iklan 1

Ceritaku

 



Ceritaku

-caritas-

          “Hai Tania, apa kabar dirimu saat ini?” di manakah dirimu saat ini? Aku merindukan dirimu, Aku merindukan senyumanmu, tawamu, kehangatan dalam candaan yang kau berikan.” Kemanakah dirimu saat ini? Disaat seluruh upaya dan usaha cinta telah kita perjuangkan bersama?. Aku tahu kau mencintaiku, dan kau pun tahu aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini. Tapi mengapa engkau menghilang??”

Aku meneteskan air mata setelah membaca novel cinta karya Anugerah Suyoto seorang penulis sekaligus filsafat terkenal pada masa itu. Kisah cinta di novel ini menceritakan perjuangan cinta antara Rikky dan Tania yang harus kandas dikarenakan tidak dapatnya restu dari kedua orangtua mereka. Padahal mereka sudah berjuang selama tujuh tahun untuk memperjuangkan pernikahan mereka. Keduanya saling mencintai, keduanya saling menyayangi. Hanya saja sang wanita dari kalangan bawah, dan sang pria dari keluarga kalangan atas yang sangat terkenal di masa nya saat itu. Sungguh ironi melihat akhir dari cerita novel ini karena aku mengikuti ceritanya dari sejak Tania dan Rikky bertemu. Aku bagaikan saksi hidup yang menyaksikan perjalanan cinta mereka hingga beberapa seri dari novel tersebut selalu kunanti untuk aku beli. Namun apa daya, cinta mereka kandas di akhir. Sungguh penutup yang benar-benar tidak aku harapkan dalam cerita Anugerah sang novelis ternama ini.

          Namaku Ayu, aku seorang wanita karir pekerja kantoran di sebuah perusahaan swasta kecil di ibukota. Usiaku saat ini sekitar dua puluh empat tahun. Aku merantau cukup jauh dari kampung halaman ku yang berjarak 12 jam perjalanan darat dan kapal dari tempatku bekerja. Aku masih single dan belum berniat untuk menjalin hubunngan. Teman-teman kantorku sering mempertanyakan mengapa aku sampai detik ini tidak menjalin hubungan spesial dengan seorang laki-laki. Mereka selalu menuntut bahwa usiaku saat ini adalah usia yang sangat layak untuk menikah. Apalagi ditambah dengan parasku yang kata teman-teman cukup menarik. Lalu karir dan pertemanan ku yang cukup bagus dan sehat di kantor membuat teman-teman kantorku berandai – andai bagaimana nanti kisah cintaku. Bagaimana nanti sang pangeran pujaan hatiku datang melamar diriku.

          Sebenarnya mereka tidak tahu saja bagaimana pengalaman cinta ku. Aku sudah memiliki dua mantan pacar sampai saat ini. Saat SMA dulu aku sempat berpacaran dengan salah seorang seniorku di SMA. Ia bernama Rei, seorang anak remaja yang sangat disegani di sekolah. Ia seorang pemain inti basket di sekolah. Cowok idola adalah sematan yang cocok untuk dirinya. Tak kusangka saat itu ia mengutarakan perasaannya pada diriku yang kurang pergaulan ini di depan umum. Ia membawa teman-teman anggota gengnya beramai-ramai ke kelasku saat jam istirahat. Lalu melakukan pengakuan cinta di depanku sembari membawa bunga mawar dan ditambah dengan iringan musik dari teman-temannya. Seberani dan seromantis itu Rei di hadapanku. Aku yang saat itu merasa di atas awan di saat anak laki-laki populer di sekolah menembak diriku, tentu saja tersipu malu dan langsung menerima perasaannya saat itu juga. Dengan cepat namaku menjadi terkenal di SMA sebagai pasangan Rei. Hari-hari kami selama masa pacaran sungguh indah dan menyenangkan. Rei sangat baik hati, ia membawaku jalan-jalan keliling kota saat itu. Bertamasya, menonton bioskop, hingga yang paling sederhana, makan bersama. Sungguh dia adalah laki-laki yang tahu dan mengerti cara nge-treat wanita seusiaku bagaimana. Ia pun tidak menuntut atau marah-marah ketika aku menceritakan fans idolaku aktor K-Pop yang juga sampai saat ini masih aku ikuti infonya. Namun keindahan itu semua harus sirna di dua tahun hubungan kami. Rei lulus SMA dan melanjutkan studi kuliah ke luar negeri. Ia harus mengikuti arahan ayahnya yang ingin dirinya menjadi seorang engineer seperti dirinya. Rei terpaksa memutuskan diriku disaat aku sedang cinta-cintanya dengan dirinya. Aku sangat terkejut dan tidak percaya dengan keputusan Rei secara sepihak. Aku marah kepada dirinya. Namun Rei mencoba realistis, ia tidak mampu bertanggung jawab jika pada akhirnya ia tidak dapat bertemu diriku kembali. Ia juga sebenarnya menentang keputusan Ayahnya yang seenaknya menentukan masa depannya. Namun Rei tidak punya pilihan ia sadar ia masih bergantung dengan support dari orang tuanya. Ia tidak memiliki apa-apa. Sungguh hal itu membuatku sedih hingga 3 minggu aku tidak makan dengan teratur sehingga kesehatanku terganggu. Pelajaranku di sekolah juga terbengkalai. Aku sedih.

          Di masa kuliah awal, aku kembali menjalin hubungan dengan seorang seniorku lagi di masa kuliah. Namanya Ando. Ia senior di jurusan teknik, sementara aku di jurusan akuntansi. Ando bukanlah pria yang seterkenal dan sepopuler Rei, namun dirinya memiliki kharisma dan wibawa yang terpancar dari dirinya. Ia merupakan mahasiswa andalan di fakultasnya. Cukup pintar dalam studinya meskipun jarang terlibat dalam kegiatan sosial. Berbeda dengan Rei yang ceplas-ceplos, Ando sangat pendiam dan tenang orangnya. Terkadang setelah beberapa bulan mengenalnya aku sering bertanya-tanya ada apa tentang dirinya. Masih banyak hal yang tidak ku ketahui. Namun satu hal yang pasti Ando selalu mengucapkan kata “Aku mencintaimu.” Cukup dengan kata-kata itu keraguanku seolah-olah sirna dan rasa sayangku tumbuh kembali terhadapnya. Ia tahu bagaimana cara menghadapi wanita yang baru saja ditinggalkan oleh mantannya tanpa ada komunikasi dua arah.  Aku sungguh menikmati waktuku bersamanya. Sampai suatu ketika aku tidak sengaja memegang ponsel pribadinya yang sempat ketinggalan saat ia berangkat kuliah. Ponsel itu tertinggal ketika ia mengunjungi kosanku. Aku tahu password ponselnya sehingga dengan mudah aku dapat mengakses informasi dalam gawainya tersebut. Seharusnya ini tidak kulakukan karena ranahnya sudah privasi, namun karena rasa penasaranku yang sangat besar tentang dirinya membuatku dengan sengaja membuka isi ponselnya, membuka sosial media dan histori percakapannya.

          Sungguh di luar dugaanku mengetahui bahwa ada sekitar lima chat antara Ando dengan wanita lain yang tidak aku kenal. Dengan bahasa yang manja dan memakai kata “sayang, darling, bebs” kepada wanita-wanita tersebut. Tak kusangka juga beberapa dari wanita itu sampai rela memberikan kehormatannya kepada Ando. Detil demi detil bahasa chat itu kubaca. Tanggal , waktu dan tempat pertemuan Ando dengan wanita-wanita tersebut. Aku yakin wanita tersebut adalah pacar gelapnya yang tak pernah ku tahu. Aku mencoba berpikir positif, namun pada akhirnya rasa tersebut sirna karena aku tidak tahan dan langsung melabraknya. Ando mencoba menenangkan dan menjelaskan, namun aku tetap tidak menerima perkataannya. Tanpa butuh waktu yang lama, bukan aku yang mengatakan, Ando langsung mengambil keputusan “Ya udah, kita putus.” Dengan mudah dan tanpa emosi ia mengatakan hal tersebut. Aku yang sakit hati langsung meninggalkan dirinya.

          Tak banyak yang dapat kusampaikan, namun itulah yang membuatku kali ini sangat sakit dan terluka menjalin hubungan. Aku berharap ceritaku bisa berwarna seperti di novel yangbarusan kubaca, namun dengan ‘happy ending’, namun apa daya ceritaku tidak seindah yang tadi. Aku hanya bisa fokus meningkatkan kualitas diri dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk menunjukkan jalan yang benar terhadap diriku.


LihatTutupKomentar
Cancel

iklan 3