iklan 1

Inspirasiku

 

 


Inspirasiku

-caritas-

“Laki-laki itu harus mandiri, harus tangguh, harus berdikari” begitu selalu ucapan ayahku sembari memperbaiki rantai motornya yang putus. “Kamu jangan cengeng Dik, itu masalah sepele, fokus sama solusinya, lihat jalan keluarnya.” ucap ayahku Ketika aku gagal memenangkan kejuaraan futsal antar sekolah bersama teman-teman SMA ku. Ayahku memang sangat keras mendidikku. Mungkin karena latar belakangnya dari keluarga militer yang sejak kecil diajarkan kedisiplinan. Bangun pagi, sarapan, mencuci pakaian, memberi makan ternak, mencari bahan makanan, adalah kebiasaan ayahku sedari kecil. Jalan kaki, kehujanan, berkeringat sudah biasa dilakukannya. Reward and punishment sering diberlakukan kakekku kepada ayahku dan hasil yang positif kulihat dari ayahku.  Ia pun ingin aku memiliki kepribadian yang tangguh seperti dirinya. Besar di keluarga Patrilinealistik tidak membuat ayahku tinggi hati, justru ia sangat rendah hati dan menghargai perempuan. Ia sangat banyak mengajarkanku ilmu kehidupan yang tak kudapat selama di bangku sekolah. Hal-hal yang tidak semua laki-laki di zaman modern dapat melakukannya.

Tidak mau kalah dengan ayahku tentu aku berusaha untuk membuktikan diri menjadi pria yang hebat. Aku mulai mempelajari apa saja hal-hal yang membuat seorang laki-laki itu disegani, dihormati, berkualitas tinggi. Syukurnya hal tersebut tidak jauh dari apa yang ayahku ajarkan. Aku mulai memperhatikan kondisi fisikku sejak masa SMA. Aku memutuskan untuk berolah raga secara rutin. Aku mulai dari jogging di sore hari, dilanjutkan dengan squat jump dan push up. Tidak puas sampai disitu aku mulai mengganti rute joggingku yang pada awalnya hanya di lapangan sekolah, mulai ke taman kota. Kebetulan disana disediakan fasilitas olah raga, salah satu nya pull up bar. Aku mencoba memakai alat itu untuk latihan pull up. Tidak mudah untuk pertama kali di tempat umum. Karena malu tidak bisa, aku coba berlatih di rumah dulu menggunakan ventilasi pintu kamar. Untung saja ventilasi pintu kamar sangat kuat menahan berat badanku. Semua kulakukan untuk mendapatkan fisik yang sehat dan bugar seperti ayahku. Selama masa SMA dan kuliah aku tekun melakukan jogging, push up dan pull up. Hasilnya memang membuat ketahanan fisikku lebih lama, lengan semakin kekar, namun badanku semakin kurus, apalagi jika memakai pakaian oversize. Aku mulai mencari informasi lagi mengapa berat badanku semakin turun, ternyata sumbernya dari pola makan. Aku sempat optimis untuk hal tersebut, namun harus terkendala karena informasi di internet menyebutkan makanan sehat olahragawan itu mahal, harus dada ayam, telur, salmon, yoghurt, susu protein, dan lain-lain. Di samping itu wajib melakukan angkat beban di tempat fitness yang mana harus merogoh kocek untuk biaya membernya. Aku mengurungkan niat untukhal tersebut, dan mencoba versi gratisan dulu dengan tetap jogging, pull up, push up sampai aku selesai kuliah.

Tiga setengah tahun kuliah, aku lulus cumlaude. Aku berhasil mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan BUMN. Syukurnya aku berhasil lulus dalam interview dan tes bertahap lainnya dari sekian ratusan pelamar. Baru kali ini aku merasakan memiliki gaji atas uang sendiri. Ayahku selalu mengingatkan untuk tetap gaya hidup sederhana, batasi pengeluaran semaksimal mungkin, hindari utang yang tidak perlu. Aku menuruti hal tersebut. Berat rasanya karena disaat aku masih menabung, rekan-rekan di tempat kerjaku sudah kredit iphone terbaru. Ada juga yang sudah kredit mobil. Ada lagi yang langsung tur ke luar negeri. Aku sempat menolak ajakan teman-teman yang suka sekali nongkrong di tempat fancy, seperti kafe kekinian, vape store dan lain sebagainya. Pada akhirnya sedikit teman-teman yang mau bergaul denganku. Aku bersyukur masih bisa punya teman di perusahaan karena aku cukup jago bermain futsal, namun untuk dekat sekali sangat sedikit. Dengan gajiku yang sekarang aku bisa bayar member fitness di salah satu gym ruko di Jakarta yang tidak terlalu mahal harganya member perbulannya menurutku. Sekitar dua ratus ribuan. Aku mengenal seorang member gym yang sudah sangat sepuh dan badannya sangat bagus sehat dan bugar. Kesan pertamaku, ini orang seram. Namun ternyata hal tersebut terpatahkan. Ia sangat humble, dan aku berteman dengan member fitness tersebut. Ia mengajarkanku tips dan resep makanan sehat yang murah tanpa harus bergantung dengan catering fitness atau suplementasi. Banyak yang kupelajari dari sobat sekaligus mentor ku itu, aku tak pernah bisa menemui dia saat latihan sore, ia selalu dating pagi. Membuatku juga harus mau rajin datang fitness di pagi hari. Sungguh luar biasa bisa berkenalan dengan orang hebat seperti sobatku ini.

Bulan November, perusahaan kami mengikuti kompetisi kejuaraan futsal antar instansi dan perusahaan di level provinsi. Aku ikut serta. Untuk ukuran anak baru, aku cukup beruntung karena rekan kerja ku langsung memasukkan aku sebagai bagian dari tim meskipun saat pertandingan aku duduk di bangku cadangan. Wajar karena tidak semua karyawan mengenal aku dan kemampuan bermain sepak bola yang kumiliki. Sistem pertandingan adalah sistem gugur. Saat di penyisihan dengan sangat mudah dilewati oleh rekan-rekanku. Aku bahkan belum sempat bermain. Saat masuk perempatan final, salah satu striker kami, Mas Rian mengalami cedera serius Ketika lawan berhasil melakukan tackle pada betis kakinya. Langsung saja pelatih kami mas Romi menunjuk aku menggantikan Mas Rian. Langsung saja tanpa berbasa basi aku turun ke lapangan. Aku cukup berani untuk hal ini. Aku sadar pemain lawan saat ini suka sekali melakukan pelanggaran, terutama strikernya. Mereka mengintimidasi dengan bermain kasar. Aku mulai masuk dan mengeluarkan kemampuan yang kumiliki. Tanpa menunggu waktu yang lama, aku berhasil mencetak satu gol untuk rekan- rekanku. Sorak sorai dan gemuruh dari penonton pendukung perusahaan kami mulai bangkit. Yel-yel perusahaan kami kembali dikumandangkan. Di situ aku semakin percaya diri. Kapten tim Mas Yan emmberi apresiasi samaku. “Anak baru, keren juga lo main, gas terus bro.” “Oke gas kita gas kan kapten” jawabku mantap. Olahraga rutin dan gym yang masih konsisten kulakukan sampai sekarang membuahkan hasil, aku punya ketahanan dan kuda-kuda yang kuat. Saat striker lawan mencoba melakukan body charging untuk menjatuhkanku saat menggiring bola, striker tersebut yang terjatuh. Wasit sempat membunyikan peluit menduga pelanggaran oleh diriku. Aku mencoba membela diri dan Mas Yan membantuku. Wasit menghentikan pertandingan sejenak dan melihat rekaman ulang. Akhirnya wasit mengeluarkan kartu kuning, kepada striker lawan tersebut, karena upaya pelanggaran yang ternyata ia lakukan. Aku bersyukur, gemuruh suara pendukung kami mulai menggema. Kami lanjutkan pertandingan dengan tambahan dua gol lagi dari diriku. Malam itu sungguh berbuah manis untuk perusahaanku, kami maju ke semi final dan ini adalah kali pertama bagi kami. Aku semakin dikenal oleh rekan kerjaku dan entah kenapa kerjaan apapun yang membutuhkan kerjasama tim dari divisi lain menjadi terasa mudah birokrasinya karena banyak orang yang mengenal diriku. Sejak saat itu aku semakin memahami bagaimana seorang laki-laki bisa disegani dan dihormati. Aku tahu ini masih awal, dan aku harus konsisten dan tidak menyerah. Selayaknya aku harus bersyukur kepada Sang Pencipta karena aku memiliki ayah yang hebat yang sudah menjadi inspirasi dan motivasiku.

 

 


LihatTutupKomentar

1 Komentar

Cancel

iklan 3