Perjalananku
-caritas-
Aku menyusuri perjalananku sepulang
sekolah, sambil menikmati pemandangan dan keramaian penduduk di sepanjang
perjalananku. Perjalananku ke sekolah tidak memakan waktu lama aku hanya
membutuhkan waktu selama 30 menit perjalanan ke sekolah dengan berjalan santai, namun apabila aku
berjalan cepat bisa menempuh waktu 15 menit saja. Aku tidak memakai sepeda
karena aku lebih senang berjalan kaki sendirian. Terkadang aku terpaksa memakai
sepeda jika aku terlambat datang ke sekolah. Aku saat ini duduk di bangku kelas
tiga SMA. Rata-rata temanku di sekolah memakai sepeda ke sekolah, bahkan yang
lebih mampu sudah berani membawa sepeda motor meskipun pada akhirnya mereka
menyewa parkir di sekitaran rumah penduduk lokal yang rumahnya tidak jauh dari
sekolah. Kutahu sebagian besar ke sekolah membawa sepeda motor karena gengsi,
sebagian lagi karena kebutuhan, yang memang rumahnya jauh dan orang tua sibuk
bekerja.
Aku bertanya-tanya dalam hatiku,
sebenarnya untuk apa akhirnya aku bersekolah, toh pada akhirnya aku akan
meneruskan dagangan ayahku di toko sembakonya. Begitu pesan ayahku ketika aku
besar nanti. Toko ayahku tidak terlalu besar, namun sangat ramai pembelinya,
setiap hari selalu saja ada pembeli dari dalam maupun luar kota yang datang
membeli barang kebutuhan pokok harian. Terkadang dari desa-desa datang membeli
sekaligus banyak dengan memakai mobil pick up. Aku sampai di lokasi pertama
perjalanan pulangku. Aku melewati trotoar sekolah, tempat para pedagang
kaki lima yang menjual dagangannya. Kulihat
pria paruh baya penjual batagor yang menjajakan makanannya. Kuliat lagi mas-mas
pedagang cireng yang sepi dagangannya yang mungkin lelah menunggu pembeli
sehingga ia tidak sesemangat bapak penjual batagor yang lumayan laris manis
dagangannya. Lalu aku berpikir, hmm berat juga ya jadi pedagang, kadang ramai,
kadang sepi. Namun buat apa mereka berdagang jika pada akhirnya tahu akan sepi
dagangannya? . Lebih baik mereka bekerja saja di perusahaan atau kantoran.
Kumelewati sebuah kantor swasta di
perjalananku. Sepertinya ini kantor
leasing, tempat orang melakukan kredit barang-barang. Tak sengaja kulihat dari
jauh karyawan disana yang sedang berbincang dengan rekannya. Sepertinya itu
atasannya. Aku tahu karena ekspresi karyawan itu menunduk segan atau sepertinya
takut. Karena rekannya yang seperti atasan itu seperti sedang mengomel dan
menegurnya. Ia menunjuk sebuah kertas yang aku tidak tahu apa itu isinya. Aku
sedikit menguping pembicaraan mereka. ‘Gimana sih kamu?!, apa yang harus gue
bilang sama bos ntar?! “ Yah sepertinya memang terjadi adegan marah-marah
antara atasan dan bawahannya. Aku tak ingin berlarut, kulewati lokasi itu,
kulanjutkan perjalananku.
Kulihat sebuah halte bis saat itu yang
sedang ramai dipenuhi para penumpang busway.
Sepertinya mereka para pekerja kantoran, sebagian besar memakai seragam
Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Wah ini pekerjaan idaman para mertua.” gumamku
dalam hati. Betapa gagahnya para pekerja itu dengan seragamnya. “Namun kok masih
naik Busway ya? Kenapa tidak beli mobil saja, kan’ gaji mereka besar” gumamku
lagi. Sepertinya mereka masih muda-muda ya, seperti seumuran kakakku. “Mungkin
lagi menabung kali ya, tapi kasihan juga harus pake Busway tiap hari, gak malu
ya padahal udah kerja begitu.” Kulihat satu orang yang menunggu di halte
mengusap peluh di kepalanya. Ia sepertinya cukup lelah juga hari itu. Lantas
aku beristihat juga di halte tersebut, sambil menikmati segelas kopi panas dari
pedagang keliling yang berjualan di emperan halte tersebut. Masih tersisa tiga
ribu rupiah uang jajanku hari itu. Aku duduk di halte sambil menikmati
perjalananku.
“Lagi rame bang dagangannya?” tanyaku
pada abang-abang penjual kopi keliling itu. “Lumayan mas, kalo di halte ini
mah’ saya biasanya jam segini mampir bentar, rame kan yak yang pulang
kantoran.” “Wah laris manis dong bang, tiap hari bisa kaya gini dong bang”
ucapku lagi. “Hehehe kagak juga mas, kadang juga sepi, tergantung juga, enggak
semua pada mau ngopi dan ngeteh disini.” “Hmmm, pernah ga laku sama sekali
bang” tanyaku. “Ga laku semua dulu pernah awal-awal jualan mas, kalo sekarang
mah, saya udah punya pelanggan tetap, saya juga bagi wilayah sama teman-teman
yang lain, jadi dah aman dah kalo mau jualan disini.” “Masnya beruntung lho bisa
sekolah, mas tetep lanjutin deh mas sampe kelar, minimal juga masnya bisa
kuliah bagus-bagus, biar enggak seperti saya mas, sekarang pada susah nyari
kerja, saya mah dulu sempat putus sekolah karena orangtua kagak mampu bayar.” Sambung abang penjual kopi tadi. “Oalah gitu
ya bang, aman bang, saya juga masih pengen sekolah kok bang. Makasih ya bang,
ini uang kopinya, semoga berkah bang.”
Aku menyerahkan sejumah uang tiga ribu rupiah kepada penjual kopi itu
dan melanjutkan perjalananku.
“Kasihan juga ternyata abangnya”
pikirku dalam hati. Aku adalah orang yang tidak setega itu jika mendengar kisah
hidup orang lain, sehingga aku melanjutkan kembali perjalananku. Perjalanan
pulangku hampir usai, ditandai dengan sebuah warnet (warung internet) di dekat
rumah yang biasanya ramai dikunjungi anak-anak sekolah sepulang sekolah. Aku
melihat sebagian besar anak dari SMA lain berkunjung di warnet itu. Saat itu
game online masih sangat booming di kalangan kami. Aku juga ingin mampir, namun
saat itu kulihat siswa SMA tersebut memakai seragam SMA yang berbeda denganku.
Itu adalah SMA Bhakti, yang merupakan SMA musuh dan rival SMA kami yang sering
tawuran. Aku bukan anak yang suka tawuran, dan syukurnya aku masih memakai baju
bebas, bukan seragam sekolah. Memang wilayah kami saat itu rawan sekali. Aku
berusaha tenang saja dan tidak ingin mengambil risiko, aku mengurungkan niatku
untuk bermain warnet hari itu. Toh juga sisa uang jajanku saat itu sudah
kuhabiskan untuk minum kopi barusan. Aku meneruskan perjalananku, dan benar
saja, gerombolan siswa dari SMA ku saat itu yang hobi tawuran menyerang anak
SMA Bhakti yang sedang bermain di warnet tersebut. Aku mempercepat langkahku,
tak ingin terlibat dengan kerusuhan itu. Parah benar kehidupan SMA di perkotaan
ini. Syukurnya aku tidak bergaul dengan geng sekolah yang pekerjaannya hanya
bikin rusuh kota saja. Aku yakin hasil kerusuhan kali ini jika tidak luka-luka,
pasti ada yang meninggal, atau ada juga yang ditangkap polisi. Pemicu nya pasti
hanyalah sebuah harga diri bodoh yang mereka pegang dan pertahankan, dengan
embel-embel bawa nama sekolah, atau mungkin karena masalah perempuan. Dalam
hati ku “dasar goblok, beban bangsa dan negara.”
Sontak aku ingat sepanjang perjalanan
pulang tadi kalau ada banyak hal yang kulihat. Bahkan akhirnya aku tersadar
untuk apa aku bersusah-susah sekolah di sini. Bukan hanya sekedar meneruskan
dagangan sembako ayahku, namun ada tujuan yang lebih besar lagi supaya aku bisa
menjadi manusia seutuhnya yang bertanggung jawab atas hidupku dan bisa menolong
orang di sekitarku. Aku sadar pekerjaan susah dicari, dapat pun belum tentu
cocok. Meneruskan usaha ayahku adalah priviledge yang aku miliki sejak lahir
yang sudah dirintis ayahku sejak awal. Aku cukup meneruskan dan menjaga apa
yang sudah dirintis ayahku. Tak mudah juga merintis usaha jika belum ada
pelanggan tetap maupun sistem yang tepat dan karyawan yang tepat. Dari pada aku
membuang waktu buat rusuh di tawuran lebih baik aku fokus pada pendidikanku dan
menikmati alurnya hingga selesai.