iklan 1

Milo



Milo

-caritas-

Aku punya anjing kecil, namanya Milo, dia bukanlah anjing ras seperti anjing peliharaan seperti yang dimiliki tetanggaku. Dia hanyalah anjing kampung seperti pada umumnya. Milo merupakan anak anjing pemberian sahabat papaku. Anjing jantan dengan warna dasar bulu putih. Milo memiliki corak berwarna cokelat pada badannya. Sehingga warna badannya putih cokelat. Induknya memiliki warna dasar putih dan cokelat juga. Sempat ku melihat saudara-saudari Milo saat pertama kali bertemu Milo di rumah sahabatku. Anak-anak anjing itu kebanyakan berwarna hitam, cokelat, kurang lebih ada tujuh ekor. Hanya Milo yang memiliki warna putih, sehingga akupun memilihnya sebagai hewan peliharaanku. Betapa senangnya aku saat itu bisa memiliki hewan peliharaan yang dapat kupelihara sejak masih kecil.

Saat ini aku sudah duduk di bangku SMA, mungkin sekitar umur lima belas tahun. Dulu saat masih SD, aku tinggal bersama kakek, masa kecilku lebih banyak kuhabiskan bersama kakekku karena kedua orang tuaku yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Papa saat itu harus bekerja di luar negeri dan hanya bisa pulang ke Indonesia sekali per enam bulan. Mama juga kurang lebih begitu, bekerja di salah satu perusahaan multinasional dan memegang jabatan penting, sehingga sering kali bertugas ke luar kota dan harus meninggalkan ku bersama dengan kakek di rumah nya. Kakekku juga hidup seorang diri di rumah, aku sangat bersyukur karena kakekku sangat sehat dan bugar, ia menjaga betul pola makannya dan setiap pagi selalu jalan pagi untuk berolahraga. Kakek selalu mengantar dan menjemputku ke sekolah dengan sepeda motor andalannya. Motor legenda. Aku sangat senang kakek sungguh perhatian dengan diriku.

Kakek memiliki peliharaan di rumahnya, beberapa ekor ayam di halaman belakang rumahnya, semua ayam itu ia pelihara untuk dimakan. Hahaha, ya benar, kakek ku sangat suka memasak makanan atas hasil usahanya sendiri. Termasuk hewan peliharaannya yang sebenarnya adalah hewan ternak. Namun setiap ekor ayam di halaman belakang rumah memiliki panggilannya masing-masing, alias nama. Kusebutkan satu-satu ya, Ruben, Banu, Febri, Fere, Ani, Tina, Tuti, Siti, Uni, Susi, Reka, Eka, dan Siska.  Ya kakekku menamai setiap ekor ayam yang dimilikinya, aku pun sebenarnya tidak yakin dengan nama-nama ayam kakek. Karena keesokan harinya nama-nama itu dapat berubah. Sempat kuhitung satu-persatu, terakhir kuingat ayam kakek jumlahnya empat belas ekor, tiga jantan dan sebelas betina. Namun dari seluruh ayam yang dimiliki kakekku, hanya satu saja yang tidak pernah dia potong sebagai bahan makanannya, dan namanya tidak pernah berubah, yaitu seekor ayam jantan yang sudah teramat sangat sepuh, Bernama Makmur. Ya Makmur adalah ayam kesayangan kakekku, dari semua ayam jantan, hanya Makmurlah ayam paling gagah yang aku lihat, ia juga memiliki postur yang besar dibanding ayam jantan lainnya. Tentu saja selalu berkokok tepat pada waktunya,  pagi dan sore hari. Aku sangat mengerti mengapa kakek sungguh menyayangi Makmur. Karena Makmur menjadi teman kakek selagi menjalani masa sendirinya tanpa kehadiran nenekku yang sudah terlebih dahulu wafat meninggalkan kakek. Ibarat kata, Makmur sudah seperti anak kakek sendiri.

Suatu hari kakek memberikanku hewan peliharaan, seekor anjing kecil. Hanya anjing biasa, bukan ras keturunan. Aku senang akhirnya punya hewan peliharaan. Kunamai anjing itu Hercules, karena dia terlihat gagah dan berani. Hercules adalah peliharaan pertamaku. Aku sangat senang dan bangga. Kubawa Hercules ke rumah. Mama dan Papa ku dengan senang hati menerima kehadiran Hercules, dengan syarat aku harus bertanggung jawab memandikan dan memberikan makanannya. Sebenarnya kedua orangtuaku tidak terlalu suka ada hewan peliharaan di rumah. Hanya saja karena aku bilang ini pemberian kakek, mau tidak mau mama dan papa ku harus menerima pemberian kakek. Hercules sering kuajak jalan di jalan perumahan.

Kurang lebih setahun, semakin besar Hercules, semakin agresif sifatnya. Aku sangat tidak mengerti mengapa Hercules menjadi anjing yang agresif. Iya selalu menggonggong Ketika ada orang baru melintasi rumah orang tua ku. Bahkan terakhir saat Hercules kubawa ke kakek, iya sempat hampir mau menyerang Makmur, ayam kesayangan kakek.  Hercules kami  masukkan ke kandang besi. Kakek memeriksa kondisi Hercules. Ternyata Hercules sedang sakit. Kakek menghubungi dokter hewan,  dokter hewan sempat memberikan suntikan dan beberapa obat-obatan. Dokter memberi saran untuk satu sampai dua minggu ke depan Hercules harus dikandangkan, karena ia sedang terserang virus. Aku mencoba memahami maksud dokter tersebut. Selang beberapa minggu kemudian Hercules mati karena sakit. Aku sangat sedih, saat itu hanya kakek yang bisa menemaniku.

Aku menceritakan hal ini kepada orangtuaku. Namun jawaban mereka tidak membuatku puas. “Nanti kita cari yang baru ya Sayang.” Kata mama. Mereka seolah tidak memahami perasaanku yang sudah kehilangan Hercules, anjing peliharaan pertamaku yang sudah kurawat sejak kecil. Aku merasa seperti kehilangan Saudara. Wajar karena aku adalah anak tunggal. Orangtuaku menganggap Hercules seperti benda yang dapat dibuang maupun dibeli Kembali. Sejak kematian anjingku Hercules, aku lebih banyak menghabiskan waktu Bersama kakek di rumahnya. Aku jarang pulang ke rumah orangtuaku. Aku tidak ingin mereka melihat diriku yang sedih sekaligus emosi karena kehilangan Hercules. Aku bercerita tentang Hercules yang suka makan apapun, ia bukan tipe anjing yang pemilih soal makanan. Bahkan makanan yang kuberikan kepada Hercules selalu dihabiskannya. Kakek hanya tersenyum mendengarkan celotehanku sambil memberi Makmur makanannya.

Selang beberapa saat setelah kejadian tersebut. Papa datang membawakanku seekor anjing baru. Anjing pemberian sahabatnya yang kebetulan anjing peliharaannya melahirkan cukup banyak anak anjing. Aku heran dan tidak percaya tiba-tiba saja papaku mau peduli dengan hewan peliharaan yang sebenarnya dia tidak hobi dan bahkan tidak suka. Itulah Milo anjing baruku. Seakan tidak percaya, Milo mengobati rasa dukaku akan kehilangan Hercules. Anjing yang sangat baik dan ramah kepada semua orang. Milo ini sangat ramah dan tidak seagresif Hercules saat itu. Ia sangat senang bermain kejar-kejaran. Ada satu bola mainannya yang sering dia gigit untuk dia mainkan sendiri. Bahkan sekarang ibuku mau memandikan dan memberikan Milo makanan. Hal yang sangat jarang dan sulit kupercaya. Sejak kehadiran Milo, banyak yang berubah di keluargaku. Papa dan Mama selalu meluangkan waktu untuk diriku, alih alih memberi makan atau mengajak jalan Milo, mereka juga pasti mengajakku. Aku sangat senang kehadiran Milo yang hanya seekor anjing kecil bisa mendekatkanku kembali kepada orang tuaku. Kami menjadi lebih sering menghabiskan waktu Bersama. Kami juga membawa Milo ke rumah kakek. Kakek sangat senang melihat Milo karena dia sangat lucu dan menggemaskan. Milo langsung akrab dengan Makmur, ayam peliharaan kakekku. Kakek sempat menanyakan apakah Milo sudah divaksin kepada papaku. Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, aku langsung meminta Papa ke dokter hewan untuk memberikan imunisasi kepada Milo. “Pa, boleh ya bawa Milo ke dokter hewan supaya dapat imunisasi, biar dia sehat selalu.” Tentu saja papa menyanggupi dan tentu saja mama juga mendukung ku. Kubawa Milo ke dokter hewan sekaligus meminta saran dan masukan cara memelihara hewan peliharaan yang benar. Banyak hal yang kudapat di situ. Tentunya ini untuk kebaikan Milo sendiri sebagai hewan peliharaan yang sangat kusayangi.

 


LihatTutupKomentar
Cancel

iklan 3