"PASSION DAN MIMPI-MIMPI
SEDERHANA"
Di Kafe Ruang Impian
Ellon: (duduk di pojokan kafe, melihat keluar
jendela) Ah, hidup ini seperti terjebak di antara jendela kaca dan mimpi-mimpi
sederhana.
Cayth: (tiba-tiba menghampiri setelah memesan
minuman) Hei, Ellon, ada apa? Mengapa raut wajahmu terlihat kusut dan lesu, seperti
ada beban pikiran yang amat berat.
Ellon: (menghela nafas dan sontak sedikit kaget) Eh Cayth… Oh, tidak Cayth, aman-aman aja ko…
aku lelah dengan rutinitas monoton ini. Pekerjaan kantoran membuatku kehilangan
keseimbangan antara mimpi dan kenyataan.
Cayth: (mengambil tempat duduk di depan Ellon) Hm…
sepertinya aku kurang yakin dengan respon dirimu. Ellon, ceritakanlah padaku.
Mungkin aku bisa memberikan sudut pandang yang berbeda.
Ellon: (langsung mengalihkan pembicaraan) Tidak
ada masalah kok Cayth. Oh iya, kamu mau ngapain ke Kafe Ruang Impian ini? Tadi
datang dengan siapa? Setiap hari, aku
terjebak dalam aturan dan tuntutan perusahaan. Impian-impian kreatifku
sepertinya semakin menjauh.
Cayth: Oh baiklah. Aku berangkat sendiri Ellon
dan hanya berencana me time saja kesini. Bagaimana dengan kamu, Ellon?
Apakah ada kerjaan atau keperluan penting ke kafe ini? Tapi kamu tahu, hidup
ini tidak hanya tentang aturan dan rutinitas. Ada begitu banyak warna di luar
sana yang bisa kita jelajahi.
Ellon: (sontak menjawab lantang serta dengan nada
suara yang sedikit tinggi) Kenapa kamu bahas kerjaan? Aku kurang nyaman ya
bahas kerjaan disini, tidak usah disinggung ya Cayth. Aku tidak suka membahas kerjaan di tempat ini,
sangat mengganggu dan merusak mood. (menatap Cayth) Tapi bagaimana, Cayth?
Bagaimana aku bisa membebaskan diri dari belenggu ini?
Cayth: (dengan perasaan yang sedikit kaget) Oh,
baiklah Ellon, maaf ya aku tidak bermaksud.
Cayth pun bertanya-tanya dalam dirinya. Cayth
merasa respon Ellon terlalu berlebihan saat Cayth bertanya pertanyaan yang sama
seperti yang dilontEllonn Ellon. Namun, Cayth selaku rekan kerja yang sudah kenal
baik dengan Ellon, mencoba berpikir positif. Cayth berpikir bahwa Ellon lagi
dalam kondisi tubuh yang cukup lelah, sehingga Ellon cukup cepat tersinggung.
Perbincangan mereka pun terus berlanjut di Kafe
Ruang Impian. Mereka saling bercanda tawa dan cerita satu dengan yang lain.
Cerita mereka sangat beranekaragam, mulai dari percintaan, lelucon, pengalaman
masa kecil, dan lain-lain. Semua cerita atau pengalaman mereka bahas kecuali
terkait dunia kerja.
Kantor Jendela Kaca
Suasana kantor yang penuh dengan suara keyboard
dan telepon berdering.
Ellon: (dengan wajah lesu) Hari ini rasanya sama seperti
kemarin dan kemarinnya lagi ya, Cayth.
Cayth: (tiba-tiba kaget mendengar ucapan Ellon)
Mengapa kamu bilang begitu?
Ellon: Ya iya, coba aja kamu ingat dan renungkan,
Cayth. Setiap hari, sama monotonnya.
Cayth: (mengangguk) Iya juga ya, Ellon. Apa yang
kamu katakana, ada benarnya juga. Kadang-kadang rasanya seperti kita hanya
bagian dari mesin besar ini, bukan?
Ellon: (menghela nafas) Betul sekali. Aku
merindukan warna di dalam hidupku. Impian-impian sederhana yang sepertinya
semakin menjauh.
Cayth: (tersenyum dan sambal menyemangatin Ellon)
Wah, bagus itu Ellon, kamu jangan langsung menyerah dengan keadaan dan aku
yakin kamu pasti bisa. Impian sederhana itu tak boleh padam, Ellon. Mungkin
kita hanya perlu melihat dari sudut pandang yang berbeda. Lalu, kita juga harus
sabar dan mau menikmati setiap proses serta waktu yang Tuhan berikan.
Bos 01 Kantor Jendela Kaca
Suara pintu kantor yang terbuka, Mr. Praroro
masuk.
Mr. Praroro: Pagi, Ellon, Cayth. Laporan proyek
sudah harus selesai hari ini, jadi harap segera menyelesaikannya.
Ellon: (mengangguk) Baik, Pak Praroro.
Cayth memberikan pandangan bermakna pada Ellon.
Cayth: Ayo, Ellon. Kita bisa menyelesaikan ini
dan kemudian kita bicarakan mimpi-mimpi kita.
Pertemuan Membawa Pencerahan
Cerita berlanjut ke malam hari. Ellon dan Cayth
bertemu di sebuah kafe.
Ellon: (mengaduk kopi) Sialan rutinitas ini. Apa
yang kita cari sebenarnya, Cayth?
Cayth: (tersenyum) Mungkin jawabannya ada di luar
sana, Ellon. Aku tahu ada sebuah pameran seni lokal yang bisa merubah
pandanganmu.
Ellon: Pameran seni?
Cayth: Ya, aku yakin itu akan memberimu
perspektif baru. Ayo, cobalah.
Ellon: (dengan antusias merespon) Wah, boleh juga
itu. Kita cari suasana baru, siapa tahu bisa mencairkan hati yang hamper beku
atau mendinginkan pikiran yang panas ini.
Cayth: (sedikit
tertawa dengan respon Ellon, lalu merespon dengan senyuman penyemangat) Setuju,
Ellon! Pertama, kamu harus berani mengambil risiko. Aku berikan info ini ke
kamu, karena kegiatan ini juga pernah membuat aku mengenali diri lebih lagi dan
bisa hidup lebih baik. Pameran seni itu membuat aku sadar akan betapa
pentingnya menjalani hidup sesuai dengan passion kita dan disana kita
akan bisa menikmati namanya hidup.
Ellon: (mengangguk) Iya, Cayth. Terima kasih
untuk info sekaligus dukungannya. Oh iya, itu pameran seni apa? Dimana?
Cayth: Di Galeri Kreatif, dekat taman kota. Ayo
pergi bersama besok. Siapa tahu, itu bisa menjadi titik balik untukmu.
Hari di Galeri Kreatif
Cerita berpindah ke pameran seni, di tengah seni
yang mencengangkan dan kreativitas yang luar biasa.
Ellon: (mengamati lukisan) Ini begitu... indah.
Aku merasa seperti terhubung dengan dunia yang lain.
Cayth: (senyum) Itulah seni, Ellon. Mampu membuka
mata kita pada keindahan dan kemungkinan yang tak terbatas.
Ellon: (mengagumi lukisan-lukisan) Ini luar
biasa, Cayth. Aku merasa seperti menemukan inspirasi yang hilang.
Cayth: (senyum dan penuh antusias merespon Ellon)
Mantap, Ellon! Syukurlah kamu bisa menikmati setiap keindahan dari seni ini dan
kamu mendapatkan makna yang mampu menyemangati dirimu sendiri.
Ellon: (tersenyum dan menghela nafas, Ellon pun
sambil berpikir) Aku rasa, aku harus mengambil risiko. Mengejar passion-ku.
Ini bukan hidup yang ingin aku jalani.
Cayth: (tersenyum) Lihatlah sekitar, Ellon. Dunia
ini begitu indah dan penuh kemungkinan. Kenapa kita tidak mencoba mengejar
mimpi-mimpi kita?
Ellon: (berpikir) Tapi bagaimana dengan pekerjaan
dan atasan saya, Mr. Praroro? Mereka tidak akan memahami.
Cayth: (memegang bahu Ellon) Kamu harus memilih, Ellon.
Apakah ingin tetap terjebak di antara jendela kaca itu atau mengambil risiko
untuk mengejar passion-nya.
Konfrontasi dengan Mr. Praroro di Kantor Jendela
Kaca
Cerita berlanjut ke kantor, di ruang pertemuan.
Ellon: (berani) Mr. Praroro, saya perlu bicara dengan
Anda.
Mr. Praroro: (serius) Apa yang terjadi, Ellon?
Ellon: Saya merasa terkekang di pekerjaan ini.
Saya memiliki mimpi-mimpi sederhana yang ingin saya wujudkan.
Mr. Praroro: Ellon, apa maksudmu dengan ini?
Mengambil cuti untuk mengejar hobi?
Ellon: (tenang) Saya ingin mencoba sesuatu yang
baru, Pak Praroro. Sesuatu yang sejalan dengan impian sederhana saya.
Mr. Praroro: (dengan sedikit nada marah) Kau tahu
betapa pentingnya stabilitas perusahaan! Ini tidak masuk akal.
Ellon: (tenang) Saya minta maaf, Pak Praroro,
tapi saya perlu melakukan ini untuk diri saya sendiri.
Mr. Praroro: (berpikir) Sekali lagi, pekerjaan
ini penting untuk stabilitas perusahaan, Ellon. Mengubah hal itu bisa berakibat
buruk.
Ellon: (tegas) Saya mengerti, tapi saya juga
perlu hidup. Saya memutuskan untuk mengambil risiko dan mengikuti passion
saya, Pak.
Mr. Praroro: (mengangguk) Baiklah, Ellon. Semoga
keberanianmu membawa hasil yang baik.
Perjalanan Ellon Mengejar Passion-nya
Cerita mencapai klimaks dengan Ellon mengambil
risiko besar untuk mengejar passion-nya.
Cayth: (memberikan dukungan) Aku bangga padamu, Ellon.
Inilah awal dari sesuatu yang besar.
Ellon: (mengembangkan kreativitas) Ini adalah
keputusan terbaik yang pernah aku buat. Aku merasa hidup ini lebih berwarna
sekarang.
Cayth: (tersenyum) Tidak apa-apa, Ellon. Itu
adalah keputusann yang berani dan baik. Kamu harus membuktikan bahwa kamu bisa
mengejar mimpi-mimpimu, meskipun di tengah keterbatasan.
Ellon: (tersenyum) Terima kasih, Cayth. Aku
merasa hidupku sekarang penuh warna.
Puncak Cerita di Pameran Seni Ellon
Cerita berlanjut dengan transformasi Ellon yang
memengaruhi hubungan dengan rekan kerja dan atasan.
Ellon: (berbicara di depan pengunjung pameran)
Terima kasih semua yang telah datang. Ini adalah hasil dari perjalanan panjang
menuju kebebasan dan kreativitas. Jangan takut untuk mengikuti passion
kalian!
Pengunjung: (bertepuk tangan) Bravo, Ellon!
Rekan Kerja: (mengagumi) Hebat, Ellon! Kami tidak
tahu kamu memiliki bakat seperti ini.
Mr. Praroro: (memikirkan) Mungkin saya memang
terlalu ketat. Kreativitas ini sebenarnya membawa warna baru untuk perusahaan.
Kebahagiaan Dari Puncak Keberhasilan
Akhir cerita menuju puncak dengan Ellon mencapai
impian kreatifnya.
Ellon: (menyampaikan pidato) Ini adalah bukti
bahwa kita bisa mengubah hidup kita dengan mengambil risiko dan mengejar
passion kita. Kreativitas bukanlah ancaman, tapi kekuatan yang bisa membuat
kita lebih baik.
Cayth: (menggenggam tangan Ellon) Kamu berhasil, Ellon.
Mimpi-mimpi sederhanamu kini menjadi kenyataan.
Ellon: (tersenyum) Ini semua berkat dukunganmu
dan keberanian untuk mengambil risiko. Terima kasih, Cayth.
Cerita mencapai penyelesaian dengan Ellon
menemukan kebahagiaan dalam keputusannya.
Ellon: (menutup buku catatannya) Mimpi-mimpi
sederhana bisa menjadi kenyataan jika kita berani mengambil langkah.
Kreativitas adalah cahaya di antara jendela kaca.
Ikuti Passion Diri
Cerita diakhiri dengan pesan moral tentang
pentingnya mengejar passion dalam karier dan hidup.
Cayth: (tersenyum) Ellon, kau adalah inspirasi
bagi kita semua.
Ellon: (tersenyum) Semua orang bisa menemukan
warna dalam hidup mereka, Cayth. Mereka hanya perlu berani mencari.
Percakapan diakhiri dengan harapan bahwa setiap
jendela kaca dalam hidup kita dapat menjadi pintu menuju mimpi-mimpi sederhana
yang luar biasa.
Cerita ini mengajEllonn kita bahwa hidup tidak
selalu harus terjebak di antara jendela kaca. Melalui keberanian dan
pengambilan risiko, kita bisa mengubah rutinitas monoton menjadi kisah hidup
yang penuh warna dan makna.

