iklan 1

Masterpiece

 



Masterpiece

-caritas-

“Adakah terpikir di kepalamu siapa pencipta kita itu?” ya aku pernah terpikir di benakku pertanyaan serupa. Kutahu saat pelajaran biologi masa SMA, aku berasal dari hubungan biologis ayah dan ibuku. Sehingga terjadilah pembuahan sel telur yang mengakibatkan terjadi pembelahan mitosis dan meiosis sel tersebut. Sehingga menjadikanku dalam bentuk yang sekarang. Kehadiranku bisa dijelaskan secara ilmiah. Bahkan kehadiran pohon yang saat ini berada di depan ku yang sedang merenung di kursi taman kampus ini. Tentu berasal dari biji pohon tersebut yang di tanam sedari kecil. Mungkin sudah puluhan tahun yang lalu pohon ini sudah ada, jauh lebih tua dibanding umurku yang sekarang. Ia tumbuh dan berkembang karena disirami setiap hari, diberikan pupuk setiap hari, dan tentunya di rawat dari berbagai hama dan gulma. Aku melihat seekor kucing oranye menghampiri ku. Namanya Neko. Begitu kami semua memanggilnya di kampus. Neko mengeluskan badannya ke kaki ku, seakan ingin meminta perhatian dari ku. Aku tersenyum. Kupandangi bulunya yang indah itu. Motif khas dari seekor kucing, garis - garis kuning tua dan kuning muda teratur dan tertata rapi di sepanjang tubuhnya, garis itu melingkar dari ekornya, lalu menutupi sekujur tubuhnya secara berselang seling, lalu garis di kepala berubah menjadi lurus searah ke muka. Kemudian ada dua garis khas di atas matanya yang hampir semua kucing dengan motif bulu seperti itu memilikinya. Garis – garis tersebut akhirnya berakhir di kaki mungil dan perutnya, menjadi warna putih bersih. Aku sempat terkesima melihat tubuh Neko yang luar biasa, aku mengagumi keseimbangan dan keteraturan warna tubuhnya. Padahal cuma seekor kucing ya. Kembali ku bertanya apa iya Neko hanya dilahirkan dari perkawinan kucing jantan dan betina.

Aku pulang ke rumah sambal tersenyum, membayang kan pikiran ku yang tidak jelas ini. Dalam perjalanan aku bertemu Bimo, sahabat karib ku di sekolah. Bimo anak yang rajin dan taat beribadah. Aku menanyakan pertanyaan yang sama kepada Bimo. “Bim, menurut lo, Tuhan itu beneran ada gak sih?” Bimo tersenyum dan terheran mendengar pertanyaanku. “Ya ada dong bro” jawab Bimo mantap. “Gua menjalankan kewajiban sholat gua setiap hari, terkadang gua berdoa Bro, dan selama ini, gua merasakan kalo doa gua itu terkadang ada yang dijawab, sesimpel itu bro.”  jawab Bimo.  Aku terdiam. “Lu masih ibadah kagak di gereja?” tanya Bimo. Aku masih terdiam.  “Ya udah elu, luangkan waktu sesekali ibadah bro, datengin tempet lu ibadah, ajak teman deket lo, gua tau elu sibuk, tapi coba deh luangkan waktu.” Aku tersenyum, tidak kusangka jawaban seorang Bimo yang alim itu malah mengajakku untuk kembali beribadah. "Iye, iye,  gua lagi banyak projek nih Bim, belum lagi kompetisi robot minggu depan, entar deh gua sempetin.” Jawab ku yang sebenarnya kena telak dengan ucapan Bimo. Bimo tersenyum kepada ku, kami pun melanjutkan perjalanan pulang kami.

Kompetisi robot yang antar universitas yang kuikuti akhirnya dimulai. Misi perlombaan kali ini adalah mengikuti trek lintasan garis yang disediakan dan mematikan seluruh api dari obor yang disediakan. Waktu, jumlah obor yang dimatikan dan akurasi lintasan garis yang diikuti adalah poin penilaian kali ini. Aku sudah merancang hal ini kurang lebih 6 bulan, sendirian dan hanya meminta bimbingan dari mentor ku. Robot ku kunamakan Keiko. Keiko bentuknya mirip seperti mobil mini roda empat , dilengkapi sensor api, sensor garis, dan tabung gas untuk mematikan api. Aku merancang ini sedemikian rupa dengan bahan yang lebih ringan, dan energi yang lebih efisien. Seharusnya ini akan menjadi juara, mengingat tahun lalu aku hanya mempu meraih tiga besar. Aku kalah waktu dengan Raita,  robot pesaing dari kampus biru yang cukup terkenal itu, dan kalah dari segi efisiensi energi dari Chiko, robot juara dua tahun lalu. Tahun ini mereka datang kembali, namun tidak mengecilkan semangatku untuk bersaing. Kompetisi dimulai, Raita berhasil mematikan 10 dari 10 obor yang disediakan dengan akumulasi waktu 5 menit 5 detik. Chiko berhasil mematikan 10 dari 10 obor dengan akumulasi waktu 5 menit 1 detik. Giliran Keiko, aku cukup optimis karena aku yakin bisa mengejar waktu 4 menit saja setelah simulasi beberapa kali. Menit pertama Keiko sangat lincah mematikan 5 obor sekaligus, namun di menit ke 3, hal aneh mulai terjadi. Keiko hilang kendali dan keluar dari lintasan, padahal tinggal 1 obor lagi. Aku mencoba mengendalikan, namun tetap tidak bisa, pada akhirnya Keiko berhasil kembali ke lintasan dan mematikan obor terakhir. Namun harus kuterima jika Keiko sudah menempuh waktu selama 6 menit 38 detik, itu pun sudah keluar jalur dan Keiko rusat berat sehingga mengurangi poin akurasi ku. Aku pun harus menerima jika tahun ini aku tidak masuk sepuluh besar. Aku sedih dan kecewa.

Aku ke kosanku dan melihat Keiko di hadapanku. “Padahal kamu sudah simulasi 60 kali lho dan semuanya bisa dibawah lima menit, dan tanpa keluar jalur pula” Begitu ucapku pada Keiko yang kuanggap seperti orang lain. Padahal itu hanyalah benda mati. Aku membongkar keiko dan melihat kembali apa yang salah dari benda ini. Astaga aku terkejut,ternyata di dalam cover modulnya terdapat laba-laba yang bersarang, dengan telur-telur dan anak-anaknya. Ku tak tahu akan hal ini. Tentu saja itu sangat berpengaruh dengan kinerja Keiko. Laba laba tersebut terbakar bersama dengan telur-telur yang bersarang di situ. Mungkin karena sengatan listrik dan panasnya modul Keiko. Aku menepuk jidatku. Kenapa ya bisa begini. Di samping itu aku yang awal nya jengkel dengan laba-laba tadi menjadi kasihan dengan nya. Ia mati karena merawat anak-anaknya. Kulihat jenis laba-laba itu, juga bukan jenis yang biasa seperti laba-laba rumahan pada umumnya. Tubuhnya berbulu dan cukup besar. Kulihat-lihat lagi baik-baik. Astaga ini peliharaannya Tommy yang kabur dari sarangnya. Tommy sahabatku penggemar serangga dan laba-laba. Ia koleksi beberapa jenis hewan tersebut dan Sebagian ia pelihara sebagai hobi dan bisnis. Aku langsung memberitahunya karena ia sempat posting kehilangan laba-laba tersebut di facebook storynya.

Aku ke rumah Tommy dan membawakan bangkai dari laba-labanya. Tommy sangat sedih dan kehilangan dengan laba-laba itu. Ia menamainya, Bleki. Aku sangat paham dengan perasaannya yang kehilangan Bleki saat itu. Karena disaat itu juga aku kehilangan Keiko, robotku. Aku pamit dari Tommy dan berjalan pulang, Tommy berterima kasih kepadaku karena sudah memberi tahu keberadaan Bleki, laba-labanya meskipun sudah mati. Sejenak aku berpikir. Jika aku sendiri bisa sesedih ini kepada sesuatu yang kumiliki, bahkan kurancang. Bagaimana dengan yang sudah menciptakanku? Apakah ia sedih jika kehilangan diriku? Aku yang Dia kreasikan sedemikian rupa ini, harusnya aku dan ciptaanNya yang lain adalah masterpiece dariNya, disaat aku hanya mampu merancang Keiko yang pun masih belum sempurna. Aku merenung setelah pulang dari rumahnya Tommy.  Ada benarnya juga yang dikatakan Bimo samaku. Aku jujur malas ke gereja, apalagi semenjak aku mendapat pengetahuan ilmiah tentang bagaimana dan apa itu dunia, membuatku tidak percaya dengan yang di atas. Namun aku mengakui keterbatasanku, dan aku pikir tidak ada ruginya untuk berkeyakinan dan menjalani keyakinan itu. Dengan terbatasnya diriku, aku kembali beribadah, mencari Sang Pencipta.

 


LihatTutupKomentar
Cancel

iklan 3