Gengsi
-caritas-
Hari ini adalah hari terindah yang
kunantikan. Ya ini adalah hari pertamaku memasuki tempatku bekerja. Aku bekerja
sebagai pegawai negeri sipil disalah satu instansi pemerintah tempat aku berasal.
Aku lulus tes CPNS saat itu dengan mengalahkan kurang lebih seratus lima puluh
ribu saingan dari berbagai daerah. Beruntungnya aku yang baru fresh graduate
ini yang langsung diterima bekerja
dengan sekali tes saja. Aku tahu di saat ini begitu sulitnya mencari pekerjaan
di zaman sekarang di mana begitu sedikitnya lapangan pekerjaan yang dibuka. Aku
hanyalah satu dari sekian banyak temanku yang berhasil lulus mendapatkan
pekerjaan di tempat ini. Sebagian lagi mereka yang gagal tahun ini memilih gap
year dan mencoba tahun depan. Kebetulan di daerah ku pekerjaan sebagai
pegawai negeri sipil adalah pekerjaan idaman semua orang. Tempatku tinggal teramat
sangat jarang ada perusahaan besar seperti BUMN atau multinasional yang
mendirikan cabang usahanya di daerah ku. Belum lagi sebagian besar masyarakat
di daerahku menggantungkan hidupnya dari bertani dan nelayan.
Perkenalkan namaku Gilang. Kini aku
sudah satu tahun bekerja di tempat kerjaku. Gajiku pun yang pada awalnya masih
status CPNS perlahan mulai naik setelah aku diangkat menjadi PNS, setahun
setelah aku bekerja. Aku merasakan kenaikan penghasilan yang lumayan dan cukup
besar. Perubahan dan kenaikan taraf hidup ini sangat terasa bagi kami anak-anak
baru yang mendapatkan pekerjaan. Bimo dan Arya, rekan seangkatanku saat itu
sudah mengganti gawainya menjadi iPhone 14 Pro Max yang menjadi gadget
idaman saat itu. Harganya luar biasa mahal, saat itu di daerahku menyentuh
angka dua puluh jutaan. Itu sudah cukup untuk membeli sepeda motor beat
dalam hatiku. Padahal saat itu total penghasilan yang kami terima dalam sebulan
belum seberapa, sekitar empat jutaan saja per bulan. Aku berpikir sudah berapa
bulan mereka menabung untuk membeli gawai tersebut. Ridho teman ku sudah kredit
sepeda motor baru impiannya, Kawasaki KLX yang saat ini sedang nge trend
di daerah kami. Aku sempat terperangah melihat betapa gagahnya Ridho
mengendarai sepeda motor barunya. Sungguh cocok dengan dirinya yang postur
tinggi dan tegap. Rina teman wanita angkatanku sudah lebih expert lagi,
ia sudah memiliki hampir seluruh produk keluaran Steve Jobs , Apple Watch,
iPhone, AirPods, Macbook dan iPad Pro dan sebagainya yang
tidak kuketahui. Namun wajar juga karena Rina adalah anak pejabat terkenal di
daerahku juga saat itu. Ibnu saat itu rekanku yang pendiam, kulihat belum
memiliki apapun perubahan dari dirinya semenjak ia sudah bekerja dan menerima
gaji. Aku bersama Bimo, Arya, dan Ridho
meledeknya “Bro, elu dah hasilin apa nih setahun kerja? Masa masih
miskin? lihat kita-kita nih.” kata ku
dengan nada bercanda. Ibnu tersenyum , “hehehe gua juga ada kok, tapi gua
simpen di rumah.” jawab Ibnu santai dan tenang.
Aku saat itu memutuskan untuk
menggunakan gajiku untuk menonton konser K-Pop idolaku, saat itu aku pecinta
Girl Band Twice, Sehingga setiap ada live mereka di
Jakarta atau Singapura, aku pastikan sudah war tiketnya dan mengikuti mereka.
Aku pun sudah membeli album original mereka langsung dari Korea. Belum lagi light
stick nya yang banyak kukoleksi. Ibnu adalah teman SD ku sejak kecil.
Kutahu dia datang dari keluarga sederhana. Ibunya seorang petani dan adiknya
dua orang masih SMA dan SMP. Ayahnya sudah lama meninggal karena kecelakaan.
Rumah mereka juga masih sangta sederhana, semi permanen dan tidak jauh dari
tempat tinggalku.
Satu setengah tahun bekerja sebagai
pegawai negeri sipil, sudah begitu banyak perubahan yang kami rasakan secara
drastis. Kami merasa taraf hidup kami naik. Senior kamu di tempat kerja juga
tidak kalah mainnya. Ada yang sudah memiliki mobil, ada yang sudah memiliki
rumah pribadi dan ada yang sudah jalan-jalan ke luar negeri. Sampai satu ketika, kami mendapatkan
sosialisasi keuangan dari bank mitra tempat kami bekerja. Kami diajarkan
mengenai produk keuangan Bank tersebut yang jelas kam sudah tahu kegunaannya.
Aplikasi mobile banking, ATM, transfer dan lain
sebagainya. Hingga di penghujung sosialisasi pegawai bank tersebut menawarkan produk
terbaru mereka yaitu kredit. Saat itu banyak sekali produk kredit mereka, kartu
kredit, pinjaman tanpa agunan, pinjaman kepemilikan rumah dan lain-lain. Aku
sangat terpana dengan tawaran yang mereka berikan. Dengan hanya menjaminkan
Surat Keputusan Pegawai Negeri Sipilku ke bank, aku bisa mendapat pinjaman dana
sebesar seratus juta hingga dua ratus juta dengan cicilan ringan mulai dari
sejuta sampai dua juta saja. Aku
membayangkan, dengan uang dua ratus di tanganku saat itu bisa kugunakan membeli
semua koleksi album impianku dan membeli motor impianku seperti Ridho punya.
Aku juga bisa menggunakan uang tersebut untuk membangun kafe kopi kekinian
seperti anak-anak muda yang sudah sukses dalam bisnis. Saat itu Bimo dan Arya
mengambil kredit tanpa agunan sebesar seratus juta untuk kebutuhan mereka. Rina
mengambil dua ratus juta, Ridho memilih kredit rumah karena dia akan menikah
sebentar lagi dan membutuhkan rumah. Aku yang kebingungan dan merasa tertinggal
dari yang lainnya dengan mantap menandatangani perjanjian mengambilm kredit
sebesar dua ratus juta di bank tersebut. Pegawai bank tersebut tersenyum lebar
dan menjamin segala persyaratan akan ia permudah dan pencairan akan segera di
lakukan. Ibnu saat itu tidak mengambil fasilitas tersebut, ia memandang kami
dari kejauhan bersama Mas Imran yang juga senior kami.
Lima tahun telah berlalu semenjak kami
bekerja, penghasilan ku bersama rekan-rekanku saat ini sudah menyentuh tujuh juta dalam setahun. Hanya saja saat ini
yang benar-benar masuk dan kuterima dalam rekeningku tidak sampai empat juta
rupiah. Tiga juta sekian terpakai untuk membayar cicilan. Aku saat ini sudah
menikah dengan Dewi, juniorku di kantor. Dewi pun sudah menggadaikan SK nya ke
bank dengan mengambil pinjaman sebesar dua ratus juta untuk modal pernikahan
kami. Aku merasakan sangat pas-pasan sekali penghasilan yang kumiliki untuk
sehari-hari. Aku juga mengambil kredit rumah sebesar seratus delapan puluh juta
di tahun ke tiga bekerja dan menggunakannya untuk membeli rumah tinggal kami.
Aku terkejut ketika melihat rekening pinjamanku, saldo pokok pinjamannya masih
sangat besar, seratus delapan puluh juta untuk kredit tanpa agunan, dan seratus
tujuh puluh juta untuk kredit rumahku. Aku baru sadar jika bunga bank yang
kubayarkan teramat sangat besar. Belum lagi bunga kredit rumah berubah menjadi
naik setelah tahun kedua cicilanku. Setengah lebih penghasilanku kupakai untuk
membayar pokok dan bunga pinjamanku setiap bulan. Hal ini pun masih sangat lama
lunasnya, lima belas hingga dua puluh lima tahun lagi. Aku sempat cekcok dengan
istriku masalah keuangan ini. Aku menyuruh dirinya mencari penghasilan lain di
luar, namun itu sulit kami lakukan karena kami sama-sama bekerja.
Tujuh tahun berlalu, Bimo dan Arya dipecat
dari kantor karena ketahuan melakukan penggelapan dana proyek kantor, Ridho
menjual rumahnya karena ia mengatakan merasa tidak cocok tinggal disitu, dan
saat ini ia masih ngontrak rumah dengan istrinya, Rina temanku mengalami
tunggakan cicilan kreditnya sehingga kantor kami beberapa kali ditelepon dan
didatangi pihak debt collector bank. Aku pusing melihat kondisi
teman-temanku itu, saat di jam pulang kantor aku duduk di parkiran kantor sendirian
sambil merokok. Tiba-tiba Ibnu temanku menghampiri diriku. Ia menanyakan
kabarku, aku kurang begitu suka dengan Ibnu karena ia tidak bergaul dengan circle
kami saat itu. “Kabar baik bro, kamu gimana?” jawabku dengan senyum sumringah. “Datang
ya bro, acara pernikahan gua, ini undangannya untuk lo.” jawab Ibnu dengan
tenang. “Lhaa, lu baru nikah sekarang?
kemana aja bro?” Respon ku dengan sedikit meledek. “Hahaha enggak bro, biasa,
gua nabung untuk ini, baru kekumpul sekarang, tabungan gua yang sebelumnya juga
kemarin baru aja kepake untuk bangun rumah, sekarang gua baru bisa nikah sama
pasangan gua.” jawab Ibnu. “Ngapa enggak nyicil ke bank bro? lu bisa cepet kaya
kami semua, kalo gini lu ketuaan menikah?” tanyaku lagi. Ibnu tersenyum,
“Gapapa bro, orang tua gua punya pengalaman buruk soal pinjaman ke bank, kami
ga sanggup bayar dan disita, gua juga ga suka riba bro, bukan masalah keyakinan
bro, tapi secara hitungan itu sakit banget buat kita yang hanya karyawan biasa
ini, lebih baik sabar menabung, tahan gengsi dulu, tapi semuanya terserah
pilihan lo masing-masing” jawab Ibnu menimpali. “At least saat
ini gaji gua masih utuh untuk menabung lagi, dan gua bisa modalin istri gua
nanti untuk modalin usaha jualan gorengannya, gua balik ya bro, sorry
kalo kata-kata gua kurang berkenan, semangat bro, kalo ada apa-apa kabari gua.”
jawab Ibnu lagi sambil menepuk pundakku, seraya melangkah meninggalkan ku dan menaiki
sepeda motor Supra model lama milik ayahnya. Kata-kata Ibnu tadi membuatku
terperangah. Seperti ada benarnya juga. Aku pulang dan merenungkan kembali
kata-kata Ibnu. Aku merasa membutuhkan nasihat darinya. Kuputuskan untuk
menemui dirinya di hari lain.