iklan 1

Manusia Pemenang


MANUSIA PEMENANG

-caritas-

Namanya Garin, ia adalah seorang pemuda yang telaten dan ambisius. Setiap saat dan waktu ia selalu menganggap hidupnya penuh dengan kompetisi. Mulai dari bangun pagi, ia pasti yang paling cepat di antara teman-teman se asramanya, jika ada temannya yang bangun lebih pagi dari dia, maka ia akan bangun lima menit lebih cepat dari temannya tersebut. Kemudian saat makan bersama, ia menjadi yang paling pertama menyuap nasi dan lauk pauk ke piringnya. Habis makan pun harus Garin yang paling cepat, jika ada yang lebih cepat dari dia, maka dia menganggap orang tersebut adalah rival yang harus dia taklukkan. Saat berangkat ke sekolah, kebenaran sekolah Garin adalah sekolah swasta terkenal di ibukota Jakarta yang mengedepankan kedisiplinan bagi siswanya, jarak asrama ke sekolah kurang lebih dua kilometer. Para siswa menempuhnya dengan bersepeda. Hari itu ada seorang siswa yang mendahului Garin bersepeda, ia menyalip Garin dengan tanpa maksud dan sengaja. Garin dalam hati bergumam “Sialan, elu nantang gua ya.” dengan sigap Garin mengayuh sepedanya dengan lebih cepat untuk menyalip sepeda orang yang sudah mendahuluinya. Tiba-tiba ada seorang pesepeda lainnya yang tidak sengaja melewati sepedanya Garin. Lantas Garin memacu sepedanya lebih cepat lagi untuk mendahului orang itu. Ya begitulah keseharian Garin si anak terambis  yang tidak pernah mau kalah dalam hal apapun.

Dalam keseharian di sekolah, Garin termasuk pribadi yang cerdas, ia selalu meraih peringkat top five dalam kelas nya. Hal itu sudah terjadi sejak masa dia di bangku sekolah dasar. Julukan manusia pemenang cocok dianugerahkan kepadanya. “Memang gua hebat, syukurlah gua terlahir pintar dan selalu beruntung ini.” Gumam Garin dalam hati saat ia sendiri meraih nilai sempurna dalam ujian nasional kelas sebelas di SMA. Kehebatan Garin dalam studi di sekolah sudah diakui oleh teman-teman sekelasnya. Sulit sekali menyaingi dia, karena Garin adalah orang yang terobsesi untuk menjadi yang terbaik. Vincent, salah satu sahabat Garin pernah bertanya kepadanya, “Bro, elu kenapa sih pinter banget? kasi tahu dong rahasianya.”   “ Emang dari sononya kali” jawab Garin penuh percaya diri. “Lha, elu kan juga makan nasi kaya kita-kita, main game juga, nonton anime apalagi, jangan-jangan karena elu anak kesayangan Bu Nur ya.” “Ha ha ha, kagak bro, gua aja yang emang lebih semangat ngerjain semuanya, gua benci kekalahan bro, gua ga mau hidup susah kaya bokap gua yang cuman pegawai negeri biasa, itu doang motivasi gue.” Jawab Garin kepada Vincent. Tidak hanya cerdas dalam pelajaran, Garin adalah juga menguasai ilmu bela diri pencak silat, ia juga sering mengikuti kejuaraan pencak silat tingkat SMA dan tentu saja ia adalah sang juara. Cerdas dalam pelajaran, kuat dalam fisik membuat Garin menjadi siswa unggul di sekolahnya.

Namun meski terkenal dengan kehebatannya di sekolah. Garin sama sekali tidak memiliki teman yang akrab. Bahkan sobat karib pun tidak punya. Ya dengan kemampuannya yang sangat gemilang membuat Garin lebih memilih mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Pernah suatu kali dalam kerja kelompok diskusi Geografi, saat sesi tanya jawab, Garin memotong perkataan Indra, sang ketua kelompok saat menyampaikan paparan. Sehingga paparan diskusi kelompok mereka diambil alih oleh Garin. Garin menjawab dari huruf A sampai huruf Z, dan bagaimana hasilnya? Ya, guru sangat puas dengan jawaban Garin yang sudah sangat jelas, lengkap dan terperinci. Menurut Garin, Indra tidak mampu menyampaikan materi kelompok dengan baik dan gaya bicaranya yang tidak meyakinkan. “Kelompok ini terselamatkan oleh gua.” Kata Garin dalam hati. Memang benar kelompok itu terselamatkan oleh Garin, namun hal tersebut membuat Indra kurang menghormati Garin sebagai rekannya begitu juga dengan rekan kelompok yang lainnya. Hal tersebut bukan hanya satu dua kali terjadi. Dalam diskusi kelompok lainnya, Garin bertindak dominan, ia sering menyela dan mengambil alih tugas dan tanggungjawab yang seharusnya dikerjakan oleh rekannya. Hal tersebut pada akhirnya membantu penyelesaian masalah kelompok, namun membuat teman-teman yang lain merasa tidak berkontribusi dalam tim, dan bahkan tidak berani berkata-kata karena sudah ada Garin yang lebih pintar mengatasi situasi tersebut.

Tahun ketiga di SMA, Garin memutuskan untuk berpacaran dengan Siska, salah satu anggota OSIS yang menjadi primadona di sekolah. “Sepertinya dia bisa deh gua dapetin, ga mungkin dia bakal nolak gue.” Ucap Garin dalam hati. Garin dengan ketenarannya sebagai siswa unggul tentu dengan mudah dapat meluluhkan hati Siska. Singkat cerita mereka jadian hanya dalam selang waktu beberapa minggu pendekatan. Hubungan mereka berlangsung lama hingga tahun terakhir di SMA saat kelulusan para siswa. Siska melanjutkan kuliah di salah satu kampus negeri ternama di daerah Bandung  ia lulus melalui jalur undangan. Beberapa teman-teman yang lain juga mendapatkan kampus sesuai dengan pilihan mereka. Sementara Garin lulus di pilihan ketiga kampus pilihannya. Garin tidak menerima hasil tersebut, karena ia sudah sangat yakin dengan kampus pilihan pertamanya melalui jalur undangan. Saat memilih pilihan kampus, Garin tidak memedulikan pilihan kampus nomor dua dan nomor tiga. Ia sangat yakin dengan kondisi dan statusnya sebagai siswa terbaik dan unggul di sekolah, tidak mungkin ia akan ditolak di pilihan pertamanya. Beberapa teman Garin sudah menasihati agar Garin legowo dan memilih kampus ketiganya sebagai tempat kuliah, namun ia tetap bersikeras pada pilihan pertamanya. Waktu terus berjalan, Garin memutuskan menempuh jalur ujian tulis untuk tetap mengejar jurusan dan kampus impiannya. Kurang lebih sebulan lagi waktu tes tertulis. Garin dengan percaya diri yakin bahwa ia akan lulus tanpa perlu persiapan yang berlebihan. Hari ujian tulis pun dimulai, betapa sangat terkejutnya Garin bahwa ia dinyatakan tidak lulus tes tertulis di jurusan dan kampus  pilihannya. Garin mulai bimbang, tak biasanya ia merasakan hal ini. Dicobanya mencari info lagi bagaimana agar tetap bisa lulus dan masuk di jurusan dan kampus pilihannya di saat itu juga, di tahun yang sama. Sebab Garin tidak ingin terlambat kuliah dibandingkan dengan teman-teman seangkatannya. Garin mendapatkan info ujian jalur mandiri, ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama saat ujian tertulis. Garin belajar dan berlatih soal, dan pada akhirnya Garin lulus di jurusan dan kampus pilihannya tersebut melalui jalur mandiri. Saat pendaftaran ulang, betapa terkejutnya Garin melihat nominal uang kuliahnya, yang jumlahnya cukup fantastis bila dibandingkan dengan teman-temannya yang sudah lulus melalui jalur undangan. Garin mencoba berbicara dengan ayahnya yang saat itu sudah hampir memasuki masa pensiun dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri. Tentu saja ayah Garin tidak mampu menyanggupi uang kuliah Garin yang begitu mahal. Sontak Garin mengancam tidak akan melanjutkan kuliah jika ayahnya tidak menyanggupi permintaannya. Ia merasa telah berjuang penuh untuk mendapatkan kampus impiannya. Ayah Garin ikut terbawa emosi, dan pada akhirnya menegur Garin yang terlalu egois akan pilihannya. Garin kecewa dan membanting pintu kamarnya.

    Pada akhirnya Garin tidak melanjutkan kuliah dan ia memutuskan untuk gap year selama setahun. Garin menghilang dari peredaran, ia menghapus seluruh foto di sosial medianya. Melakukan blok seluruh kontak teman-teman semasa SMAnya, keluar dari komunitas pencak silatnya. Di saat itu juga Garin sempat bertengkar dengan Siska perihal pilihan kuliahnya. Siska yang sudah kehabisan kesabaran menghadapi sifat Garin akhirnya memutuskan hubungannya dengan Garin. Garin semakin kecewa. Baru kali ini ia merasakan kegagalan sepanjang perjalanan karirnya yang teramat sangat mulus di awal.

    Garin mengambil sepeda motor ayahnya dan singgah di sebuah taman kota. Sambil menghela nafas ia mencoba merenungkan nasibnya yang berbanding terbalik saat masa-masa sekolah dulu. “Haaah, gua pengen balik ke masa lalu, masa depan ga seru, ia ga sih om?.” Ucap Garin kepada pria tua renta yang sedang duduk disampingnya. “Nggak juga dik, justru masa lalu lah yang membentuk saya menjadi siapa sekarang ini.” Jawab pria itu. “Ah, masa sih om? Saya ni baru aja gagal kuliah om, saya bakal nganggur setahun, mungkin lebih, om ga mau balik muda lagi ya?” Jawab Garin. “Itu tergantung kamu menyikapinya dik, kalau gagal, berarti ada yang perlu dievaluasi, kalaupun gagal lagi, tidak apa-apa yang penting kamu jangan menyerah, sama satu lagi, belajar mendengarkan nasihat orang tulus di sekitarmu, niscaya kamu akan berhasil.”  Jawab pria itu sambil tersenyum dan beranjak meninggalkan Garin. “Sombong amat, udah tua, miskin juga.” Gumam Garin dalam hati. Garin memperhatikan pria tua tadi berjalan dan dijemput oleh mobil pribadinya, banyak orang di sekitar yang mengenal pria tua tadi, mereka menyapa dengan sopan dan penuh hormat. Garin sempat bertanya-tanya siapa pria yang barusan bersamanya kepada salah satu orang. Ternyata pria tua itu adalah seorang konglomerat perusahaan ternama di Indonesia. Garin menjadi malu dan kasihan dengan dirinya sendiri, betapa rendah hatinya bapak tua itu, bahkan sampai mengira dia adalah pria gelandangan yang renta. Garin kembali merenung, ‘Ahh, tidak ada salahnya untuk gagal sekarang, masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri.” Garin pulang sambil tersenyum menatap masa depannya yang penuh harapan.

-by Caritas-


LihatTutupKomentar
Cancel

iklan 3