Tak Terlupakan
-caritas-
Aku memeluk ibuku dan adik-adikku, kami melepas haru, bahagia
dan sedih karena harus berpisah dengan jarak. Kala itu kami di Bandar Udara
Kuala Namu. Pengumuman dari maskapai untuk segera melakukan boarding pesawat
terbang mengharuskanku untuk segera melepaskan keluarga kecil yang teramat
sangat kusayangi. Aku pergi merantau. Aku mendapatkan pekerjaan pertamaku
setelah sekian banyak lamaran kerja yang ditolak kepadaku. Aku bekerja di salah
satu instansi milik pemerintah. Instansi tersebut mengharuskan kami untuk
bersedia ditempatkan di mana saja. Saat pengumuman kelulusan betapa bahagianya
diriku akhirnya mendapatkan pekerjaan yang bisa dibilang layak. Aku bangga dan
bahagia bisa menaikkan derajat keluargaku yang dari kalangan orang biasa saja.
Namun di sisi lain aku harus sedih dikarenakan harus berpisah dengan mereka,
dikarenakan penempatan kerjaku di salah satu daerah di Kalimantan. Kuucapkan
selamat tinggal dan sampai bertemu kembali kepada ibuku dan adik-adikku. Aku
memulai perjalananku.
Satu tahun telah berlalu, aku menjadi pegawai yang tangguh
dan dapat diandalkan di lingkungan kantor. Aku punya sahabat yang baik, namun
tidak terlalu banyak teman dekatku. Sebagai anak baru aku termasuk yang paling
cepat belajar dan menguasai keadaan. Aku mampu beradaptasi dengan baik di
lingkungan yang berbeda budaya, berbeda logat bahasanya, dan berbeda
suasananya. Pimpinanku bangga dan cukup puas dengan kinerja yang kulakukan.
Pekerjaan yang kugeluti saat ini berhubungan dengan pelayanan publik, tak
sedikit juga perizinan beberapa kegiatan usaha arus melalui kami. Sehingga pada
intinya pekerjaan kami ini sangat rawan dengan korupsi, kolusi dan nepotisme.
Aku bersyukur dengan pekerjaanku yang sekarang. Aku bisa menikmati ritmenya
dibandingkan saat masa kuliah yang harus bekerja part time untuk
menutupi biaya kuliah dan bulananku. Aku juga bersyukur dengan penghasilanku
yang sekarang, lebih dari cukup dan aku bisa menyisihkan sebagian untuk kutabung
dan kukirim kepada Ibu di kampung.
Masuk diawal tahun kedua, muncul pihak sales dari
kredit dan bank yang menawarkan berbagai promo menarik terkait pinjaman dan
kartu kredit dengan bunga yang menarik. Sebagian besar pegawai di tempat
kerjaku mengambil pinjaman tersebut. Saat itu persyaratan yang kuingat adalah
kredit tanpa agunan yang hanya bermodalkan surat keputusan pegawai kami. Karena
banyak yang memakai dan mengambil, aku yang tidak begitu paham mencoba meminjam
ke bank. Tujuannya untuk kredit mobil. Aku ingin terlihat berhasil juga di mata
orang-orang dengan pekerjaan ku yang sekarang. Tanpa perlu waktu lama, aku
berhasil membeli mobil pertamaku dengan kredit. Aku bangga dan memberitahukan
kepada ibu dan adik-adik di rumah. Sesaat itu makin banyak teman yang dekat
samaku. Mereka suka diajak jalan bersama, tentu saja dengan mobil pribadiku.
Tak kusangka setelah melewati beberapa bulan. Aku mulai terbeban dengan cicilan
mobilku. Cicilan yang mengambil 40% dari total penghasilanku membuatku mulai
harus berhemat untuk pengeluaran. Cicilan ini pun harus kulalui selama tujuh
tahun, sehingga cukup memberatkan. Perlahan aku mulai menyesal dan kecewa dengan
diriku sendiri yang tidak dan kurang memahami mengenai literasi keuangan.
Empat tahun berlalu, aku promosi naik jabatan. Posisiku
saat ini cukup strategis dan membutuhkan kinerja yang lebih ekstra dan teliti.
Aku bertemu dengan teman baru di posisi jabatan yang sama. Tentu saja di
kondisi itu aku masih memiliki cicilan mobil dan tanggungan keluarga. Awalnya
aku disambut baik dengan rekan kerja ku. Aku diperkenalkan dengan pekerjaan
baru dan cara mengerjakannya dengan efisien. Hari pertamaku bekerja aku
langsung disambut kepala kantorku dan diajak ke ruangan untuk berbicara
beberapa hal. Pada intinya kepala kantorku menegaskan untuk tidak menerima
apapun dari klien sehubungan dengan pekerjaan kami secara langsung
maupun tidak langsung karena pekerjaan kami saat itu cukup rawan dengan yang
namanya gratifikasi maupun suap. Hari berikutnya kami melakukan sosialisasi.
Rekanku yang lebih senior mengajakku untuk ke lapangan Bersama. Aku saat itu
membawakan materi sosialisasi. Semua berjalan dengan lancer. Namun ada hal yang
tak biasa kulihat di akhir acara. Rekanku menerima amplop dari klien yang
mengundang kami. Saat perjalanan pulang, rekanku tidak membahas soal amplop
tadi dan hanya diam saja kepadaku. Hari berikutnya juga aku ikut ke lapangan bersama
rekanku yang kemarin. Kami ke salah satu tempat yang cukup popular di daerah
tersebut, klien kami adalah salah seorang yang cukup berpengaruh
didaerah tersebut. Pulang dari kegiatan rekanku tadi menerima amplop dari
klienku. Aku tidak terlalu peduli dan membahas hal tersebut. Aku hanya berfokus
pada tugas dan pekerjaanku. Saat perjalanan pulang, rekanku tadi membuka amplop
tersebut dan tampaklah pecahan uang ratusan ribu rupiah yang sedang ia hitung.
Ia mengambil beberapa lembar dari uang tersebut dan memberikannya kepadaku.
“Apa ini bang?” tanya ku. “Udah elu ambil aja, kerjaan kita ini.” “Bukannya enggak
boleh..?” pungkasku. “Enggak, ini rezeki
gua sama lo, anggap aja traktiran gua ke elo bro selaku senior yang baik” jawab
rekanku itu. Aku yang masih berusaha berpikir positif lalu menerima uang tersebut dengan polosnya
dan mengatakan “Wah, makasih Bang, ga rugi nih?.” Kami pun tertawa lepas pulang
dari kegiatan tersebut.
“Wah bisa juga ya nyari sampingan di kerjaan ini” gumam
ku dalam hati. Ini kali keempat aku menerima ceperan dari rekanku. Ia paham
betul mana klien yang berpotensi untuk memberikan amplop pada kami. Ia
juga sudah punya koneksi yang baik dengan orang dalam di klien kami
tersebut. Aku bagaikan asisten pembantu rekanku tersebut dan ia manajernya.
Dalam hati aku mulai ragu dengan hal tersebut. Hati nuraniku berkata untuk
menolak uang tersebut. Aku mulai meyakinkan diriku semenjak kali pertama aku
menerima uang tersebut. Banyak kesialan terjadi dalam hidupku. Hati tidak
tenang, ibu mulai sakit, mobil ku tabrakan, dan tiba-tiba banya pengeluaran tak
terduga yang cukup signifikan. Malam itu aku berdoa kepada Yang Mahakuasa. Aku
merasa bersalah, seharusnya tak kuterima uang tersebut. Aku mulai
merasionalisasikan penerimaan uang tersebut dengan mengatakan “Ah. yang lain
juga begitu kok”. Namun kembali lagi ini tidak benar. Keesokan hari aku kembali
dan mengambil sikap. Aku tarik tabunganku di ATM sejumlah uang yang pernah
kuterima dari rekanku. Hari itu juga uang itu kukembalikan ke dia. Aku juga
menyatakan tidak akan menerima lagi amplop tersebut karena aku tahu itu salah.
Aku mencoba menyadarkan rekanku itu juga. “Hahaha, elu terlalu idealis bro, lu
harus realistis, gaji elu itu kecil, lu punya cicilan, lu punya keluarga,
dengan beginilah elu bisa hidup normal. Lu yakin?” Aku menjawab dengan yakin,
“Iya Bang, udah berhenti aja Bang, enggak berkah itu, daripada ketahuan ntar” .
“Berkah enggak berkah bukan elu yang nentuin sob, lu bukan Tuhan, kalo lu gak
mau terima ya udah, tapi lu jangan ikut campur sama masalah kita, apalagi lu
ngadu ke atasan, awas aja lu!” Rekanku
melangkahkan kaki meninggalkan aku. Aku hamper terbawa emosi juga sekaligus
takut, namun dalam hati kecil aku puas sudah mengembalikan sesuai\tu yang bukan
hakku. Aku siap jika harus dimusuhi satu ruangan kantorku dengan hal ini, yang
penting hatiku tenang dan lega. Aku hidup dari uang halal dan aku yakin Sang
Mahakuat akan membukakan solusi atas masalahku dengan cara yang benar dan indah
. Pengalaman yang tak terlupakan dalam hidupku.

