Yube
-caritas-
Tubuh besar, postur tegap, berbulu
lebat, berwarna hitam, penuh dengan otot dan kharisma wibawa yang terpancar
dari dirinya. Itulah Yube , gorilla afrika jantan yang tumbuh besar di kebun
binatang Savana. Hampir setiap hari aku selalu mampir ke kebun binatang ini,
karena sangat dekat dengan rumahku. Aku suka sekali melihat Yube, seekor
primata yang unik. Bentuknya yang hampir mendekati seperti layaknya manusia,
serta tingkah lakunya yang juga mirip dengan manusia, membuatku berpikir.
Apakah benar Yube ini seekor hewan? bentuk dan perilakunya yang hampir
mendekati manusia semakin membuatku berpikir dua kali tentang hewan ini.
Hal yang kuingat saat pertama kali
kandang Yube dibuka, ia akan berjalan pelan pelan ke pintu keluar kandangnya.
Jika ia mengetahui pintunya terbuka, maka ia akan berdiri dengan kedua kakinya
yang pendek itu. Ia berlari dengan kakinya yang pendek itu! Di saat ia
melakukan itu seluruh pengunjung terkesima dan tertawa melihat betapa tidak
seimbangnya antara kakinya yang pendek dengan badannya yang besar dan lengan
yang kekar. Yube berlari mengikuti sayur kol dan brokoli yang disediakan
pengurus kebun binatang. Yube mengambil satu persatu sayur-sayuran tersebut.
Menggenggam dan mengumpulkan satu persatu. Jika tangan yang satu sudah penuh dengan
sayuran, maka ia akan menggigit sayuran lain di mulutnya. Jika di mulut sudah
penuh, maka tangan satunya lagi yang masih tersedia akan ia isi dengan
sayur-sayuran yang lain. Sehingga penuhlah tangan dan mulut Yube , gorilla
jantan tersebut.
Di kandang tersebut hanya Yube lah
satu-satunya pejantan dewasa yang dominan dan menguasai kandang itu, ada lagi
Rambo dan Rambe, gorilla jantan muda yang terlahir kembar. Kemungkinan bukan
anaknya Yube, juga hidup bersama di kandang itu. Namun tetap Yube yang menguasai
lapangan. Yube memiliki ciri khas pada punggungnya , yaitu warna bulu silver
(abu - abu) yang menandakan dia adalah pejantan dewasa. Orang-orang biasanya
menyebutnya silverback. Mungkin inilah gambaran di dunia nyata bagaimana
bentuk King-kong di film-film yang digambarkan sebagai monyet raksasa yang
sebenarnya diadaptasi dari gorilla jantan dewasa silverback.
Untuk menunjukkan dominasinya,
terkadang Yube melakukan atraksi yang sangat disukai penonton. Yaitu memukul
dadanya dengan kedua tangannya yang besar itu. Setahuku dalam biologi hewan
yang kupelajari, itu adalah peringatan bahwa ia merasa terancam dan siap untuk
menyerang apabila diperlukan. Pernah suatu kali aku melihat di internet, seekor
silverback yang merasa diprovokasi oleh pengunjung kebun binatang, ia
menyerang pengunjung tersebut dengan maju berlari dan menabrakkan badannya ke
kaca pelindung antara kebun dan pengunjung. Kaca tersebut informasinya diklaim
anti pecah dan anti peluru. Namun ternyata kaca tersebut retak dan hampir pecah
setelah ditabrak oleh gorilla tersebut. Kalian tebak, ya itu adalah seekor
gorilla silverback dewasa. Setelah ditelusuri ternyata gorilla tersebut
menyerang karena ada seorang anak kecil yang melakukan gerakan seperti memukul
dada nya sebagai tanda dominasi dan tantangan untuk menyerang. Tentu saja
gorilla tersebut menganggapnya sebagai tantangan dari si anak kecil dibalik
kaca tersebut. Hal yang sama kulihat dengan Yube di sini. saking luasnya kebun Savana,
terlalu banyak pengunjung yang datang, dan tidak semua paham tentang perilaku
gorilla. Tentu saja gerakan yang sama memukul-mukul dada tersebut dilakukan
oleh hampir setiap pengunjung disana, terutama anak kecil, dan remaja tanggung
yang tidak tahu apa-apa. Padahal sudah ada papan larangan dan peringatan di sana.
Yube terus merasa terprovokasi dan sepertinya ia tidak senang dengan perlakuan
pengunjung. Namun reaksi pengunjung tertawa lepas sambil merekam tingkah Yube
yang mereka anggap lucu tersebut.
Ada lagi satu tingkah Yube yang tidak
aku habis pikir ia berani melakukannya. Yube melempari penjaga kebun binatang
dengan sebuah batu!, Namun syukurlah batu tersebut tidak mengenai penjaga
tersebut. Hanya saja hal tersebut membuat seluruh pengunjung terkejut. Karena
batu tersebut sangat besar dan berat, mungkin sekitar dua puluh kilogram. Namun
dengan mudahnya diangkat dengan satu tangan saja oleh Yube, lalu ia
melemparkannya dengan mudahnya. Ada lagi yang lebih lucu daripada itu, Yube
melemparkan kotorannya! Ia kesal dengan
seorang pengunjung yang menurut ku dia sebenarnnya tidak salah apa-apa. Namun
mungkin karena pengunjung tersebut melakukan gerakan provokasi tersebut. Saat
itu kebun Savana tidak seaman sekarang yang tertup oleh tembok kaca tebal, dulu
hanya dibatasi dengan pagar terali besi, yang banyak celah dan lubangnya. Yube
tahu pagar tersebut tidak tertutup penuh, sehingga ia pun dapat melemparkan
kotorannya dengan tepat mendarat di wajah pengunjung nakal tersebut. Wah memang
luar biasa Yube ini. Ia pun ternyata bisa kesal layaknya seorang manusia.
Kini Yube sudah tidak ada lagi di keramaian
kebun binatang Savana tersebut, aku hanya bisa menikmati sisa foto-foto dan
video lamanya yang sempat kusimpan di handycamku. Yube di tembak mati oleh
penjaga kebun binatang dikarenakan dugaan membahayakan pengunjung. Saat itu seorang
balita terjatuh di wilayah kandang yube disaat belum dipasang pembatas pagar
besi besar yang menutupi kebun tempat
Yube berada. Yube dengan cepat menangkap anak kecil tersebut. Namun cara Yube mengangkatnya
tidak biasa, ia menggenggam kaki anak itu dan mengangkatnya. Terkadang ia memasang
wajah agresif kepada para pengunjung yang sudah berteriak keras sembari
melempari Yube kayu dan batu. Aku merasakan Yube saat itu panik dan ketakutan.
Bayangkan saja satu kebun binatang itu isinya teriakan manusia dan lemparan
sampah maupun batu ke dalam kandangnya Yube. Yube tetap menahan anak tersebut
sambil membawanya lebih jauh ke dalam kandang. Ibu dari anak tersebut makin
histeris. Sebagin pengunjung merekam kejadian tersebut di ponsel. Sebagian lagi
teriak-teriak memarahi penjaga kebun binatang yang tidak bisa apa-apa.
Sebenarnya kondisi anak yang jatuh di kandang tersebut secara fisik masih baik-baik
saja. Ia masih bisa berjalan. Hanya saja anak tersebut menangis, sehingga
pengunjung yang lain tidak kuasa menahan emosi atas ulah Yube yang menahan anak
tersebut.
Setelah dua jam lebih menunggu di siang itu, tiba-tiba
datang petugas dari konservasi bersama seorang polisi yang membawa senjata api,
beserta perawat dari ambulance ikut turun ke lokasi. Polisi tersebut mengokang
senjata apinya, mengambil posisi terdekat dari Yube, dan dengan cepat melepaskan
tembakan ke arah dada nya Yube. Seketika Yube saat itu terjatuh dan terkapar
tidak berdaya, ia telah mati. Aku tak kuasa menahan tangis karena Yube sudah
mati saat itu juga. Hal tersebut sudah diputuskan oleh pihak mengelola kebun
bersama orangtua anak tersebut. Alasannya demi keselamatan manusia. Padahal
sebenarnya anak tersebut tidak mengalami luka parah maupun cedera. Gorilla lain
di kebun tersebut panik dan berteriak, sepertinya mereka tahu kematian rekannya
di tempat tersebut. Apa daya mereka hanyalah hewan yang berada di kebun
binatang.