Aku Tahu Tujuanku
-caritas-
Dari
dulu aku selalu berpikir dan bertanya-tanya dalam hati ku buat apa aku dilahirkan
ke dunia ini. Untuk apa aku hadir bagi kedua orangtua ku. Untuk apa aku harus
bekerja mencari nafkah. Untuk apa aku menikah. Hal apa yang harus ku jadikan
pedoman hidup. Sementara dunia berjalan begitu-begitu saja. Tidak ada hal
spesial yang kulakukan, hanya meneruskan warisan dari generasi lama ke generasi
baru. Di zaman aku pun lahir sudah merasakan perdamaian. Tidak ada perang senjata
antar negara seperti di zaman dulu. Atau zaman penjajahan dan kolonialisme
seperti dulu. Sekarang sudah aman, kita bebas berekspresi. Mau berdagang, mau
jadi karyawan, mau berpolitik semuanya bisa. Namun pada akhirnya sama saja.
Tidak ada hal spesial yang aku lakukan untuk hidupku.
Lamunan
tadi kulakukan hingga tidak terasa satu jam telah berlalu. Aku disadarkan oleh
Dody, rekan kerja ku di bengkel motor sejahtera tempatku bekerja sekarang. “Uyyy
ngapain lu bray, melamun mulu’ , sono gih ada customer, lumayan cewek cakep tuh
bray, gas kan!” Langsung saja aku tersadar setelah ditepuk pundakku oleh Dody.
Memang temanku yang satu ini selalu saja mengganggu konsentrasiku untuk merenung
dengan lebih dalam. Namun karena dia juga lah hari-hariku di bengkel tidka
terasa sepi karena orangnya yang sangat asik dan friendly. Aku baru
teringat, “aku miskin bro!” makanya aku bekerja untuk hidup. Perjalanan
renungan ku yang sebenarnya adalah lamunan tadi menyadarkanku pada satu
kenyataan bahwa aku miskin dan masih banyak tanggungan. Sial, kenyataan itu
berat. Belum lagi harus cari makan sendiri, untuk istri di rumah, dan kiriman
bulanan ke mertua yang sudah tua renta, namun malas bekerja. Di modalin malah
duitnya habis kepakai untuk judi. Kurang beruntung nasib keluargaku memang. Istriku
sangat cantik, namun sangat bersahaja, ia tidak menuntut banyak soal kondisi
keuanganku, ia selalu support. Ia pun bekerja dengan jualan jajanan
pasar di sekolahan. Namun secantik dan sebaik apapun dirinya, aku harus
menerima kenyataan aku memiliki mertua yang buruk perangainya. Maaf kata
menjadi bebanku saat ini secara keuangan karena mereka tidak memiliki pekerjaan
atau pensiunan di hari tuanya. Segalanya habis karena keegoisan. Belum lagi saudara
ipar ku yang masih belum mapan secara keuangan, yang terkadang butuh suntikan
printilan – printilan kecil untuk men support keuangan mereka. Istriku
empat bersaudara dan dirinya dalah anak pertama. Aku adalah anak tunggal,
seharunya kami dua bersaudara, namun adikku gugur di kandungan. Syukurnya kedua
orangtuaku meskipun miskin, mereka masih sanggup bekerja di ladang untuk memenuhi
kebutuhan harian mereka, mereka masih sehat secara fisik, dan tidak menuntut untuk
aku kirimkan bulanan karena mereka tahu kondisi keuangan keluargaku.
Suatu ketika aku bertemu mertuaku yang laki-laki,
aku menanyakan kabar dirinya kepadanya. Seperti biasa ia dengan percaya diri
menjawabnya. Sembari meminta “lu ada rokok bray? bagi dulu babe satu”. Dengan
terpaksa kuberikan sebungkus rokokku yang baru kubeli, itu pun aku yakin tidak
akan kembalikannya kepadaku. “Lucu ya adik-adiknya Melia.” kata ku sembari
lihat foto masa kecil Melia istriku di dinding rumah. “Iya dong, anak siapa
dulu, elu beruntung bray nikahin anak gua, cakep kaya babenya” jawab mertuaku
dengan bangga “Iya tapi ga buruk kaya perangainya” jawabku dalam hati. “Gua
selalu yakin prinsip banyak anak banyak rezeki bray, jadi ini lah yang gua panen
sekarang, gua bisa hidup dari anak-anak gua.” jawab mertua ku lagi. “Tapi be,
ga bisa diterapin di zaman sekarang yang begitu, bakal susah secara keuangan
buat keturunan berikutnya” pungkasku berharap mampu menyadarkannya. “Halah, ga
usah sok ngajarin, gua dah hidup lebih lama dari lu, itu sudah kewajiban anak
membalaskan budi sudah dibesarin sama bokap dan nyokapnya.” jawab mertuaku. Seperti
biasa, perdebatan selalu berakhir dengan kemenangan di pihak mertua, dan aku
yang hanya mendapatkan hikmahnya. Gila bener ini orang, syukurnya dia mertuaku,
sabar – sabar aja.
Ini tidak bisa dibiarkan, “Banyak anak banyak
rezeki, apa-apaan itu.” Lu mau bikin anak banyak-banyak terus ngarep di hari
tua nanti anak bakal balas budi lu untuk negbiayain keinginan lu yang
sebenarnya ga lu butuhin? Padahal lu ga
sadar diri lu miskin, belum tentu juga anak-anak lu mau dilahirin dengan takdir
seperti itu” gumam ku dalam hati. Terlalu berat bagiku karena setelah bersama
Melia, pos pengeluaran keuangan kami, lebih besar di mengirim bulanan kepada
mereka. Bahkan aku masih mencicil biaya pinjaman ku karena sempat kuberikan
sebagian untuk modal usaha ke mertua ku. Namun usahanya collapse dengan alasan
penjualan merosot padalah alih-alih karena ia memilih-milih pekerjaan dan tidak
gigih mengerjakannya.
Aku kembali bertanya kepada Dody rekan bengkelku,
yang juga sudah lahiran anaknya yang ke empat. “Dod, lu banyak anak gitu masih
sanggup kagak nafkahin, secara gaji lu kan mirip-mirip dengan gua?” “Aman bosku, gua selalu yakin banyak anak,
banyak rezeki, pasti ada jalan, toh mereka dah gede nanti, gua akan hidup nyaman
ga perlu susah-susah bekerja” jawab Dody. Sampai disini, aku tidak ingin mengajak
Dody berdebat. Bahkan di zaman dan angkatanku saja masih ada orang yang
berpikir kolot seperti ini. Rendra juga berpendapat sama, namun ia setuju untuk
menyisihkan sebagian tabungannya di hari tua nanti karena ia tidak mau menyusahkan
anak-anaknya. Aku cukup takjub dengan pedapat Rendra. Farhan satu-satunya mekanik
generasi Z di bengkel kami, sekaligus mekanik termuda, tidak peduli dengan hal
yang kami bicarakan. Ia hanya fokus push rank mobile legend
dan swipe aplikasi belanja online untuk membeli outfit kekinian. Atau
berburu kafe terbaru untuk ngopi kekinian bersama anak muda generasi seumurannya.
Wah, lingkunganku ternyata tidak
semendukung itu untuk keluar dari kemiskinan. Pantes saja kampung tempat aku
tinggal ini tidak pernah ada kemajuan sama sekali. Bergantung pada pekerjaan,
hidup konsumtif, dan tidak memikirkan hari tua. Berat juga sepertinya. Pantas
saja orang kaya tetap kaya. Ko Randy sang pemilik bengkel tempatku bekerja berpendapat
lain. Ia mengakui sudah mewarisi ilmu jual beli dari ayahnya yang dahulu juga
seorang pemilik bengkel. Namun bengkel ayahnya tersebut tidak ia warisi, karena
ayahnya berprinsip untuk mengajarkan kemandirian kepada dirinya. Namun ayahnya
memberikan tips dan trik dari pengalamannya berjualan, cara atur keuangan, cara
melayani konsumen, cara melihat pasar, cara mencari supplier, ekspedisi dan
lainnya. Hingga yang terpenting adalah investasi untuk masa depan. Ko Randy
selalu rajin menabung, ia memisahkan pencatatan keuangan pribadi dan usahanya.
Segala kelebihan dari bengkel akan dia sisihkan sebagai tabungan dan dana
darurat. Aku pun salut melihat dirinya karena perawakannya yang sederhana,
tidak modis dan berlebihan, secukupnya saja. Bahkan tidak terlihat seperti bos di
film-film yang memakai jas. Sepeda motornya pun hanya motor matic generasi lama
yang masih sehat. Ko Randy bertanya pada ku mengapa aku bertanya seperti itu,
ia tersenyum dan menceritakan semuanya kepadaku.
Pada akhirnya aku bersama Melia istriku
memutuskan untuk memberi batasan pengeluaran pada mertuaku. Aku menekan pengeluaran
yang tidak perlu, meskipun resiko akan dibenci sama keluarga. Kami fokus untuk menambah
modal memutar uang kami dengan jualan jajanan pasar. Sebagian keuntungan kami
sisihkan di awal untuk ditabung. Ini sangat berdampak dengan pemasukan kami.
Sejenak kami juga tetap mempertahankan gaya hidup supaya tidak meningkat dan
berlebihan. Berharap di hari tua nanti kami menjadi orang tua yang mapan dan
tidak menyusahkan anak kami kelak, seperti yang tekah dilakukan bosku. Aku
senang masih ada orang yang melek keuangan dan mau mempraktikkannya di daerah
ini. Sekarang aku tahu tujuanku, semoga kami berhasil !