iklan 1

Mas Bayu

 



Mas Bayu

-caritas-

“Rina benci dengan Mas Bayu, Rina menyesal punya kakak seperti dia.” Ucapku sekeras hati kepada Ibuku di hari ulang tahunku yang ke empat belas. Ya benar, Mas Bayu kakak pertamaku tidak pernah sekalipun hadir di ulang tahunku, ataupun mengunjungiku sebagai adik perempuannya. “Sabar sayang, Mas Bayu itu lagi sibuk, kamu tahu kan sekarang Mas Bayu adalah pengganti ayah, banyak yang dia tanggung semenjak kepergian ayah, tidak mudah baginya untuk datang setiap saat karena dia sudah jauh merantau.” Terang Ibuku sambil meneteskan air mata. Aku yang saat itu tidak begitu paham maksud Ibu, langsung menjawab “Ya tetap aja dia nggak datang, Rina kecewa sama Mas Bayu, menelepon Ibupun tidak pernah.” Sembari diriku berlalu masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras. Padahal di hari itu juga Mas Rian, kakak keduaku yang kuliah hanya berbeda beberapa kota saja mengusahakan untuk datang dan memberikanku kado ulang tahun. Hanya Mas Rian yang kuanggap sebagai kakakku karena dia sangat peduli dan pengertian denganku, berbeda jauh dengan Mas Bayu yang tidak pernah peduli dengan kondisi saudari perempuannya.

Hari ini aku berumur tujuh belas tahun. Tiga tahun setelah aku mendeklarasikan ketidaksukaanku dengan kakak pertamaku, Mas Bayu. Terakhir kali kuingat, Mas Bayu merantau ke pulau seberang dimulai saat ia baru masuk kuliah, setahun setelah ayah meninggal. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi kembali ke rumah. Sebetulnya selain sikapnya yang tidak peduli dan jarang memberi kabar itu, Mas Bayu punya beberapa kekurangan yang sangat tidak sepadan jika dibandingkan kami saudara-saudaranya. Mas Bayu punya disleksia, ketidakmampuan untuk berbicara dengan normal. Sejak kecil ia sudah terlambat untuk mampu berbicara dibandingkan dengan anak-anak normal seusianya. Bahkan terakhir kami bertemu pun Mas Bayu punya kesulitan berbicara dengan normal dengan kami, sehingga terkadang ia menggunakan bahasa isyarat. Sempat Ibuku menduga dia tuna wicara, Ibu sangat sedih dengan kondisi Mas Bayu yang bisa dikatakan seperti berkebutuhan khusus. Mas Bayu juga punya perawakan pendek, wajah yang terbilang pas-pasan menurutku dan kulit sawo matang yang lebih gelap bila dibandingkan dengan Mas Rian. Sebaliknya Mas Rian seperti kakak ku yang paling sempurna. Tinggi, kulit putih cerah seperti Aku dan Ibuku, atletis dan jago olahraga. Perawakan juga terbilang good looking, jago bicara dan humoris, dan yang terpenting ia peduli denganku adik perempuannya.

Waktu usiaku masih di bangku SD dulu, aku paling bangga diantar ke sekolah oleh Mas Rian, dibandingkan dengan Mas Bayu. “Wah, kakakmu ganteng yang Rin,” “Pengen deh jadi saudara kandung Rina.” “Keren ya, adiknya aja udah cantik, abangnya juga ganteng emang sepadan lah” Seperti itulah kira-kira pujian dari teman-temanku di sekolah jika Mas Rian datang ke sekolah bersamaku. Aku sangat senang dan bangga. Justru jika Mas Bayu yang jemput aku tidak pernah sekalipun mau memperkenalkannya dengan teman-teman di sekolah. “Mas Bayu tunggu di pagar belakang aja ya, ga usah masuk ke sekolah, nanti Rina jalan ke sana” Begitu selalu jawabanku kepada Mas Bayu jika dia yang datang menjemputku ke sekolah. “Rin itu tukang antar jemput lu udah nunggu di belakang, buruan pulang.”  Kata teman ku yang syukurnya ia tidak mengenal siapa dibalik jaket hoodie hitam ditutupi masker dan helm yang tak lain adalah Mas Bayu. Aku selalu berupaya supaya tidak ada yang mengenal Mas Bayu sebagai saudaraku. Aku sangat malu dan tidak terima dengan kondisinya yang sudah tidak good looking, berbeda jauh dengan aku dan Mas Rian, ditambah dia disleksia yang membuatku tidak berani membawa nya di depan umum. Hal ini terus berlangsung hingga Mas Bayu akhirnya lulus SMA dan kuliah ke luar kota yang cukup jauh dan harus ditempuh dengan pesawat terbang.

Aku paham betul Mas Bayu juga mengerti yang kurasakan, ia pun tidak pernah mempermasalahkan tentang aku yang memberikan perlakuan berbeda dengan Mas Rian dalam hal mengantar jemput ke sekolah. Aku pun cukup terbantu dengan sikap Mas Bayu yang terkesan tertutup dengan dunia luar, yang kutahu Mas Bayu itu introvert, yang sulit untuk berteman dan berkenalan dengan orang baru. Lalu Mas Bayu juga memiliki hobi yang jarang sekali harus membawanya keluar rumah. Ia hanya keluar rumah saat ada perlu saja. Berbeda dengan Mas Rian yang aktif dan selalu melalang buana, teman-teman Mas Rian pun banyak. Berbeda sekali dengan Mas Bayu yang hanya berteman dengan Pak Slamet, satpam sekolah SMAnya,  atau Koko Rudi yang merupakan pemilik toko buku bekas yang yang menjadi langganan Mas Bayu. Tidak pernah kutahu sedikitpun siapa teman dekatnya Mas Bayu. Ya mungkin karena usia kami yang terpaut cukup jauh makanya Aku pun sulit dekat dengan Mas Bayu yang terlalu serius dan super sibuk itu. Aku juga tidak terlalu mengetahui bagaimana pendapat Mas Rian terhadap Mas Bayu dan segala kondisinya. Hal yang kuketahui adalah Mas Rian takut sama Mas Bayu yang serius dan pendiam itu.

Tahun ini adalah tahun kelulusan SMA ku. Kami mengadakan prom night sebagai malam perayaan sekaligus perpisahaan kami siswa-siswi SMA Teladan, SMA khusus di bidang seni dan budaya, yang juga merupakan SMAnya Mas Rian dan Mas Bayu dulunya. Acara itu dihadiri seluruh siswa-siswi dari SMA Teladan bersama orangtua murid. Tentu saja acara ini sangat bergengsi karena setiap tahunnya setiap angkatan yang lulus selalu berupaya menyusun konsep acara yang kreatif dan inovatif. Bagus tidak nya acara prom night bergantung dari respon Bapak Yosep kepala sekolah kami dan seluruh anggota komite sekolah. Hari itu angkatanku menampilkan pertunjukan drama musikal. Drama ini diambil dari cerita rakyat “Bawang Merah dan Bawang Putih.” Tentu saja aku mendapatkan peran utama sebagai Bawang Putih yang menderita akibat perlakuan saudarinya Bawang Merah. Drama musikal berlangsung lancar, kami mendapatkan tepuk tangan dari kepala sekolah dan seluruh hadirin peserta acara. Hadir juga dalam kegiatan itu Mas Rian dan Ibuku. Aku sangat senang dan bangga. Kulihat Mas Rian dan Ibu senyum-senyum dari jauh melihatku. Aku tersipu malu. Setelah rangkaian acara formal selesai, Pak Yosep memberikan sambutan dan apresiasi atas seluruh kerjasama panitia acara dan angkatan SMA ku sudah berjuang memberikan persembahan terbaik.

Di akhir acara Pak Yosep memberikan closing statement yang membuatku heran. “Sebelum Bapak akhiri sambutan Bapak, mari kita sambut persembahan musik dari alumni SMA Teladan yang sukses berkarir di dunia seni dan salah satunya merupakan lulusan terbaik yang sangat Bapak Banggakan, kita sambut Bayu Prawiro!” Aku terperangah, kulihat sosok laki-laki yang seperti kukenal melangkahkan kaki keluar membawa sebuah gitar klasik, lalu dengan tenang dan berwibawa, membawakan sebuah lagu klasik dari Simfoni No.9 karya Beethoven, lalu ditutup dengan permainan klasik dari lagu Ipank “Sahabat Kecil”. Saat lagu sahabat kecil dinyanyikan, seluruh hadirin di ruangan ikut menyanyikan dengan penuh hikmat. Tidak salah lagi, itu Mas Bayu yang kukenal ! Dia terlihat berbeda sekali,  lebih rapi dan bersih dengan sosoknya yang sekarang. Dia lebih tenang dan elegan. Sampai-sampai aku tak percaya kalau dia adalah kakak kandungku. Teman-temanku langsung menyeletuk, “Rin itu kakak elu kan?, Dia keren banget lho main gitarnya, aku follow youtube kakakmu lho.” “Lu keren banget sih punya kakak yang keren-keren, gua aja berharap bisa punya kakak kaya elu”   “Ah masa’ sih?” jawabku seolah tidak percaya.  “Mas Bayu itu terkenal lho di extra musik, senior-senior banyak yang masih berteman baik dengannya.” “Elu punya kakak yang keren-keren malah diem-diem bae.” kata teman-temanku.  Aku masih tak percaya jika Mas Bayu sangat dikenal dan disegani di sekolahku.

Aku meneteskan air mata, Mas Bayu yang selama ini kukenal buruk ternyata ia bukanlah seperti yang kubayangkan. Saat penampilannya usai dan mengucapkan salam, aku berlari dari kursiku, pergi ke belakang panggung dan menghampiri Mas Bayu. “Mas Bayu !”  teriakku, Mas Bayu menoleh, menghampiriku dan langsung memelukku. “Mas min-ta ma-af ya dek, su-dah ja-rang ber-ka-bar, Mas si-buk dan ma-sih ha-rus me-na-bung. ”Ucap mas Bayu dengan tata bahasa yang terbata-bata, aku teringat kondisinya dulu karena disleksianya,. “Adek minta maaf juga mas, sudah egois dan tidak dewasa melihat kondisi Mas, adek minta maaf, adek kangen sama Mas” jawabku sambil menangis. Datang juga Mas Rian dan Ibuku,  mereka ikut terharu dan bahagia, kami saling berpelukan melepas kangen. Mas Rian sambil tertawa mengatakan, sebenarnya Ia dan Ibu sudah tahu kedatangan Mas Bayu, namun mereka merahasiakannya kepadaku. Aku menjawab dengan nada ketus. Pada akhirnya di malam itu kami dapat tertawa bersama. Kali ini aku disadarkan dan harus bersyukur dengan kondisiku yang sekarang. Aku sangat menyayangi keluargaku.


LihatTutupKomentar
Cancel

iklan 3