iklan 1

Perjalananku

 



Perjalananku

-caritas-

          Aku menyusuri perjalananku sepulang sekolah, sambil menikmati pemandangan dan keramaian penduduk di sepanjang perjalananku. Perjalananku ke sekolah tidak memakan waktu lama aku hanya membutuhkan waktu selama 30 menit perjalanan ke sekolah  dengan berjalan santai, namun apabila aku berjalan cepat bisa menempuh waktu 15 menit saja. Aku tidak memakai sepeda karena aku lebih senang berjalan kaki sendirian. Terkadang aku terpaksa memakai sepeda jika aku terlambat datang ke sekolah. Aku saat ini duduk di bangku kelas tiga SMA. Rata-rata temanku di sekolah memakai sepeda ke sekolah, bahkan yang lebih mampu sudah berani membawa sepeda motor meskipun pada akhirnya mereka menyewa parkir di sekitaran rumah penduduk lokal yang rumahnya tidak jauh dari sekolah. Kutahu sebagian besar ke sekolah membawa sepeda motor karena gengsi, sebagian lagi karena kebutuhan, yang memang rumahnya jauh dan orang tua sibuk bekerja.

          Aku bertanya-tanya dalam hatiku, sebenarnya untuk apa akhirnya aku bersekolah, toh pada akhirnya aku akan meneruskan dagangan ayahku di toko sembakonya. Begitu pesan ayahku ketika aku besar nanti. Toko ayahku tidak terlalu besar, namun sangat ramai pembelinya, setiap hari selalu saja ada pembeli dari dalam maupun luar kota yang datang membeli barang kebutuhan pokok harian. Terkadang dari desa-desa datang membeli sekaligus banyak dengan memakai mobil pick up. Aku sampai di lokasi pertama perjalanan pulangku. Aku melewati trotoar sekolah, tempat para pedagang kaki  lima yang menjual dagangannya. Kulihat pria paruh baya penjual batagor yang menjajakan makanannya. Kuliat lagi mas-mas pedagang cireng yang sepi dagangannya yang mungkin lelah menunggu pembeli sehingga ia tidak sesemangat bapak penjual batagor yang lumayan laris manis dagangannya. Lalu aku berpikir, hmm berat juga ya jadi pedagang, kadang ramai, kadang sepi. Namun buat apa mereka berdagang jika pada akhirnya tahu akan sepi dagangannya? . Lebih baik mereka bekerja saja di perusahaan atau kantoran.

          Kumelewati sebuah kantor swasta di perjalananku. Sepertinya ini  kantor leasing, tempat orang melakukan kredit barang-barang. Tak sengaja kulihat dari jauh karyawan disana yang sedang berbincang dengan rekannya. Sepertinya itu atasannya. Aku tahu karena ekspresi karyawan itu menunduk segan atau sepertinya takut. Karena rekannya yang seperti atasan itu seperti sedang mengomel dan menegurnya. Ia menunjuk sebuah kertas yang aku tidak tahu apa itu isinya. Aku sedikit menguping pembicaraan mereka. ‘Gimana sih kamu?!, apa yang harus gue bilang sama bos ntar?! “ Yah sepertinya memang terjadi adegan marah-marah antara atasan dan bawahannya. Aku tak ingin berlarut, kulewati lokasi itu, kulanjutkan perjalananku.

          Kulihat sebuah halte bis saat itu yang sedang ramai dipenuhi para penumpang busway.  Sepertinya mereka para pekerja kantoran, sebagian besar memakai seragam Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Wah ini pekerjaan idaman para mertua.” gumamku dalam hati. Betapa gagahnya para pekerja itu dengan seragamnya. “Namun kok masih naik Busway ya? Kenapa tidak beli mobil saja, kan’ gaji mereka besar” gumamku lagi. Sepertinya mereka masih muda-muda ya, seperti seumuran kakakku. “Mungkin lagi menabung kali ya, tapi kasihan juga harus pake Busway tiap hari, gak malu ya padahal udah kerja begitu.” Kulihat satu orang yang menunggu di halte mengusap peluh di kepalanya. Ia sepertinya cukup lelah juga hari itu. Lantas aku beristihat juga di halte tersebut, sambil menikmati segelas kopi panas dari pedagang keliling yang berjualan di emperan halte tersebut. Masih tersisa tiga ribu rupiah uang jajanku hari itu. Aku duduk di halte sambil menikmati perjalananku.

          “Lagi rame bang dagangannya?” tanyaku pada abang-abang penjual kopi keliling itu. “Lumayan mas, kalo di halte ini mah’ saya biasanya jam segini mampir bentar, rame kan yak yang pulang kantoran.” “Wah laris manis dong bang, tiap hari bisa kaya gini dong bang” ucapku lagi. “Hehehe kagak juga mas, kadang juga sepi, tergantung juga, enggak semua pada mau ngopi dan ngeteh disini.” “Hmmm, pernah ga laku sama sekali bang” tanyaku. “Ga laku semua dulu pernah awal-awal jualan mas, kalo sekarang mah, saya udah punya pelanggan tetap, saya juga bagi wilayah sama teman-teman yang lain, jadi dah aman dah kalo mau jualan disini.” “Masnya beruntung lho bisa sekolah, mas tetep lanjutin deh mas sampe kelar, minimal juga masnya bisa kuliah bagus-bagus, biar enggak seperti saya mas, sekarang pada susah nyari kerja, saya mah dulu sempat putus sekolah karena orangtua kagak mampu bayar.”  Sambung abang penjual kopi tadi. “Oalah gitu ya bang, aman bang, saya juga masih pengen sekolah kok bang. Makasih ya bang, ini uang kopinya, semoga berkah bang.”  Aku menyerahkan sejumah uang tiga ribu rupiah kepada penjual kopi itu dan melanjutkan perjalananku.

          “Kasihan juga ternyata abangnya” pikirku dalam hati. Aku adalah orang yang tidak setega itu jika mendengar kisah hidup orang lain, sehingga aku melanjutkan kembali perjalananku. Perjalanan pulangku hampir usai, ditandai dengan sebuah warnet (warung internet) di dekat rumah yang biasanya ramai dikunjungi anak-anak sekolah sepulang sekolah. Aku melihat sebagian besar anak dari SMA lain berkunjung di warnet itu. Saat itu game online masih sangat booming di kalangan kami. Aku juga ingin mampir, namun saat itu kulihat siswa SMA tersebut memakai seragam SMA yang berbeda denganku. Itu adalah SMA Bhakti, yang merupakan SMA musuh dan rival SMA kami yang sering tawuran. Aku bukan anak yang suka tawuran, dan syukurnya aku masih memakai baju bebas, bukan seragam sekolah. Memang wilayah kami saat itu rawan sekali. Aku berusaha tenang saja dan tidak ingin mengambil risiko, aku mengurungkan niatku untuk bermain warnet hari itu. Toh juga sisa uang jajanku saat itu sudah kuhabiskan untuk minum kopi barusan. Aku meneruskan perjalananku, dan benar saja, gerombolan siswa dari SMA ku saat itu yang hobi tawuran menyerang anak SMA Bhakti yang sedang bermain di warnet tersebut. Aku mempercepat langkahku, tak ingin terlibat dengan kerusuhan itu. Parah benar kehidupan SMA di perkotaan ini. Syukurnya aku tidak bergaul dengan geng sekolah yang pekerjaannya hanya bikin rusuh kota saja. Aku yakin hasil kerusuhan kali ini jika tidak luka-luka, pasti ada yang meninggal, atau ada juga yang ditangkap polisi. Pemicu nya pasti hanyalah sebuah harga diri bodoh yang mereka pegang dan pertahankan, dengan embel-embel bawa nama sekolah, atau mungkin karena masalah perempuan. Dalam hati ku “dasar goblok, beban bangsa dan negara.”

          Sontak aku ingat sepanjang perjalanan pulang tadi kalau ada banyak hal yang kulihat. Bahkan akhirnya aku tersadar untuk apa aku bersusah-susah sekolah di sini. Bukan hanya sekedar meneruskan dagangan sembako ayahku, namun ada tujuan yang lebih besar lagi supaya aku bisa menjadi manusia seutuhnya yang bertanggung jawab atas hidupku dan bisa menolong orang di sekitarku. Aku sadar pekerjaan susah dicari, dapat pun belum tentu cocok. Meneruskan usaha ayahku adalah priviledge yang aku miliki sejak lahir yang sudah dirintis ayahku sejak awal. Aku cukup meneruskan dan menjaga apa yang sudah dirintis ayahku. Tak mudah juga merintis usaha jika belum ada pelanggan tetap maupun sistem yang tepat dan karyawan yang tepat. Dari pada aku membuang waktu buat rusuh di tawuran lebih baik aku fokus pada pendidikanku dan menikmati alurnya hingga selesai.


LihatTutupKomentar
Cancel

iklan 3