Kembali Tersenyum
-caritas-
Dua belas tahun yang lalu, di tengah
jalanan kecil yang diapit perumahan - perumahan warga, di sinilah masa kecil
kami dimulai. Aku memiliki teman masa kecil yang sangat kukagumi, Rendra
namanya. Dahulu kami bermain petak umpet di sini. Saat itu giliran Rendra yang
menjaga. Aku bersama teman – teman yang lain mendapatkan giliran untuk
bersembunyi. Rendra mulai menghitung, kami pun berlari secepat dan sekencang
mungkin mencari persembunyian. Komplek perumahan yang cukup luas memudahkan
kami mencari tempat persembunyian yang aman, sehingga sulit untuk ditemukan
oleh Rendra. Namun, Rendra cukup jeli mengetahui persembunyian kami.
Didapatinya kami satu persatu di tempat persembunyian kami, sehingga satu per
satu dari kami mulai ketahuan persembunyiannya. Namun kali itu, hanya aku yang
belum berhasil dia temukan. Saat itu aku bersembunyi di balik tanaman kembang
sepatu yang ditanam warga sekitar perumahan menjadi sebuah pagar hidup. Aku
berhasil kabur dari persembunyianku, dan berhasil kembali ke tempat, disaat Rendra
sibuk mencariku. Rendra kesal karena tidak berhasil menemukanku. Namun pada
akhirnya kami pun tertawa bersama, karena Rendra yang biasanya selalu berhasil
dalam hal apapun, harus kalah dalam permainan petak umpet. Oh iya, namaku Yumi,
aku adalah teman masa kecil Rendra yang pada akhirnya ditakdirkan untuk bertemu
kembali dengan Rendra di kampus yang sama untuk melanjutkan kuliah. Bahkan
sampai sekarang, di usia kami yang mau menginjak umur 20-an, aku masih
mengagumi dirinya.
Sejak kecil Rendra merupakan anak yang
ceria, aku menyukai senyumannya, ia hidup bersama neneknya. Orangtuanya sudah
lama meninggal karena kecelakaan yang aku pun kurang tahu pasti penyebabnya.
Anaknya sangat bersahaja, ia sangat rajin membantu neneknya menyapu dan
membersihkan halaman rumah. Ia juga sangat cerdas dan pintar. Semasa kami di
bangku sekolah dasar, ia selalu meraih juara satu di kelasnya, paling banter pun dia turun menjadi peringkat
dua di kelas. Guru-guru sangat menyayangi Rendra karena anaknya sangat penurut,
ceria, dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Rendra juga pintar bermain
musik, salah satunya keyboard yang menjadi andalan sekolah saat akan melakukan performance. Di masa SMP kami kembali
bertemu di sekolah yang sama. Aku selalu mengikuti rekam jejaknya. Ia masih
sama seperti dulu, cerdas, ceria, dan selalu tersenyum. Ia bisa beradaptasi
dalam situasi apapun, ia tidak pelit, selalu membagikan bekal yang dibawa ke
teman-temannya. Ia mau mengajari kami ketika ada mata pelajaran yang sangat
sulit. Bahkan mampu bersaing dengan
seluruh siswa di sekolah itu. Ia kembali meraih peringkat satu di kelasnya.
Orang-orang pun dengan cepat mengenalnya sebagai sosok yang dapat diandalkan.
Banyak sekali siswi-siswi di SMP yang mengagumi dan membicarakannya. Di masa
itu Rendra mengenalku sebagai sosok sahabat, kami sering jalan kaki pulang
bersama. Tentu saja banyak teman-teman wanita yang iri dengan keberadaanku yang
sudah sebegitu dekatnya dengan Rendra. Terkadang aku selalu meminta bantuan Rendra
ketika aku bingung mengerjakan PR dari sekolah, ia pun dengan senang hati
membantu dan mengajarkannya kepadaku. Hingga di bangku SMA, kami terpisah, ia
memilih melanjutkan di SMA favorit di luar kota saat itu, sementara aku yang
memiliki nilai pas-pas-an harus merelakan untuk melanjutkan sekolah di SMA
dalam kota saja. Semangatku pun sempat meredup untuk terus bersama Rendra
disaat kenyataan harus memisahkan kami.
Tahun demi tahun berlalu, dan kami pun
melanjutkan kuliah. Betapa terkejutnya diriku ketika aku bertemu kembali dengan
Rendra di kampus yang sama ketika kami berkuliah. Aku berusaha memastikan ini
bukanlah mimpi. Kucoba beranikan diri menyapanya, “Kamu Rendra kan? Masih ingat
aku enggak? Sapaku kepada Rendra. Rendra menoleh dan menyapa kembali. “Hai
Yumi” balas Rendra dengan ekspresi datar tanpa tersenyum sedikitpun. Kami
terdiam sesaat, kucoba melanjutkan pembicaraan. “Gimana kabarmu? Lama banget
lho kita gak ketemu.” “Baik, aku sehat,
sampai bertemu kembali Yumi” jawab Rendra dengan ekspresi datar yang dingin
seraya meninggalkan aku saat itu. Rendra yang kutemui saat itu bukanlah Rendra
yang dulu pernah kukenal. Ekspresi yang datar dan dingin tersebut belum pernah
kurasakan dan kutemui dalam dirinya. Beberapa kali aku mencoba membuka kembali
komunikasi dengan Rendra. Ia pun merespon ajakanku untuk bertemu, sebagai
sahabat lama tentunya. Namun yang kurasakan sungguh berbeda. Rendra yang
sekarang terlalu serius dan tanpa ekspresi sedikitpun. Ia sempat mengulang
kembali satu mata kuliah dikarena kan nilainya tidak mencukupi. Kutahu ia masih
sendiri, belum menjalin hubungan dengan wanita lain di luar sana. Aku berusaha
mendekatinya kembali, berharap kami bisa sedekat dulu saat masih di bangku
sekolah. Aku mencoba menanyakan padanya apa yang terjadi selama empat tahun
sebelum berpisah. Namun jawabannya selalu tidak memuaskan pertanyaanku. Setiap pertanyaanku yang berhubungan dengan
masa lalunya, selalu ia akhiri dengan pernyataan “Aku sangat membenci
orangtuaku.” Hal tersebut membuat diriku bertanya-tanya tentang masa lalu Rendra
yang sebenarnya. Meskipun sampat saat dan detik ini yang kuketahui adalah Rendra
ditinggal mati oleh kedua orangtuanya saat masih usia bayi dan ia dirawat oleh neneknya.
Saat itu kampus kami melakukan kegiatan
amal, membagikan sembako dan barang bekas pakai yang masih layak ke panti
asuhan. Aku satu tim dengan Rendra. Aku saat itu menjadi Master of Ceremony kegiatan amal tersebut. Kami membuat konsep
acara berupa games dan sharing time bersama anak-anak di panti
asuhan. Saat itu sempat ku lihat Rendra yang membagikan suvenir kepada
anak-anak panti asuhan. Lalu datang seorang anak kecil yang ingin mobil
mainannya diperbaiki oleh Rendra. “Kak, mobilku ban nya copot, kakak bisa bantu
perbaiki?”, tanya salah seorang anak itu kepada Rendra. Rasa haruku yang muncul
melihat imutnya anak itu menjadi hilang ketika Rendra malah membuang mobil
mainan anak itu dengan beralasan sibuk dan tidak bisa diganggu. Aku pun datang
dan berusaha membesarkan hati anak tadi yang sudah menahan air matanya ketika
mainannya dilempar oleh Rendra. Sempat juga di suatu waktu aku berjalan dan
berbicara dengan Rendra. Aku menunjukkan seorang anak kecil yang digendong
ayahnya sambil berjalan di taman. “Hebat ya ayahnya, di zaman yang serba modern
seperti ini, masih mau meluangkan waktu untuk anaknya” kataku kepada Rendra.
“Aku tidak peduli dengan kehidupan mereka, jangan membahas hal itu di depanku.”
Rendra meninggalkanku. Aku kecewa dan sedih melihat tingkah laku Rendra yang
sekarang. Aku memutuskan tidak bertemu Rendra selama beberapa saat.
Libur semester aku pulang ke kampung
halaman, aku tidak tahu apakah Rendra pulang atau tidak. Kuberanikan diri
mengunjungi rumah nenek Rendra saat itu. Aku berharap bisa kembali bertemu
dengan Rendra. “Halo Non Yumi, lama tidak ketemu, nenek sangat kangen sekali
denganmu” sapa neneknya Rendra kepadaku. Akupun langsung merangkul dan memeluk nenek
Rendra. Seolah kami sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Ia masih sama seperti
dulu, hanya saja sudah membutuhkan tongkat untuk berjalan. Kami
berbincang-bincang tentang masa kecil aku bersama Rendra dan teman-teman.
Disaat itu kutahu bahwa Rendra sedang tidak akur dengan Nenek sejak di masa
SMA, dan saat ini ia berada diluar rumah dan biasanya baru pulang di malam
hari. DIsaat itu juga kutahu bahwa orangtua Rendra meninggal bukan karena
kecelakaan dan Rendra sangat ingin mengetahui siapa kedua orangtuanya. Namun
sampai saat ini nenek tidak bisa memberitahu Rendra karena memegang janji dari
kedua orangtuanya. Kuberanikan diriku untuk menanyakan yang sebenarnya.
Kuceritakan kondisi Rendra sekarang yang bertolak belakang dengan sifatnya di
masa lalu. Setelah berusaha kuyakinkan, akhirnya nenek Rendra memberi jawaban.
“Maaf ya non, nenek sudah membuat kamu susah selama ini karena Rendra, nenek
percaya sama kamu, jika kamu ingin mengetahui yang sebenarnya, pergilah bersama
Rendra ke alamat ini.” Nenek memberikan secarik kertas yang berisikan alamat
dan nomor telepon. Alamat sebuah rumah lama yang cukup jauh dari rumah kami.
Aku yang begitu penasaran langsung menghubungi Rendra dan mengajak dia ke
tempat itu dengan alasan untuk mengambil bahan skripsiku.
Hari berikutnya Rendra memutuskan
bertemu denganku, dengan alasan ia hanya ingin menolongku mengerjakan
skripsiku. Kami bersama-sama menuju alamat itu menaiki sepeda motornya Rendra.
Kami menyusuri jalanan kota dan desa, hingga setelah satu jam perjalanan, kami
sampai di rumah tua tepat di alamat kertas tersebut. Rumah tersebut sangat luas
dan sepi. Aku menghubungi nomor telepon di kertas tadi. Seorang pria tua paruh
baya membukakan gerbang rumah itu. “Nak Rendra, selamat datang. Jawab pria tua
itu sambil menangis dan memeluk Rendra. Kami diajak masuk ke rumah tua itu.
Pria itu adalah sahabat baik orangtua Rendra. Kami pun menyusuri rumah tua itu
dari setiap ruang. “Ini rumah tempat kelahiranmu Nak Rendra, kamu lahir di
sini, sebelum orangtua mu menitipkan mu ke nenek.” Rendra tertegun dan terdiam,
tidak disangkanya itu adalah rumah masa lalunya. Rendra menyikut diriku, sambil
melirik sinis, karena tahu bahwa aku membohonginya. “Orang tuamu adalah aktivis
sosial, yang menjadi oposisi pemerintah di kala itu, banyak tulisan dan karya
mereka yang menentang pemerintahan yang korup dan sarat dengan nepotisme,
banyak yang mendukung orangtuamu, mereka sangat dikenal, namun tidak sedikit
juga yang membenci mereka, sempat beberapa kali mereka diteror, pada akhirnya
untuk keamananmu sebelum kamu lahir, mereka memutuskan mengasingkan diri dan
tinggal di rumah ini yang sangat jauh dan terpencil.” Rendra kembali terdiam.
“Lantas di mana mereka sekarang?” tanya Rendra. “Malam setelah beberapa minggu
kelahiranmu, mereka ditangkap, dan aku tidak bisa menyelamatkan kedua
orangtuamu.” Jawab pria itu sambil menguraikan air mata. Tak kuasa mendengar
cerita itu, terurailah air mataku. Kami berkeliling di dalam rumah. Rendra
membuka sebuah album foto tua, dilihatnyalah foto–foto kedua orangtuanya, foto
ayah dan ibu Rendra dalam berbagai kesempatan, hingga foto Rendra semasa bayi
yang timang ibunya ditemani oleh ayah Rendra. Di halaman belakang album itu, terbuka
secarik surat yang dibaca oleh Rendra “Teruntuk
anak kami Rendra, Nak bagaimana kabarmu? Kamu sudah kelas berapa sekarang?
Sudah ada pacarmu? Atau istrimu mungkin? Ayah dan Ibu sangat ingin bertemu dan
menemani masa kecil mu, namun kami tidak dapat mewujudkan hal itu. Maafkan Ayah
dan Ibumu yang terlalu idealis ini, ini adalah jalan yang kami pilih. Jadi anak
yang baik ya Ren, yang berguna untuk bangsa dan negara, kamu tidak perlu harus
menjadi seperti Ayah dan Ibumu. Maaf jika ayah dan ibumu tidak sempat menemani
masa kecil mu, maaf jika kami tidak ada ketika kamu di bangku sekolah, Maaf kan
Ayah dan Ibu jika kami tidak bisa menjadi Ayah dan Ibu yang baik seperti
teman-temanmu yang lain. Tetap berjuang lah anakku untuk kehidupanmu yang lebih
baik. Kamu layak mendapatkannya. Salam, Dari kami yang menyayangimu”.
Demikian isi surat itu. Baru kali ini kulihat Rendra yang ekspresif, ia
menangis di depanku seperti seorang anak kecil. Aku bingung harus bagaimana. Aku
hanya bisa menemaninya saat itu juga. Mengetahui kejadian yang sebenarnya membuat
kami pun lega. Kami pulang dari rumah itu dan berpamitan dengan Pak Riski, pria
tua yang menjaga rumah itu. Saat itu juga Rendra kembali tersenyum, dan
berterima kasih kepadaku, kami pun pulang melanjutkan perjalanan kami.

