainku, mengomentari pertunjukan yang kutampilkan
saat itu dengan pedas. Seolah-olah tidak ada nilai atau harga yang pantas atas
usaha yang aku kerjakan, dan yang lebih parahnya lagi, hal tersebut aku dapat
dari teman kelas ku sendiri yang tak sengaja mendengar gosip dari teman yang
sangat tidak menyukai permainanku. Disaat aku tidak pernah mengurus dia atau
mengomentari cara bermainnya. Aku tetap fokus pada latihan musikku dan aku juga
membagikan ilmu yang kumiliki kepada teman sekitas kelas ku. Sehingga
teman-teman ku menjadisangat terbantu ketika ujian praktik seni musik di
sekolah. Aku mendapat julukan “Shifu”
oleh teman-teman di kelasku. Aku hanya tertawa mendengarnya dan merasa tidak
pantas jika harus dipanggil seperti itu. Apa yang kulakukan ternyata membuat
temanku tersebut semakin tidak menyukai kehadiranku. Bahkan di suatu waktu ia
memprovokasi teman-teman pemusik di sekolah ku untuk tidak terlalu dekat
berteman denganku. Apa yang ia lakukan berhasil, aku mendapat sedikit teman
pemusik di sekolah. Hanya teman-teman di kelas ku yang bisa kuandalkan dan
kupercaya menjadi teman baikku di masa SMA saat itu.
Aku merenung sejenak dan tersadar, aku
sudah di dunia kerja saat ini. Aku terlalu lama bernostalgia tentang masa lalu
yang kurang menyenangkan saat itu. Kusadari hal tersebut masih berlanjut di
dunia kerja. Aku kembali bertemu rekan sejawat yang sangat gila hormat, yang
harus tunduk dengan kata-katanya dan mengikuti kata-katanya disaat posisi kami
setara. Hal yang membedakan hanyalah baru dan lama. Tidak masalah harus
mengikuti arahan senior, namun yang satu ini berbeda. Arogan, dan suka merendahkan,
adalah hal yang paling aku tidak sukai. Mirip seperti yang terjadi saat aku
masih di sekolah dulu. Aku tersenyum, “Ada aja ya manusia-manusia seperti ini..
Fiiuhhh” gumamku dalam hati. Aku sudah terlatih seharusnya untuk menghadapinya.
Fokus pada tujuan dan kurangi interaksi yang tidak perlu, namun ada sisi buruk
dari masa lalu ku itu, aku menjadi sulit memaafkan dan suka menyimpan dendam,
tentu nya aku tak ingin kalah mental seperti dulu lagi. Benar saja aku berhasil
menunjukkan taringku kepada rekan sejawatku itu, namun di sisi lain aku menjadi
sangat dingin dan suasana kerja menjadi kurang nyaman. “Tuhan, apa yang kau
rencanakan kepadaku dengan mempertemukan ku pada orang-orang seperti ini?
salahkan tindakanku?” Aku bertanya seraya berdoa. Semoga suatu saat Sang
Mahakuasa menjawab doaku itu.

