Sama Gilanya
-caritas-
Hari ini adalah hari
pertamaku memasuki kampus. Hari di mana aku pertama kalinya melangkahkan kaki
sebagai mahasiswa di salah satu universitas ternama di daerah Banten. Aku
sangat semangat sekali hari ini, karena ini pertama kalinya juga aku merantau
jauh dari kampung halaman. Memasuki daerah baru dengan kultur dan budaya yang
baru. Menemukan logat bahasa yang berbeda dengan logatku sehari-hari, menemukan
makanan yang tidak pernah kumakan sebelumnya di kampungku, menemukan gedung dan
bangunan yang megah mengalahkan bangunan-bangunan di kampung halaman ku,
menemukan tradisi dan kebiasaan masyarakat setempat yang tidak seperti biasanya
dilaksanakan di kampung halamanku. Sungguh luar biasa sekali hari ini karena
hari ini juga seharusnya kami melaksanakan orientasi mahasiswa baru. Seperti
biasanya setiap orientasi pasti ada teman dan sahabat baru.
Saat
itu aku mengambil kos cukup jauh dari kampusku, sekitar satu kilometer dari
kosku, cukup jauh kalau jalan kaki ya teman-teman. Aku ambil di sana karena
harganya yang cukup miring di kantong orangtua ku, maklumlah aku masih di
support orangtua, jadi ya jangan terlalu menuntut berlebihan. Aku berpikir
dikosanku akan ada teman-teman seperjuangan yang juga bersama-sama denganku,
namun ternyata daerah kosanku cukup sepi, kebanyakan di sana adalah karyawan
buruh pekerja yang bekerja di perusahaan terdekat di daerah itu. Sehingga
ekspektasiku langsung mendapatkan kawan baru yang dekat dengan kos harus sirna
sementara. Namun ternyata aku dapat kawan baru dari grup orientasi ku. Ternyata
kami di dalam masa orientasi dibagi dalam beberapa grup yang beranggotakan
sekitar dua puluh mahasiswa baru. Cukup banyak juga jumlah kami saat itu,
sebelas laki laki dan dua belas perempuan. Tentu saja hal ini tidak akan
kubiarkan. Langsung setiap mahasiswa baru yang kukenal kuajak berkenalan dan
langsung disaat itu juga meminta akun instagram mereka untuk langsung follow
dan berteman denganku.
Aku
mendapatkan rekan yang cukup dekat denganku, yakni Febri dan Rian. Kami bertiga
menjadi akrab setelah bekerja sama dalam pengerjaan dan penyelesaian tugas
orientasi kami. Saat itu aku berteman dengan Febri karena dia cukup royal
sebagai teman, ia memiliki sepeda motor, kosannya cukup strategis dan dekat
dengan kampus, kamarnya luas dan ber-AC. Cukup elit untuk aku yang dari kampung
ini. Febri merupakan Chindo nya kami,
anak seorang pengusaha ternama di daerahnya. Aku senangnya Febri rendah hati
dan welcome, ia sangat terbuka dan
mau menerima kami. Febri cukup cerdas juga dan setiap tugas orientasi ia
bertanggung jawab menyelesaikannya. Rian, julukannya si paling ketua. Anak
kelahiran Sumatra. Ia cukup vokal dan berani mengambil risiko, paling dipercaya
dalam kelompok grup orientasi kami. Terbukti ia adalah ketua grup kami dan
langsung populer dikarenakan kehebatannya dalam bermain futsal. Aku sendiri,
entah kenapa bisa berteman dengan mereka yang di atas kertas spesifikasinya
sangat jauh. Mungkin karena aku yang terlalu ramah dan terlalu baik ya.
Grup
orientasi kami saat itu mendapatkan penugasan tambahan, menggambar peta kampus
secara manual tanpa google maps atau google earth. Penugasan saat itu hanya
diberikan dua hari. Kami diberikan theodolite
model lama untuk mengukur jarak setiap tanah dan bangunan di sekitar kampus.
Tugas ini cukup sulit karena hanya diberikan waktu satu hari mengukur, dan satu
hari lagi menggambar. Ditambah saat malam hari kami diberikan jam malam sekitar
jam sepuluh malam, sehingga apabila ketahuan mahasiswa baru berkeliaran di luar
kampus saat malam hari, maka kami akan kena sweeping
oleh kakak senior di kampus yang
bertugas di pembinaan dan kedisiplinan. Hukumannya tentu sangat tidak enak,
pengurangan skor orientasi dan penambahan tugas. Sepanjang sejarah banyak
mahasiswa yang selalu gagal dalam penugasan menggambar peta kampus, karena
diberikan waktu yang sangat singkat. Menggambar peta kampus ini merupakan
challenge tambahan dari para senior sekolah kepada mahasiswa baru di kampus,
dan memang sampai saat ini belum pernah ada satu pun mahasiswa yang berhasil.
Rian
mengajakku dan Febri berdiskusi soal rencana kami untuk menggambar peta kampus.
Tentu saja ini kami lakukan sebagai upaya membawa nama grup orientasi kami
sebagai yang terbaik dalam sejarah mahasiswa baru di kampus. Aku langsung
tercetus ide di luar kepala untuk mencari peta biru kampus kami. Namun Febri
menyampaikan bahwa hal tersebut sangat sulit karena seharusnya peta biru kampus
ada di perpustakaan rektor yang gedungnya terpisah jauh dari fakultas kami dan
untuk ke sana membutuhkan usaha yang cukup besar karena jauh dari fakultas
kami. Ditambah orientasi kami seharian ini kami harus terlihat nyata di
lapangan sedang mengukur kampus kami dengan theodolite
yang diberikan ke grup kami. Rian sudah mempertimbangkan hal itu, sebagian
teman kami ditugaskan keliling kampus untuk mengukur, sementara kami bertiga
hanya setor muka untuk mengawasi. Seandainya saja saat itu kami boleh memegang handphone kami, sudah kubuka betul google maps dari handphone ku untuk mengetahui denah kampus yang sebenarnya. Rian
berpikir keras, aku tahu dia sangat ambisius soal ini. Rian menyampaikan ide
nya hanya kepadaku dan Febri. Ia tahu ada peta biru kampus ini, karena ayahnya
adalah mantan rektor di kampus ini. Kami akan mencuri peta biru kampus dari
perpustakaan rektor di malam hari itu juga. Ide gila ini tentu saja di setujui
oleh Febri dan akupun turut meng-iya kan.
Tentu
saja agar mulus upaya kami keluar dari kampus, sebelum jam malam kami
menyelinap ke luar menggunakan hoodie agar tidak mudah ketahuan oleh kakak
senior di kampus. Malam itu kami bertiga berkumpul di kosan Febri. Saat
melangkahkan kaki keluar pagar komplek kosan, muncul tantangan pertama kami
yaitu Pak Musdi, satpam kosan Febri yang selalu stanby di pagar keluar kampus.
Rian yang begitu percaya diri mengajak Pak Musdi berbicara. “Nggak pulang Om?”
tanya Rian. “Jaga mas, masnya mau kemana?”
tanya Pak Musdi, “Biasa pak,
nyari makan, laper.” Jawah Rian. “Oke deh Mas, lanjut” jawab Pak Musdi yang
tidak curiga sedikitpun. Langsung saja beberapa meter di dekat jalan raya, kami
dijemput mobil hitam, yang ternyata adalah mobil keluarganya Febri yang dibawa
oleh supirnya. Langsung saja kami tancap gas dan diantar ke gedung rektor.
Kebetulan saat itu kami memutari gedung dan lewat gerbang belakang. Kami
diturunkan oleh supirnya di pinggiran jauh dari pintu gedung rektor. Dengan sigap Rian, Febri dan aku memanjat
pagar gedung itu. Kami menyelinap diam-diam ke dalam gedung tersebut sudah
seperti maling saja. Tujuan kami saat itu ruang perpustakaan dalam gedung
rektor. Gedung rektor terlihat terang
benderang dari luar. Namun di dalamnya gelap redup. Sengaja dimatikan cahaya di
dalamnya. Saat itu hanya ada dua satpam yang berjaga di pos jaga, sepertinya
mereka sedang bermain Clash of Clan. Kami mendengar suara game nya. Bagus lah
ini peluang. Rian begitu hafal dengan tata letak ruangan dalam gedung ini. Ia
pernah ke dalam gedung ini semasa kecil, karena sering diajak ayahnya sembari
bekerja. Mudah saja, peta biru itu langsung kami temukan. Tentu saja saat itu
tugasku menyalin peta itu. Kebetulan aku diberikan kemampuan untuk meniru dan
menggambar dengan cepat dan cukup akurat. Febri sambil mengeluarkan kamera
miliknya, langsung mengabadikan momen-momen yang cukup berbahaya ini sambil
tertawa terkekeh-kekeh karena kami cukup gila melakukan ini.
Salinan
peta sudah selesai, saat itu sepertinya sekitar jam tiga dini hari. Kami kabur
dengan melompati pagar belakang gedung rektorat, lalu dijemput oleh supirnya
Febri. Agar bisa memasuki kosan Febri, kami pastikan datang sekitar jam empat
dini hari, karena di jam segitu semua senior yang sweeping sudah terlelap, dan
Pak Musdi biasanya tertidur nyenyak di pos jaga. Tentu saja perhitungan kami
benar, perjalanan pulang kami cukup mulus, dan kami bisa sampai di kosan Febri
dengan selamat. Langsung saja kami tidur dan melepas lelah saat itu. Berharap
nanti hasil perjuangan kami bisa membawa nama grup kami sebagai grup orientasi
terbaik di tahun ini. Sejak saat itu aku menjadi sangat bahagia dan senang
memiliki teman-teman sefrekuensi yang sama gilanya denganku.

