iklan 1

Aku Tahu Tujuanku



Aku Tahu Tujuanku

-caritas-

      Dari dulu aku selalu berpikir dan bertanya-tanya dalam hati ku buat apa aku dilahirkan ke dunia ini. Untuk apa aku hadir bagi kedua orangtua ku. Untuk apa aku harus bekerja mencari nafkah. Untuk apa aku menikah. Hal apa yang harus ku jadikan pedoman hidup. Sementara dunia berjalan begitu-begitu saja. Tidak ada hal spesial yang kulakukan, hanya meneruskan warisan dari generasi lama ke generasi baru. Di zaman aku pun lahir sudah merasakan perdamaian. Tidak ada perang senjata antar negara seperti di zaman dulu. Atau zaman penjajahan dan kolonialisme seperti dulu. Sekarang sudah aman, kita bebas berekspresi. Mau berdagang, mau jadi karyawan, mau berpolitik semuanya bisa. Namun pada akhirnya sama saja. Tidak ada hal spesial yang aku lakukan untuk hidupku.

      Lamunan tadi kulakukan hingga tidak terasa satu jam telah berlalu. Aku disadarkan oleh Dody, rekan kerja ku di bengkel motor sejahtera tempatku bekerja sekarang. “Uyyy ngapain lu bray, melamun mulu’ , sono gih ada customer, lumayan cewek cakep tuh bray, gas kan!” Langsung saja aku tersadar setelah ditepuk pundakku oleh Dody. Memang temanku yang satu ini selalu saja mengganggu konsentrasiku untuk merenung dengan lebih dalam. Namun karena dia juga lah hari-hariku di bengkel tidka terasa sepi karena orangnya yang sangat asik dan friendly. Aku baru teringat, “aku miskin bro!” makanya aku bekerja untuk hidup. Perjalanan renungan ku yang sebenarnya adalah lamunan tadi menyadarkanku pada satu kenyataan bahwa aku miskin dan masih banyak tanggungan. Sial, kenyataan itu berat. Belum lagi harus cari makan sendiri, untuk istri di rumah, dan kiriman bulanan ke mertua yang sudah tua renta, namun malas bekerja. Di modalin malah duitnya habis kepakai untuk judi. Kurang beruntung nasib keluargaku memang. Istriku sangat cantik, namun sangat bersahaja, ia tidak menuntut banyak soal kondisi keuanganku, ia selalu support. Ia pun bekerja dengan jualan jajanan pasar di sekolahan. Namun secantik dan sebaik apapun dirinya, aku harus menerima kenyataan aku memiliki mertua yang buruk perangainya. Maaf kata menjadi bebanku saat ini secara keuangan karena mereka tidak memiliki pekerjaan atau pensiunan di hari tuanya. Segalanya habis karena keegoisan. Belum lagi saudara ipar ku yang masih belum mapan secara keuangan, yang terkadang butuh suntikan printilan – printilan kecil untuk men support keuangan mereka. Istriku empat bersaudara dan dirinya dalah anak pertama. Aku adalah anak tunggal, seharunya kami dua bersaudara, namun adikku gugur di kandungan. Syukurnya kedua orangtuaku meskipun miskin, mereka masih sanggup bekerja di ladang untuk memenuhi kebutuhan harian mereka, mereka masih sehat secara fisik, dan tidak menuntut untuk aku kirimkan bulanan karena mereka tahu kondisi keuangan keluargaku.  

Suatu ketika aku bertemu mertuaku yang laki-laki, aku menanyakan kabar dirinya kepadanya. Seperti biasa ia dengan percaya diri menjawabnya. Sembari meminta “lu ada rokok bray? bagi dulu babe satu”. Dengan terpaksa kuberikan sebungkus rokokku yang baru kubeli, itu pun aku yakin tidak akan kembalikannya kepadaku. “Lucu ya adik-adiknya Melia.” kata ku sembari lihat foto masa kecil Melia istriku di dinding rumah. “Iya dong, anak siapa dulu, elu beruntung bray nikahin anak gua, cakep kaya babenya” jawab mertuaku dengan bangga “Iya tapi ga buruk kaya perangainya” jawabku dalam hati. “Gua selalu yakin prinsip banyak anak banyak rezeki bray, jadi ini lah yang gua panen sekarang, gua bisa hidup dari anak-anak gua.” jawab mertua ku lagi. “Tapi be, ga bisa diterapin di zaman sekarang yang begitu, bakal susah secara keuangan buat keturunan berikutnya” pungkasku berharap mampu menyadarkannya. “Halah, ga usah sok ngajarin, gua dah hidup lebih lama dari lu, itu sudah kewajiban anak membalaskan budi sudah dibesarin sama bokap dan nyokapnya.” jawab mertuaku. Seperti biasa, perdebatan selalu berakhir dengan kemenangan di pihak mertua, dan aku yang hanya mendapatkan hikmahnya. Gila bener ini orang, syukurnya dia mertuaku, sabar – sabar aja.

Ini tidak bisa dibiarkan, “Banyak anak banyak rezeki, apa-apaan itu.” Lu mau bikin anak banyak-banyak terus ngarep di hari tua nanti anak bakal balas budi lu untuk negbiayain keinginan lu yang sebenarnya ga lu butuhin?  Padahal lu ga sadar diri lu miskin, belum tentu juga anak-anak lu mau dilahirin dengan takdir seperti itu” gumam ku dalam hati. Terlalu berat bagiku karena setelah bersama Melia, pos pengeluaran keuangan kami, lebih besar di mengirim bulanan kepada mereka. Bahkan aku masih mencicil biaya pinjaman ku karena sempat kuberikan sebagian untuk modal usaha ke mertua ku. Namun usahanya collapse dengan alasan penjualan merosot padalah alih-alih karena ia memilih-milih pekerjaan dan tidak gigih mengerjakannya.

Aku kembali bertanya kepada Dody rekan bengkelku, yang juga sudah lahiran anaknya yang ke empat. “Dod, lu banyak anak gitu masih sanggup kagak nafkahin, secara gaji lu kan mirip-mirip dengan gua?”   “Aman bosku, gua selalu yakin banyak anak, banyak rezeki, pasti ada jalan, toh mereka dah gede nanti, gua akan hidup nyaman ga perlu susah-susah bekerja” jawab Dody. Sampai disini, aku tidak ingin mengajak Dody berdebat. Bahkan di zaman dan angkatanku saja masih ada orang yang berpikir kolot seperti ini. Rendra juga berpendapat sama, namun ia setuju untuk menyisihkan sebagian tabungannya di hari tua nanti karena ia tidak mau menyusahkan anak-anaknya. Aku cukup takjub dengan pedapat Rendra. Farhan satu-satunya mekanik generasi Z di bengkel kami, sekaligus mekanik termuda, tidak peduli dengan hal yang kami bicarakan. Ia hanya fokus push rank mobile legend dan swipe aplikasi belanja online untuk membeli outfit kekinian. Atau berburu kafe terbaru untuk ngopi kekinian bersama anak muda generasi seumurannya. Wah, lingkunganku  ternyata tidak semendukung itu untuk keluar dari kemiskinan. Pantes saja kampung tempat aku tinggal ini tidak pernah ada kemajuan sama sekali. Bergantung pada pekerjaan, hidup konsumtif, dan tidak memikirkan hari tua. Berat juga sepertinya. Pantas saja orang kaya tetap kaya. Ko Randy sang pemilik bengkel tempatku bekerja berpendapat lain. Ia mengakui sudah mewarisi ilmu jual beli dari ayahnya yang dahulu juga seorang pemilik bengkel. Namun bengkel ayahnya tersebut tidak ia warisi, karena ayahnya berprinsip untuk mengajarkan kemandirian kepada dirinya. Namun ayahnya memberikan tips dan trik dari pengalamannya berjualan, cara atur keuangan, cara melayani konsumen, cara melihat pasar, cara mencari supplier, ekspedisi dan lainnya. Hingga yang terpenting adalah investasi untuk masa depan. Ko Randy selalu rajin menabung, ia memisahkan pencatatan keuangan pribadi dan usahanya. Segala kelebihan dari bengkel akan dia sisihkan sebagai tabungan dan dana darurat. Aku pun salut melihat dirinya karena perawakannya yang sederhana, tidak modis dan berlebihan, secukupnya saja. Bahkan tidak terlihat seperti bos di film-film yang memakai jas. Sepeda motornya pun hanya motor matic generasi lama yang masih sehat. Ko Randy bertanya pada ku mengapa aku bertanya seperti itu, ia tersenyum dan menceritakan semuanya kepadaku.

Pada akhirnya aku bersama Melia istriku memutuskan untuk memberi batasan pengeluaran pada mertuaku. Aku menekan pengeluaran yang tidak perlu, meskipun resiko akan dibenci sama keluarga. Kami fokus untuk menambah modal memutar uang kami dengan jualan jajanan pasar. Sebagian keuntungan kami sisihkan di awal untuk ditabung. Ini sangat berdampak dengan pemasukan kami. Sejenak kami juga tetap mempertahankan gaya hidup supaya tidak meningkat dan berlebihan. Berharap di hari tua nanti kami menjadi orang tua yang mapan dan tidak menyusahkan anak kami kelak, seperti yang tekah dilakukan bosku. Aku senang masih ada orang yang melek keuangan dan mau mempraktikkannya di daerah ini. Sekarang aku tahu tujuanku, semoga kami berhasil !


LihatTutupKomentar
Cancel

iklan 3