iklan 1

Sama Gilanya

 


Sama Gilanya

-caritas-

Hari ini adalah hari pertamaku memasuki kampus. Hari di mana aku pertama kalinya melangkahkan kaki sebagai mahasiswa di salah satu universitas ternama di daerah Banten. Aku sangat semangat sekali hari ini, karena ini pertama kalinya juga aku merantau jauh dari kampung halaman. Memasuki daerah baru dengan kultur dan budaya yang baru. Menemukan logat bahasa yang berbeda dengan logatku sehari-hari, menemukan makanan yang tidak pernah kumakan sebelumnya di kampungku, menemukan gedung dan bangunan yang megah mengalahkan bangunan-bangunan di kampung halaman ku, menemukan tradisi dan kebiasaan masyarakat setempat yang tidak seperti biasanya dilaksanakan di kampung halamanku. Sungguh luar biasa sekali hari ini karena hari ini juga seharusnya kami melaksanakan orientasi mahasiswa baru. Seperti biasanya setiap orientasi pasti ada teman dan sahabat baru.

            Saat itu aku mengambil kos cukup jauh dari kampusku, sekitar satu kilometer dari kosku, cukup jauh kalau jalan kaki ya teman-teman. Aku ambil di sana karena harganya yang cukup miring di kantong orangtua ku, maklumlah aku masih di support orangtua, jadi ya jangan terlalu menuntut berlebihan. Aku berpikir dikosanku akan ada teman-teman seperjuangan yang juga bersama-sama denganku, namun ternyata daerah kosanku cukup sepi, kebanyakan di sana adalah karyawan buruh pekerja yang bekerja di perusahaan terdekat di daerah itu. Sehingga ekspektasiku langsung mendapatkan kawan baru yang dekat dengan kos harus sirna sementara. Namun ternyata aku dapat kawan baru dari grup orientasi ku. Ternyata kami di dalam masa orientasi dibagi dalam beberapa grup yang beranggotakan sekitar dua puluh mahasiswa baru. Cukup banyak juga jumlah kami saat itu, sebelas laki laki dan dua belas perempuan. Tentu saja hal ini tidak akan kubiarkan. Langsung setiap mahasiswa baru yang kukenal kuajak berkenalan dan langsung disaat itu juga meminta akun instagram mereka untuk langsung follow dan berteman denganku.

            Aku mendapatkan rekan yang cukup dekat denganku, yakni Febri dan Rian. Kami bertiga menjadi akrab setelah bekerja sama dalam pengerjaan dan penyelesaian tugas orientasi kami. Saat itu aku berteman dengan Febri karena dia cukup royal sebagai teman, ia memiliki sepeda motor, kosannya cukup strategis dan dekat dengan kampus, kamarnya luas dan ber-AC. Cukup elit untuk aku yang dari kampung ini. Febri merupakan Chindo nya kami, anak seorang pengusaha ternama di daerahnya. Aku senangnya Febri rendah hati dan welcome, ia sangat terbuka dan mau menerima kami. Febri cukup cerdas juga dan setiap tugas orientasi ia bertanggung jawab menyelesaikannya. Rian, julukannya si paling ketua. Anak kelahiran Sumatra. Ia cukup vokal dan berani mengambil risiko, paling dipercaya dalam kelompok grup orientasi kami. Terbukti ia adalah ketua grup kami dan langsung populer dikarenakan kehebatannya dalam bermain futsal. Aku sendiri, entah kenapa bisa berteman dengan mereka yang di atas kertas spesifikasinya sangat jauh. Mungkin karena aku yang terlalu ramah dan terlalu baik ya.

            Grup orientasi kami saat itu mendapatkan penugasan tambahan, menggambar peta kampus secara manual tanpa google maps atau google earth. Penugasan saat itu hanya diberikan dua hari. Kami diberikan theodolite model lama untuk mengukur jarak setiap tanah dan bangunan di sekitar kampus. Tugas ini cukup sulit karena hanya diberikan waktu satu hari mengukur, dan satu hari lagi menggambar. Ditambah saat malam hari kami diberikan jam malam sekitar jam sepuluh malam, sehingga apabila ketahuan mahasiswa baru berkeliaran di luar kampus saat malam hari, maka kami akan kena sweeping  oleh kakak senior di kampus yang bertugas di pembinaan dan kedisiplinan. Hukumannya tentu sangat tidak enak, pengurangan skor orientasi dan penambahan tugas. Sepanjang sejarah banyak mahasiswa yang selalu gagal dalam penugasan menggambar peta kampus, karena diberikan waktu yang sangat singkat. Menggambar peta kampus ini merupakan challenge tambahan dari para senior sekolah kepada mahasiswa baru di kampus, dan memang sampai saat ini belum pernah ada satu pun mahasiswa yang berhasil.

            Rian mengajakku dan Febri berdiskusi soal rencana kami untuk menggambar peta kampus. Tentu saja ini kami lakukan sebagai upaya membawa nama grup orientasi kami sebagai yang terbaik dalam sejarah mahasiswa baru di kampus. Aku langsung tercetus ide di luar kepala untuk mencari peta biru kampus kami. Namun Febri menyampaikan bahwa hal tersebut sangat sulit karena seharusnya peta biru kampus ada di perpustakaan rektor yang gedungnya terpisah jauh dari fakultas kami dan untuk ke sana membutuhkan usaha yang cukup besar karena jauh dari fakultas kami. Ditambah orientasi kami seharian ini kami harus terlihat nyata di lapangan sedang mengukur kampus kami dengan theodolite yang diberikan ke grup kami. Rian sudah mempertimbangkan hal itu, sebagian teman kami ditugaskan keliling kampus untuk mengukur, sementara kami bertiga hanya setor muka untuk mengawasi. Seandainya saja saat itu kami boleh memegang handphone kami, sudah kubuka betul google maps dari handphone ku untuk mengetahui denah kampus yang sebenarnya. Rian berpikir keras, aku tahu dia sangat ambisius soal ini. Rian menyampaikan ide nya hanya kepadaku dan Febri. Ia tahu ada peta biru kampus ini, karena ayahnya adalah mantan rektor di kampus ini. Kami akan mencuri peta biru kampus dari perpustakaan rektor di malam hari itu juga. Ide gila ini tentu saja di setujui oleh Febri dan akupun turut meng-iya kan.

            Tentu saja agar mulus upaya kami keluar dari kampus, sebelum jam malam kami menyelinap ke luar menggunakan hoodie agar tidak mudah ketahuan oleh kakak senior di kampus. Malam itu kami bertiga berkumpul di kosan Febri. Saat melangkahkan kaki keluar pagar komplek kosan, muncul tantangan pertama kami yaitu Pak Musdi, satpam kosan Febri yang selalu stanby di pagar keluar kampus. Rian yang begitu percaya diri mengajak Pak Musdi berbicara. “Nggak pulang Om?” tanya Rian. “Jaga mas, masnya mau kemana?”   tanya Pak Musdi,  “Biasa pak, nyari makan, laper.” Jawah Rian. “Oke deh Mas, lanjut” jawab Pak Musdi yang tidak curiga sedikitpun. Langsung saja beberapa meter di dekat jalan raya, kami dijemput mobil hitam, yang ternyata adalah mobil keluarganya Febri yang dibawa oleh supirnya. Langsung saja kami tancap gas dan diantar ke gedung rektor. Kebetulan saat itu kami memutari gedung dan lewat gerbang belakang. Kami diturunkan oleh supirnya di pinggiran jauh dari pintu gedung rektor.  Dengan sigap Rian, Febri dan aku memanjat pagar gedung itu. Kami menyelinap diam-diam ke dalam gedung tersebut sudah seperti maling saja. Tujuan kami saat itu ruang perpustakaan dalam gedung rektor.  Gedung rektor terlihat terang benderang dari luar. Namun di dalamnya gelap redup. Sengaja dimatikan cahaya di dalamnya. Saat itu hanya ada dua satpam yang berjaga di pos jaga, sepertinya mereka sedang bermain Clash of Clan. Kami mendengar suara game nya. Bagus lah ini peluang. Rian begitu hafal dengan tata letak ruangan dalam gedung ini. Ia pernah ke dalam gedung ini semasa kecil, karena sering diajak ayahnya sembari bekerja. Mudah saja, peta biru itu langsung kami temukan. Tentu saja saat itu tugasku menyalin peta itu. Kebetulan aku diberikan kemampuan untuk meniru dan menggambar dengan cepat dan cukup akurat. Febri sambil mengeluarkan kamera miliknya, langsung mengabadikan momen-momen yang cukup berbahaya ini sambil tertawa terkekeh-kekeh karena kami cukup gila melakukan ini.

            Salinan peta sudah selesai, saat itu sepertinya sekitar jam tiga dini hari. Kami kabur dengan melompati pagar belakang gedung rektorat, lalu dijemput oleh supirnya Febri. Agar bisa memasuki kosan Febri, kami pastikan datang sekitar jam empat dini hari, karena di jam segitu semua senior yang sweeping  sudah terlelap, dan Pak Musdi biasanya tertidur nyenyak di pos jaga. Tentu saja perhitungan kami benar, perjalanan pulang kami cukup mulus, dan kami bisa sampai di kosan Febri dengan selamat. Langsung saja kami tidur dan melepas lelah saat itu. Berharap nanti hasil perjuangan kami bisa membawa nama grup kami sebagai grup orientasi terbaik di tahun ini. Sejak saat itu aku menjadi sangat bahagia dan senang memiliki teman-teman sefrekuensi yang sama gilanya denganku.


LihatTutupKomentar
Cancel

iklan 3