Milo
-caritas-
Aku punya anjing kecil, namanya
Milo, dia bukanlah anjing ras seperti anjing peliharaan seperti yang dimiliki
tetanggaku. Dia hanyalah anjing kampung seperti pada umumnya. Milo merupakan anak
anjing pemberian sahabat papaku. Anjing jantan dengan warna dasar bulu putih.
Milo memiliki corak berwarna cokelat pada badannya. Sehingga warna badannya
putih cokelat. Induknya memiliki warna dasar putih dan cokelat juga. Sempat ku
melihat saudara-saudari Milo saat pertama kali bertemu Milo di rumah sahabatku.
Anak-anak anjing itu kebanyakan berwarna hitam, cokelat, kurang lebih ada tujuh
ekor. Hanya Milo yang memiliki warna putih, sehingga akupun memilihnya sebagai
hewan peliharaanku. Betapa senangnya aku saat itu bisa memiliki hewan
peliharaan yang dapat kupelihara sejak masih kecil.
Saat ini aku sudah duduk
di bangku SMA, mungkin sekitar umur lima belas tahun. Dulu saat masih SD, aku tinggal
bersama kakek, masa kecilku lebih banyak kuhabiskan bersama kakekku karena kedua
orang tuaku yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Papa saat itu harus bekerja di
luar negeri dan hanya bisa pulang ke Indonesia sekali per enam bulan. Mama juga
kurang lebih begitu, bekerja di salah satu perusahaan multinasional dan
memegang jabatan penting, sehingga sering kali bertugas ke luar kota dan harus
meninggalkan ku bersama dengan kakek di rumah nya. Kakekku juga hidup seorang
diri di rumah, aku sangat bersyukur karena kakekku sangat sehat dan bugar, ia
menjaga betul pola makannya dan setiap pagi selalu jalan pagi untuk
berolahraga. Kakek selalu mengantar dan menjemputku ke sekolah dengan sepeda
motor andalannya. Motor legenda. Aku sangat senang kakek sungguh perhatian
dengan diriku.
Kakek memiliki peliharaan
di rumahnya, beberapa ekor ayam di halaman belakang rumahnya, semua ayam itu ia
pelihara untuk dimakan. Hahaha, ya benar, kakek ku sangat suka memasak makanan
atas hasil usahanya sendiri. Termasuk hewan peliharaannya yang sebenarnya
adalah hewan ternak. Namun setiap ekor ayam di halaman belakang rumah memiliki
panggilannya masing-masing, alias nama. Kusebutkan satu-satu ya, Ruben, Banu, Febri,
Fere, Ani, Tina, Tuti, Siti, Uni, Susi, Reka, Eka, dan Siska. Ya kakekku menamai setiap ekor ayam yang
dimilikinya, aku pun sebenarnya tidak yakin dengan nama-nama ayam kakek. Karena
keesokan harinya nama-nama itu dapat berubah. Sempat kuhitung satu-persatu,
terakhir kuingat ayam kakek jumlahnya empat belas ekor, tiga jantan dan sebelas
betina. Namun dari seluruh ayam yang dimiliki kakekku, hanya satu saja yang
tidak pernah dia potong sebagai bahan makanannya, dan namanya tidak pernah
berubah, yaitu seekor ayam jantan yang sudah teramat sangat sepuh, Bernama
Makmur. Ya Makmur adalah ayam kesayangan kakekku, dari semua ayam jantan, hanya
Makmurlah ayam paling gagah yang aku lihat, ia juga memiliki postur yang besar
dibanding ayam jantan lainnya. Tentu saja selalu berkokok tepat pada
waktunya, pagi dan sore hari. Aku sangat
mengerti mengapa kakek sungguh menyayangi Makmur. Karena Makmur menjadi teman kakek
selagi menjalani masa sendirinya tanpa kehadiran nenekku yang sudah terlebih
dahulu wafat meninggalkan kakek. Ibarat kata, Makmur sudah seperti anak kakek
sendiri.
Suatu hari kakek memberikanku
hewan peliharaan, seekor anjing kecil. Hanya anjing biasa, bukan ras keturunan.
Aku senang akhirnya punya hewan peliharaan. Kunamai anjing itu Hercules, karena
dia terlihat gagah dan berani. Hercules adalah peliharaan pertamaku. Aku sangat
senang dan bangga. Kubawa Hercules ke rumah. Mama dan Papa ku dengan senang
hati menerima kehadiran Hercules, dengan syarat aku harus bertanggung jawab
memandikan dan memberikan makanannya. Sebenarnya kedua orangtuaku tidak terlalu
suka ada hewan peliharaan di rumah. Hanya saja karena aku bilang ini pemberian kakek,
mau tidak mau mama dan papa ku harus menerima pemberian kakek. Hercules sering
kuajak jalan di jalan perumahan.
Kurang lebih setahun, semakin
besar Hercules, semakin agresif sifatnya. Aku sangat tidak mengerti mengapa
Hercules menjadi anjing yang agresif. Iya selalu menggonggong Ketika ada orang
baru melintasi rumah orang tua ku. Bahkan terakhir saat Hercules kubawa ke kakek,
iya sempat hampir mau menyerang Makmur, ayam kesayangan kakek. Hercules kami
masukkan ke kandang besi. Kakek memeriksa kondisi Hercules. Ternyata
Hercules sedang sakit. Kakek menghubungi dokter hewan, dokter hewan sempat memberikan suntikan dan beberapa
obat-obatan. Dokter memberi saran untuk satu sampai dua minggu ke depan
Hercules harus dikandangkan, karena ia sedang terserang virus. Aku mencoba
memahami maksud dokter tersebut. Selang beberapa minggu kemudian Hercules mati
karena sakit. Aku sangat sedih, saat itu hanya kakek yang bisa menemaniku.
Aku menceritakan hal ini
kepada orangtuaku. Namun jawaban mereka tidak membuatku puas. “Nanti kita cari
yang baru ya Sayang.” Kata mama. Mereka seolah tidak memahami perasaanku yang
sudah kehilangan Hercules, anjing peliharaan pertamaku yang sudah kurawat sejak
kecil. Aku merasa seperti kehilangan Saudara. Wajar karena aku adalah anak
tunggal. Orangtuaku menganggap Hercules seperti benda yang dapat dibuang maupun
dibeli Kembali. Sejak kematian anjingku Hercules, aku lebih banyak menghabiskan
waktu Bersama kakek di rumahnya. Aku jarang pulang ke rumah orangtuaku. Aku tidak
ingin mereka melihat diriku yang sedih sekaligus emosi karena kehilangan
Hercules. Aku bercerita tentang Hercules yang suka makan apapun, ia bukan tipe
anjing yang pemilih soal makanan. Bahkan makanan yang kuberikan kepada Hercules
selalu dihabiskannya. Kakek hanya tersenyum mendengarkan celotehanku sambil
memberi Makmur makanannya.
Selang beberapa saat
setelah kejadian tersebut. Papa datang membawakanku seekor anjing baru. Anjing
pemberian sahabatnya yang kebetulan anjing peliharaannya melahirkan cukup
banyak anak anjing. Aku heran dan tidak percaya tiba-tiba saja papaku mau
peduli dengan hewan peliharaan yang sebenarnya dia tidak hobi dan bahkan tidak
suka. Itulah Milo anjing baruku. Seakan tidak percaya, Milo mengobati rasa
dukaku akan kehilangan Hercules. Anjing yang sangat baik dan ramah kepada semua
orang. Milo ini sangat ramah dan tidak seagresif Hercules saat itu. Ia sangat
senang bermain kejar-kejaran. Ada satu bola mainannya yang sering dia gigit
untuk dia mainkan sendiri. Bahkan sekarang ibuku mau memandikan dan memberikan
Milo makanan. Hal yang sangat jarang dan sulit kupercaya. Sejak kehadiran Milo,
banyak yang berubah di keluargaku. Papa dan Mama selalu meluangkan waktu untuk
diriku, alih alih memberi makan atau mengajak jalan Milo, mereka juga pasti mengajakku.
Aku sangat senang kehadiran Milo yang hanya seekor anjing kecil bisa
mendekatkanku kembali kepada orang tuaku. Kami menjadi lebih sering
menghabiskan waktu Bersama. Kami juga membawa Milo ke rumah kakek. Kakek sangat
senang melihat Milo karena dia sangat lucu dan menggemaskan. Milo langsung
akrab dengan Makmur, ayam peliharaan kakekku. Kakek sempat menanyakan apakah
Milo sudah divaksin kepada papaku. Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama,
aku langsung meminta Papa ke dokter hewan untuk memberikan imunisasi kepada
Milo. “Pa, boleh ya bawa Milo ke dokter hewan supaya dapat imunisasi, biar dia
sehat selalu.” Tentu saja papa menyanggupi dan tentu saja mama juga mendukung
ku. Kubawa Milo ke dokter hewan sekaligus meminta saran dan masukan cara
memelihara hewan peliharaan yang benar. Banyak hal yang kudapat di situ.
Tentunya ini untuk kebaikan Milo sendiri sebagai hewan peliharaan yang sangat
kusayangi.

