Ada Waktunya
-caritas-
Empat tahun telah berlalu semenjak aku
ditugaskan kerja di sini. Cukup lama untuk perjuangan karirku sebagai karyawan
di sebuah perusahaan kertas di daerah terpencil. Aku merantau bekerja untuk mencari
nafkah dan menghidupi adik-adikku yang tinggal jauh di kampung halaman. Di kota
ini aku mempunyai teman akrab yang juga bekerja di perusahaan yang sama
denganku. Bayu dan Mamang namanya. Mereka adalah teman seperjuanganku ketika
kami pertama kali sampai di daerah ini dan mulai beradaptasi bersama. Meskipun
kami tinggal berbeda kosan , namun kami rutin berkumpul sebagaimana anak muda
berkumpul. Mungkin sudah pantas disebut sebagai bujang lokal. Bayu ini anaknya
ceria dan suka bercanda. Aku senang bisa mempunyai sobat yang humoris. Candaan
dia sebenarnya tidak terlalu lucu, hanya saja cara dia menyampaikan, membawakan
dan memperagakannya adalah effort yang belum tentu orang lain punya dan
mau melakukannya. Sehingga kami dibuat tertawa olehnya. Mamang, si kurus tinggi
loyo, terlihat seperti pengguna obat-obatan terlarang. Namun orangnya bukan
seperti itu anaknya baik dan sangat bocor ternyata. Jangan pernah ceritakan
rahasia burukmu karena akan dibuka nya di depan umum ditambah bumbu hiperbola
yang sedap darinya sehingga cerita rahasia tadi malah menjadi guyonan yang bisa
bikin ketawa sekaligus jengkel bagi yang mendengarkan. Ada lagi Ridwan dan
Joko, kawan seperjuanganku di sini. Mereka dari perusahaan yang berbeda, namun
kami dipertemukan dalam komunitas paguyuban masyarakat Jawa. Sehingga kami
menjadi akrab. Kebetulan juga sefrekuensi dan kami hampir sebaya semuanya.
Kini Mamang dan Bayu sudah duluan
pindah unit. Mereka dipindahkan ke kota lain untuk melanjutkan perkerjaan,
istilahnya di kami saat itu adalah mutasi. Selang tiga tahun sejak perkenalan
kami. Sungguh teramat sangat disayangkan aku berpisah dengan soulmate
yang sangat humoris di kantor tempatku. Sekarang sepi sekali rasanya bekerja
tanpa teman-teman seperjuangan ini. Syukurnya masih ada Ridwan dan Joko yang
masih menemani dalam masa-masa perantauan ini. Satu tahun berselang, Ridwan
mutasi ke ibukota, begitu juga dengan Joko yang menyusul setelah itu. Sayang
sekali rasanya pertemanan kami cukup singkat yang harus diakhiri dengan perpisahan.
Setelah kejadian itu aku menjadi sulit
beradaptasi dengan lingkungan, perusahaan ku mulai berganti kepemimpinan dan
berganti keanggotaan karena sistem mutasi ini. Sekarang aku menjadi senior di
perusahaaan tersebut dan harus berteman dengan anak-anak baru. Anak-anak baru
ini berbeda lima sampai tujuh tahun lebih muda dariku sehingga aku lah yang
dianggap paling sepuh di sana. Aku berpikir apakah bisa berteman dengan
anak-anak baru ini. Namun ternyata tidak seperti masa-masa kami lima sekawan
dulu. Bahan guyonan sudah berbeda, selera makan juga berbeda, bahkan lagu- lagu
favorit juga berbeda. Lebih tepatnya berbeda zaman. Mungkin aku bisa dibilang
anak dari musik zaman old, sementara anak-anak baru tersebut sudah mengikuti
musik kekinian yang sarat dengan modernitas. Aku masih bisa mengikuti yang
terbaru, namun seleraku mengatakan musik pada zamanku lah yang terbaik dengan
makna yang dalam. Cara mereka berguyonpun berbeda, apa yang kuanggap lucu belum
tentu lucu bagi mereka, sebalik nya apa yang mereka anggap lucu, aku tidak
paham dan merasa biasa saja. Aku hanya bisa berharap sudah waktunya aku
dipindahkan dari daerah ini. Namun hal tersebut belum juga kunjung datang.
Pagi ini perusahaan libur karena hari
buruh nasional. Aku bangun pagi, bersih-bersih. Mencuci pakaian, mandi, sarapan
dan sedikit refreshing dengan jalan pagi. Aku iseng melihat suami istri
pedagang jajanan pasar yang ada di sekitaran jalan besar menuju kosanku.
Kuhampiri mereka dan kubeli dagangan mereka. “Bu dadar gulung dua, donatnya dua,
kue lapisnya dua, cucur dua dan yang dibungkus daun pisang ini dua ya bu.” “Semuanya sepuluh ribu mas, ini bonus pisang
goreng satu” jawab ibu nya. Aku melihat hal itu jadi sangat senang karena dapat
bonus. Biasanya aku jarang belanja di sini karena lebih sering masak di dapur.
Suami dari ibu pedagang jajanan pasar tadi melanjutkan obrolan dengan istrinya
dengan Bahasa Jawa. Sepertinya mereka membahas tentang anaknya. Aku yang paham
dengan Bahasa Jawa ikut menimpali obrolan mereka. “Ohh Mas e dari jawa juga ya,
iya nih mas kami lagi pusing nih.” Ibu itu melanjutkan obrolannya denganku
berhubung saat itu sedang sepi pembeli. Ternyata sang Ibu dan Ayah pedagang
jajanan pasar itu sedang kuatir dengan kondisi anak semata wayangnnya yang
sudah menginjakkan kaki di SMA. Anaknya bolos sekolah dan tidak mau masuk ke
sekolah. Padahal uang sekolah, motor, uang saku sudah diusahakan oleh mereka
selaku orangtua nya. Anak tersebut juga tidak mau membawa motornya ke sekolah
karena tidak ada tempat parkir alasannya. “Dari SMA mana bu anaknya? udah kelas
berapa?” tanya ku. “ SMK dia mas, SMK 4, sudah tahun kedua mas dia di sana.”
Sepengetahuan ku anak kelas dua SMA sudah boleh membawa sepeda motor ke sekolah
saat itu di sana” Sekolah pun menyediakan tempat parkir bagi anak sekolah.
Dikarenakan jarak antar desa dan kampung untuk sekolah di sana cukup jauh dan
fasilitas transportasi umum di sana
belum memadai. “Lalu kenapa dia jarang masuk sekolah Bu?” Sang ibu menjelaskan bahwa anaknya tidak
menyukai jurusan yang ia dapat, saat penentuan jurusan sang anak ingin teknik
mesin seperti temannya yang lain, namun
pada akhirnya ia mendapatkan jurusan informatika yang tidak sesuai
dengan keinginannya. Sang ayah sudah mencoba menegosiasikan dengan pihak
sekolah agar anak semata wayangnnya dipindahkan jurusannya sesuai keinginannya
, namun apa daya sekolah menolak karena sang anak memang tidak lulus tes sama
sekali di jurusan teknik mesin.
Sembari mendengar keluhan ayah dan ibu
penjual jajanan pasar tadi, aku merenung sejenak. Kasihan juga ayah dan ibu ini
ya, dagangan mereka laku, mereka bekerja keras dari pagi hingga sore hari
berjualan jajanan pasar ini. Mereka pasti butuh waktu bertahun tahun untuk
sampai di titik ini. Belum lagi dengan persiapan mereka menyiapkan dagangan ini
yang kutahu mereka benar-benar membuat sendiri sebagian besar jajanan pasar
ini, hanya sedikit yang dititipkan dari orang lain. Menurutku tidak ada yang
salah dari sang ayah dan ibu pedagang kue pasar ini. Hanya saja mungkin waktu
mereka untuk anak yang sedikit tersita, atau mungkin pergaukan sang anak yang
tidak benar sehingga ia cenderung mengikuti dan bergantung sama teman-teman
mainnya. “Motor apasih yang Pakde belikan sama anaknya?” tanyaku, “Motor beat mas, yang matic itu, pasti nyaman
dia.” “Hmm pasti teman-temannya pada
naik motor laki kan ya Pakde?” pungkas ku.
“Lho bener mas..” jawab sang ayah. Kutahu berat memang bergaul di masa
SMA yang penuh dengan validasi. Di zamanku SMA dulu, anak laki laki tidak akan
keren jika belum punya motor laki seperti king, satria, ninja, klx, dll. Namun
aku hanya diam saja tidak menanggapi jawaban sang ayah. Aku menyemangati mereka
dan mengatakan semua pasti baik-baik saja dan ada waktunya sang anak akan
berubah. Aku meninggalkan mereka. Sejenak aku merenung, harusnya kata-kata tadi
untuk diriku juga ya, ada waktu dan masanya untuk pertemanan dan karirku ini. Aku
menertawai diriku sendiri. Aku melanjutkan perjalananku.