Inspirasiku
-caritas-
“Laki-laki itu harus mandiri, harus
tangguh, harus berdikari” begitu selalu ucapan ayahku sembari memperbaiki
rantai motornya yang putus. “Kamu jangan cengeng Dik, itu masalah sepele, fokus
sama solusinya, lihat jalan keluarnya.” ucap ayahku Ketika aku gagal
memenangkan kejuaraan futsal antar sekolah bersama teman-teman SMA ku. Ayahku
memang sangat keras mendidikku. Mungkin karena latar belakangnya dari keluarga
militer yang sejak kecil diajarkan kedisiplinan. Bangun pagi, sarapan, mencuci
pakaian, memberi makan ternak, mencari bahan makanan, adalah kebiasaan ayahku
sedari kecil. Jalan kaki, kehujanan, berkeringat sudah biasa dilakukannya. Reward
and punishment sering diberlakukan kakekku kepada ayahku dan hasil yang
positif kulihat dari ayahku. Ia pun
ingin aku memiliki kepribadian yang tangguh seperti dirinya. Besar di keluarga Patrilinealistik
tidak membuat ayahku tinggi hati, justru ia sangat rendah hati dan menghargai
perempuan. Ia sangat banyak mengajarkanku ilmu kehidupan yang tak kudapat
selama di bangku sekolah. Hal-hal yang tidak semua laki-laki di zaman modern
dapat melakukannya.
Tidak mau kalah dengan ayahku tentu aku
berusaha untuk membuktikan diri menjadi pria yang hebat. Aku mulai mempelajari
apa saja hal-hal yang membuat seorang laki-laki itu disegani, dihormati,
berkualitas tinggi. Syukurnya hal tersebut tidak jauh dari apa yang ayahku
ajarkan. Aku mulai memperhatikan kondisi fisikku sejak masa SMA. Aku memutuskan
untuk berolah raga secara rutin. Aku mulai dari jogging di sore hari,
dilanjutkan dengan squat jump dan push up. Tidak puas sampai
disitu aku mulai mengganti rute joggingku yang pada awalnya hanya di
lapangan sekolah, mulai ke taman kota. Kebetulan disana disediakan fasilitas
olah raga, salah satu nya pull up bar. Aku mencoba memakai alat itu
untuk latihan pull up. Tidak mudah untuk pertama kali di tempat umum.
Karena malu tidak bisa, aku coba berlatih di rumah dulu menggunakan ventilasi
pintu kamar. Untung saja ventilasi pintu kamar sangat kuat menahan berat
badanku. Semua kulakukan untuk mendapatkan fisik yang sehat dan bugar seperti ayahku.
Selama masa SMA dan kuliah aku tekun melakukan jogging, push up
dan pull up. Hasilnya memang membuat ketahanan fisikku lebih
lama, lengan semakin kekar, namun badanku semakin kurus, apalagi jika memakai
pakaian oversize. Aku mulai mencari informasi lagi mengapa berat badanku
semakin turun, ternyata sumbernya dari pola makan. Aku sempat optimis untuk hal
tersebut, namun harus terkendala karena informasi di internet menyebutkan
makanan sehat olahragawan itu mahal, harus dada ayam, telur, salmon, yoghurt,
susu protein, dan lain-lain. Di samping itu wajib melakukan angkat beban di
tempat fitness yang mana harus merogoh kocek untuk biaya membernya. Aku
mengurungkan niat untukhal tersebut, dan mencoba versi gratisan dulu dengan
tetap jogging, pull up, push up sampai aku
selesai kuliah.
Tiga setengah tahun kuliah, aku lulus
cumlaude. Aku berhasil mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan BUMN.
Syukurnya aku berhasil lulus dalam interview dan tes bertahap lainnya
dari sekian ratusan pelamar. Baru kali ini aku merasakan memiliki gaji atas
uang sendiri. Ayahku selalu mengingatkan untuk tetap gaya hidup sederhana,
batasi pengeluaran semaksimal mungkin, hindari utang yang tidak perlu. Aku
menuruti hal tersebut. Berat rasanya karena disaat aku masih menabung,
rekan-rekan di tempat kerjaku sudah kredit iphone terbaru. Ada juga yang sudah
kredit mobil. Ada lagi yang langsung tur ke luar negeri. Aku sempat menolak
ajakan teman-teman yang suka sekali nongkrong di tempat fancy, seperti
kafe kekinian, vape store dan lain sebagainya. Pada akhirnya
sedikit teman-teman yang mau bergaul denganku. Aku bersyukur masih bisa punya
teman di perusahaan karena aku cukup jago bermain futsal, namun untuk dekat
sekali sangat sedikit. Dengan gajiku yang sekarang aku bisa bayar member
fitness di salah satu gym ruko di Jakarta yang tidak terlalu mahal harganya
member perbulannya menurutku. Sekitar dua ratus ribuan. Aku mengenal seorang
member gym yang sudah sangat sepuh dan badannya sangat bagus sehat dan
bugar. Kesan pertamaku, ini orang seram. Namun ternyata hal tersebut
terpatahkan. Ia sangat humble, dan aku berteman dengan member fitness
tersebut. Ia mengajarkanku tips dan resep makanan sehat yang murah tanpa harus
bergantung dengan catering fitness atau suplementasi. Banyak yang
kupelajari dari sobat sekaligus mentor ku itu, aku tak pernah bisa menemui dia
saat latihan sore, ia selalu dating pagi. Membuatku juga harus mau rajin datang
fitness di pagi hari. Sungguh luar biasa bisa berkenalan dengan orang
hebat seperti sobatku ini.
Bulan November, perusahaan kami mengikuti
kompetisi kejuaraan futsal antar instansi dan perusahaan di level provinsi. Aku
ikut serta. Untuk ukuran anak baru, aku cukup beruntung karena rekan kerja ku
langsung memasukkan aku sebagai bagian dari tim meskipun saat pertandingan aku
duduk di bangku cadangan. Wajar karena tidak semua karyawan mengenal aku dan
kemampuan bermain sepak bola yang kumiliki. Sistem pertandingan adalah sistem
gugur. Saat di penyisihan dengan sangat mudah dilewati oleh rekan-rekanku. Aku
bahkan belum sempat bermain. Saat masuk perempatan final, salah satu striker
kami, Mas Rian mengalami cedera serius Ketika lawan berhasil melakukan tackle
pada betis kakinya. Langsung saja pelatih kami mas Romi menunjuk aku
menggantikan Mas Rian. Langsung saja tanpa berbasa basi aku turun ke lapangan.
Aku cukup berani untuk hal ini. Aku sadar pemain lawan saat ini suka sekali
melakukan pelanggaran, terutama strikernya. Mereka mengintimidasi dengan
bermain kasar. Aku mulai masuk dan mengeluarkan kemampuan yang kumiliki. Tanpa
menunggu waktu yang lama, aku berhasil mencetak satu gol untuk rekan- rekanku.
Sorak sorai dan gemuruh dari penonton pendukung perusahaan kami mulai bangkit.
Yel-yel perusahaan kami kembali dikumandangkan. Di situ aku semakin percaya
diri. Kapten tim Mas Yan emmberi apresiasi samaku. “Anak baru, keren juga lo
main, gas terus bro.” “Oke gas kita gas kan kapten” jawabku mantap. Olahraga
rutin dan gym yang masih konsisten kulakukan sampai sekarang membuahkan
hasil, aku punya ketahanan dan kuda-kuda yang kuat. Saat striker lawan
mencoba melakukan body charging untuk menjatuhkanku saat menggiring bola, striker
tersebut yang terjatuh. Wasit sempat membunyikan peluit menduga pelanggaran
oleh diriku. Aku mencoba membela diri dan Mas Yan membantuku. Wasit
menghentikan pertandingan sejenak dan melihat rekaman ulang. Akhirnya wasit
mengeluarkan kartu kuning, kepada striker lawan tersebut, karena upaya
pelanggaran yang ternyata ia lakukan. Aku bersyukur, gemuruh suara pendukung
kami mulai menggema. Kami lanjutkan pertandingan dengan tambahan dua gol lagi
dari diriku. Malam itu sungguh berbuah manis untuk perusahaanku, kami maju ke
semi final dan ini adalah kali pertama bagi kami. Aku semakin dikenal oleh
rekan kerjaku dan entah kenapa kerjaan apapun yang membutuhkan kerjasama tim
dari divisi lain menjadi terasa mudah birokrasinya karena banyak orang yang
mengenal diriku. Sejak saat itu aku semakin memahami bagaimana seorang
laki-laki bisa disegani dan dihormati. Aku tahu ini masih awal, dan aku harus
konsisten dan tidak menyerah. Selayaknya aku harus bersyukur kepada Sang
Pencipta karena aku memiliki ayah yang hebat yang sudah menjadi inspirasi dan
motivasiku.

