Sobatku
-caritas-
Tahun
ini adalah tahun kelulusanku di kampus setelah empat tahun menjalani kuliah di
salah satu universitas negeri ternama di daerahku. Setelah kelulusan apa yang
harus kulakukan? Tentu saja mencari pekerjaan. “Dunia kerja tidak seindah yang
kamu bayangkan” ucap salah seorang alumni kampusku yang bertemu denganku saat
wisuda. Namun aku tidak terlalu memikirkan kata-kata tersebut. Menurutku saat
dalam dunia kerja ini lah waktunya kita mulai mapan secara finansial, bebas,
dan bisa mengatur sendiri bahtera kehidupan kita tanpa harus lagi bergantung
sama orang tua atau siapapun yang menanggung kita secara pribadi. Itu prinsip
yang kupegang karena selama menjalani kehidupan perkuliahan, aku aktif di
beberapa organisasi kampus, aku juga mengambil kerja part time sebagai guru
bimbingan belajar, sehingga miniatur dunia pekerjaan dan organisasi sudah
terbayang seperti apa olehku.
Kubuat CV dan lamaranku di beberapa
perusahaan ternama di Indonesia, perusahaan BUMN dan perusahaan multinasional
ternama. Aku pelajari betul setiap bidang dan divisi yang ingin aku lamar
karena harus sesuai dengan kompetensiku sebagai mahasiswa lulusan teknik
elektro. Hari Selasa malam, aku mendapatkan email
dari HRD salah satu perusahaan BUMN ternama yang pada intinya tertarik dengan
CV ku dan akan melakukan interview di
hari Senin depan untuk menguji kelayakaanku bekerja di perusahaan tersebut.
Kebetulan perusahaan ini merupakan top
tiga pilihan teratasku. Ada juga email
balasan dari perusahaan lainnya. Namun aku memprioritaskan pada perusahaan BUMN
ini dikarenakan ini adalah salah satu impian dan keahlianku di bidang tersebut.
Hari interview telah tiba, dan aku
berhasil melewati hari itu dengan baik, pertanyaan “Apa alasan anda memilih
bekerja di bidang ini” dan “Anda ingin gaji berapa” sudah yakin kujawab dengan
benar karena aku sudah melihat tips dan trik di internet. Singkat cerita, aku
lulus sesi interview dan mulai masa
magang selama enam bulan di perusahaan baru ku tersebut. Tentu saja aku sangat
bahagia. Namun aku harus menerima keputusan untuk ditempatkan di seluruh daerah
di Indonesia, saat itu aku harus ke daerah timur di Indonesia sebagai
penempatan awalku. Akupun harus rela dan siap meninggalkan tempat tinggal
orangtua ku dan mulai merantau.
Hari pertama di tempat kerja berjalan
dengan lancar, aku sebagai anak baru dan tiga orang lain rekan sejawatku
langsung disambut oleh teman-teman sekantor dan diperkenalkan satu-per satu.
Selama training enam bulan kami sudah di tempatkan di divisi masing-masing
sesuai kebutuhan kantor. Kebetulan hanya aku anak baru laki-laki di divisi itu,
temanku yang lain semuanya perempuan. Rekanku perempuan di tempatkan di bagain
admin dan keuangan. Aku ditempatkan di bagian teknisi jaringan. Di ruanganku
seluruh teknisi bekerja dengan serius, rata-rata semuanya jauh lebih senior di
atasku. Sambutan yang hangat di awal tidak terasa ketika masuk ruangan ini. Dingin
dan seram rasanya. Tiba-tiba salah seorang pekerja disitu menghampiri aku dan
mengajak berkenalan. Dia sangat ramah dan terbuka. Aku memanggilnya Bang Jeki.
Kesan pertamaku mungkin inilah rekan dan sahabatku bekerja nanti. Bang Jek ini
hanyalah satu-satunya di ruangan kerja yang paling banyak berkomunikasi
langsung denganku. Tidak seperti rekan-rekan lain yang lebih banyak diam dan
hanya fokus bekerja. Aku bercita-cita ingin menjadikan suasana lingkungan kerja
ku menjadi nyaman.
Bang Jek ini banyak berbagi ilmu
pekerjaannya kepadaku. Sehingga akupun mulai memahami teknis pekerjaan dan
dapat mengerjakan apa yang dia kerjakan. Bang Jek sering juga ajak nongkrong
dan mentraktir aku makan saat masa-masa belum gajian. Ia juga sering membela
aku saat terjadi kesalahan dalam pekerjaan ku saat evaluasi oleh tim pengawas.
Seolah-olah aku jadi seperti berutang budi yang banyak dengan rekan ku ini.
Semakin hari semakin sering kami nongkrong dan ngobrol bersama. Aku jadi
mengetahui bahwa Bang Jek ini cukup berprestasi di divisinya selama dia
bekerja. Aku ingin mengajak rekan lain untuk join ngobrol bersama kami karena
pembahasan kami menurutku sangan seru dan bermanfaat, namun Bang Jek
menyarankan aku untuk tidak mengajak rekan satu ruangan dikarenakan menurut
Bang Jek mereka “tidak beres” dan “banyak masalah”. Sepintas aku heran dengan
perkataan ini, namun aku tidak mengambil pusing toh’ mereka yang lain juga
tidak pernah menyapaku dan akhir-akhirnya seperti menatapku sinis dalam
bekerja.
Sekarang aku sudah setahun bekerja dan
cukup memiliki tabungan, aku mulai membeli sepeda motor pertamaku, pindah ke
kos yang lebih dekat dan bersih, membeli semua kebutuhan ku yang dapat
menunjangku dalam bekerja. Setahun bekerja, hanya Bang Jek temanku. Aku
merenung dan berpikir, kenapa aku hanya berteman dengan dia dan tidak membuka
pertemanan dengan yang lain. Rekanku tiga orang perempuan sudah akrab dengan
banyak orang, sementara aku hanya pada satu orang saja. Impianku untuk
menyatukan divisi menjadi tidak dapat terealisasi. Parto salah satu kawan
divisiku mengajakku nongkrong dengan rekan-rekan satu divisiku yang lain. Aku
sungguh senang karena kali ini kami dapat berkumpul bersama. Dulu pernah diajak
namun Bang Jek selalu menahan dan tidak menyarankanku bergaul dengan mereka. Menurut
Bang Jek teman-teman kantor itu kebanyakan iri karena prestasi Bang Jek yang
cukup mencolok selama di kantor, sehingga banyak yang tidak menyukai dia. Kucoba
mengajak Bang Jek kembali agar datang ke acara itu, namun seperti biasa ia
menolak dan menyarankan aku untuk tidak ikut. Akupun mengurungkan niat.
Suatu hari Bang Jek menelepon aku dan
meminta tolong padaku untuk meminjamkan uang padanya karena ia sedang merawat
ibunya yang sedang diopname di rumah sakit. Nominalnya cukup besar, dua kali
gajiku selama sebulan. Aku mengecek tabunganku, jika aku ambil maka akan
berkurang setengahnya. Aku tidak berpikir panjang, aku langsung mentransfer
uang itu dengan yakin karena Bang Jek berjanji akan mengembalikan bulan depan.
Belakangan Bang Jek menjual mobil miliknya, alasannya untuk biaya berobat
ibunya, dan sekarang ia sering meminjam sepeda motorku untuk bepergian, aku
dengan senang hati menolongnya, toh’ aku juga tidak menggunakan kendaraanku,
dan aku merasa berutang budi banyak dengan abang ini. Bulan berikutnya aku
menagih utang pinjaman Bang Jek. Aku yakin dia akan mengembalikannya. Namun,
ternyata diluar ekpektasi ku, ia belum memiliki cukup tabungan dan memintaku
untuk memberi waktu bulan depan lagi. Bulan depan aku menagih kembali, namun
Bang Jek masih beralasan belum memiliki cukup tabungan dan harus menombok biaya
rumah sakit yang besar. Aku yang kasihan akhirnya memberi dia waktu enam bulan
lagi sampai kondisi keuangannya membaik. Belakangan diperkerjaan Bang Jek
sering terlambat masuk, hampir semua pekerjaan dia terpaksa aku yang handle karena tidak ada karyawan yang
mau mengurus bagian itu. Aku sempat kewalahan selama beberapa minggu. Aku
sering pulang larut malam untuk membantu pekerjaan Bang Jek. Aku sampai harus
pulang berjalan kaki karena motor ku belum dikembalikan oleh Bang Jek. Aku
menelepon dia dan Bang Jek mengatakan bahwa ia masih menemani ibunya berobat di
rumah sakit. Segala kepenatanku saat itu dan emosiku langsung sirna ketika
mendengar alasan Bang Jek yang sangat mulia menjaga keluarganya.
Sampai suatu malam aku pulang malam
bersama divisiku saat penugasan luar kota, kami menggunakan mobil kantor, kami
menyusuri bagian kota dan melewati salah satu tempat hiburan malam. Saat di
mobil Mas Parto bercanda kepadaku, “Kamu mau biasa main ke sini nggak?” Kami seisi mobil langsung tertawa. “Ya enggak
lah Mas” jawabku. “Lho masa enggak?”
jawab seorang temanku. Seisi mobil terheran-heran melihat jawabanku.
Namun bukan itu yang mengalihkan perhatian ku. Aku melihat sepeda motorku di
parkiran salah satu pub tempat
hiburan malam. Sejenak aku menyuruh Mas Parto menghentikan mobil untuk
memastikan itu motorku. Benar saja, itu sepeda motorku. Aku mulai curiga dan
langsung menanyakan kasir atau entah apa namanya di bagian depan Pub itu. Dan benar saja yang menaiki
motorku adalah Bang Jek, sesuai ciri-ciri yang kusebutkan dan dia adalah
pelanggan favorit di Pub tersebut
menurut kasir tersebut, dan saat ini dia baru saja datang. Kasir tersebut
menawarkan paket malam samaku, namun aku menolak dan pulang. Dari kejauhan Mas
Parto dan rekan ku yang lain melihatku dengan iba seolah mengerti yang terjadi
denganku. Ternyata benar, Bang Jek punya kebiasaan buruk dalam mengelola
keuangan, dan kebiasaan buruk sering terlibat dalam dunia malam. Aku mencoba
mengcounter dengan alasan bahwa
“Ibunya sedang sakit”. Langsung dibantah oleh Mas Parto sebagai rekanku, bahwa
ibunya Bang Jek sampai saat ini masih sehat-sehat saja kondisinya. “Kamu adalah
korban kesekian” dengan tegas Mas Parto mengungkapkan.
Aku terdiam dan mulai merenungkan kejadian selama setahun
belakangan ini. Benar bahwa selama ini Bang Jek berusaha menutup komunikasi dan
pertemananku dengan yang lain, membuatku tidak percaya dengan rekan lain,
bahkan berpikir negatif sebelum mengenal mereka. Aku tidak terima bahwa aku
ternyata “ditipu”. Mas Parto dan rekan yang lain yang kuanggap pendiam, kaku
dan serius itu ternyata dari dulu sudah berusaha mengajakku ke pertemanan yang
lain. Hanya saja mereka tidak berhasil untuk hal tersebut karena aku sudah
berteman dengan Bang Jek. Tentang tabunganku yang sudah kupinjamkan dengan dia,
kata Mas Parto kamu jika tak sanggup menagih kamu harus merelakan, jika masih
sanggup maka lawan. Karena bukan hanya aku yang pernah dia tipu dengan “cerita
sedih” dari bang Jek, banyak juga anak-anak baru yang pernah menjadi korbannya.
Kejadiannya ini semakin membukakan mataku bahwa memang banyak yang belum
kuketahui di dunia kerja ini, aku menjadi belajar untuk tidak sembarangan
percaya orang sebelum benar-benar mengenal mereka secara pribadi. Harusnya
sejak awal aku sudah mencium hal janggal dari pertemananku dengannya. Setelah
ini aku memutuskan untuk ambil sikap dengan tegas untuk meminta kembali hakku
dengan Bang Jek. Aku senang karena rekanku yang lain di mobil malam itu dengan
senang hati akan membantuku dalam hal itu. Pada akhirnya orang yang selama ini
aku kira buruk adalah orang yang benar-benar tulus kebaikannya menolongku, saat
itu lah aku mendapatkan sobatku di tempat kerja.

